
Lisa yang sudah terlihat kesal, langsung aja ia geratakan untuk mengobrak-abrik isi mobil Dion. Serta Lisa juga langsung menyalakan musik dari mobil Dion agar sedikit membuat suasana hatinya yang kesal itu merasa tenang.
Tetapi Dion malah hanya melirik sambil menggelengkan kepalanya dan melihat tingkah Lisa yang terkadang membuat Dion pusing, cuma entah kenapa malah membuat perasaannya semakin dalam. Sampai seketika akhirnya mereka pun sampai di suatu tempat yang mana di sana suasananya begitu menyeramkan.
Bahkan tidak ada satu lampu pun yang menerangi jalan mereka sehingga Lisa yang melihatnya pun ia menjadi sangat ketakutan. Tubuh Lisa bergetar melihat sekelilingnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri dengan keadaan yang begitu cemas.
“Pa-Pak Di-Dion, ka-kau mau ngapain? Ke-kenapa ki-kita ada di te-tempat gelap se-seperti ini? A-apa jangan-jangan kau ma-mau me-memperkosaku?” ujar Lisa dengan nada terbata-batanya sambil dia menatap Dion dengan tatapannya yang penuh ketakutan.
“Ohh jadi, kamu ingin di perkosa heem... oke baiklah...” jawab Dion dengan mata genitnya yang ia tujukan ke Lisa untuk menggodanya.
Bahkan tubuhnya Dion pun sudah mulai hampir mendekati wajah Lisa, sampai membuat Lisa pun harus memundurkan duduknya bahkan sudah begitu mentok.
“Ka-kau ja-jangan macam-macam yaa... a-atau a-aku a-akan... a-akan...” ucapan Lisa terhenti saat tangan Dion terarah untuk mengusap lembut wajahnya Lisa yang membuat tubuh Lisa menegang dalam keadaan mata melotot.
“Atau apa sayang, fiiiuuh...” Dion meniup pelan mata Lisa yang membuatnya pun semakin menegang hingga Lisa tak lagi bisa berkutik, namun di dalam hati Dion malah tertawa saat berhasil menggoda Lisa yang kini wajahnya terlihat begitu menggemaskan.
“Ka-kau...” geram Lisa dengan suaranya yang begitu lirih.
Bahkan kini hidung mereka sudah saling bersentuhan yang membuat Lisa sangat terkejut dan juga wajahnya begitu merah menahan malu. Sedangkan Dion, satu tangannya terarah untuk mencari benda yang saat ini menjadi tujuan utamanya.
Ceklek !...
Tangan Dion berhasil membuka pengait sabuk pengaman yang ada di tubuhnya Lisa, kemudian Dion pun kembali pada posisi duduk awalnya. Walaupun Dion sendiri hampir saja terpancing dengan aksinya yang berusaha menggoda Lisa, namun pada akhirnya Dion pun berhasil menahan semua hawa nafsunya untuk menjaga Lisa.
“Ekhem... ekhem...” Dion berdehem yang membuat Lisa langsung tersadar dan ia mencoba untuk membenarkan gaunnya dengan penuh salah tingkahnya.
“Pa-Pak Dion mau mengerjai saya yaa...” ucap Lisa sambil menatap Dion dengan wajah yang sudah memerah.
“Sudahlah jangan banyak berbicara lagi, ayo kita turun sekarang!” titah Dion yang kini sudah membuka pintu mobilnya dan langsung keluar.
Suasana di sekitar mereka sangat gelap, dan hanya ada cahaya dari lampu mobil Dion yang menyorot terang ke depan. Sedangkan sisi kanan, kiri dan belakang mereka semuanya terlihat benar-benar gelap.
__ADS_1
Lisa merasa sedikit ketakutan, tapi pada akhirnya dia dengan perlahan membuka pintu mobil dan Lisa segera keluar serta langsung berjalan pergi mendekati Dion dengan wajah yang sangat panik.
“Pa-Pak... i-ini dimana? Ke-kenapa di sini ge-gelap sekali... a-apa tidak a-ada yang bisa membayar listrik sampai-sampai di sini tak ada penerangan sekali pun ya... terus kenapa juga Pak Dion tidak bawa Lisa ke Mall atau ke Cafe gitu atau bawa ke Restoran kek yang romantis gitu... Ini malah di bawa ke tempat gelap seperti ini..."
"Padahal Pak Dion sendiri yang bilang mau membawaku ke suatu tempat jadi aku harus dandan cantik, tapi sekarang? Pak Dion malah membawaku ke tempat yang menyeramkan gini. Tahu gini mah aku ogah banget... mendingan di rumah aja bisa rebahan dari pada begini..."
"Bagaimana jika ada orang jahat yang tiba-tiba merampok kita terus mereka membunuh dan memutilasi? Huuaaaa... tidak, tidak, tidak!!! Aku tidak mau mati dulu, aku mau merasakan menikah itu seperti apa. Jika sudah merasakannya ya gapapa kalau aku mati, yang penting mati masuk surga hehe...”
Celoteh Lisa yang membuat Dion hanya menatapnya dengan tatapan aneh, serta tangannya Dion langsung terarah untuk menyentuh dahi Lisa secara perlahan.
“Tidak panas kok ini...” ujar Dion sambil menurunkan tangannya.
“Yaakk... kau kira aku ini sudah gila apa, hahh!” pekik Lisa karena dia tidak terima saat Dion menganggap dirinya terkena gangguan stres yang berlebihan.
“Jangan berisik, pakai ini!” perintah Dion sambil dia mengeluarkan kain kecil yang sedari tadi sudah bersemayam di dalam saku celananya Dion.
Lisa pun menatap kain tersebut dengan tatapan aneh, sambil Lisa juga melirik ke arah Dion yang terlihat sangat datar.
“Tutup matamu pakai itu, habis itu ikuti perintahku paham kan?” titah Dion yang semakin membuat Lisa bingung.
“Astaga... Pak Dion sudah gila kah! Atau mata Pak Dion rabun? Sudah tahu di sini gelap, ehh... ini malah suruh tutup mata segala.... di kata di sini lagi ada adegan romantis kali” celetuk Lisa dengan nada sedikit kesal.
“Ckk... lama... sudahlah sini!” sahut Dion yang langsung saja menutup mata Lisa menggunakan kain tersebut.
“Yaaakkk... Pak Dion lepasin tidak, atau aku akan teriak niih...” pekik Lisa sambil mencoba melepaskan kain yang saat ini sudah berhasil menutupi matanya Lisa dengan keadaan kedua tangan di cekal ke belakang oleh Dion karena gemas.
“Teriak saja yang kencang... lagian juga tidak akan ada yang dengar kok. Kalau sampai kau buka penutup mata ini, aku akan melakukan hal yang nekat padamu paham? Apa lagi di sini sangatlah gelap, sepi, dan juga sunyi ya sudah pasti akan mudah bagimu agar bisa membuatmu mende*sah di bawah kungkunganku”
Dion berbicara kecil tepat di telinga Lisa, yang kini membuat Lisa pun diam dalam keadaan tegang sambil tangan Dion pun melepaskan cekalannya dan Dion malah menggandeng tangannya Lisa dengan lembut.
“Tenang saja... aku cuma bercanda kok, yang penting kamu ikuti perintahku. Aku jamin kok kalau kau pasti bakalan suka dengan tempat itu...” ucap Dion dengan lembut.
__ADS_1
“B-baiklah... ta-tapi ja-jangan tinggalkan aku ya... aku takut gelaapp...” jawab Lisa dengan suara yang sedikit ketakutan.
“Aku di sini untukmu, jadi buanglah rasa takutmu itu... percayalah jika aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Lisaaa...” Dion menggenggam tangan Lisa dengan begitu erat sampai membuat Lisa pun tersenyum dan hanya menganggukkan kepalanya.
Kemudian Dion menuntun Lisa secara perlahan menjauhi mobilnya, dan tidak membutuhkan waktu yang lama mereka berdiri tepat di tempat yang mana Dion langsung membuka kain penutup mata Lisa.
“Loh kok masih gelap sih? Kalau begini mah ngapain coba pakai penutup mata segala, buang-buang waktu saja...” ucap Lisa dengan ketus sambil melipat kedua tangannya itu di depan dadanya dalam keadaan wajah cemberut, sedangkan Dion hanya bisa tersenyum penuh arti.
“Uhukk.. uhukk..” Dion terbatuk dan membuat semua lampu di sana menyala sangat terang bahkan terlihat pemandangan yang begitu indah.
Di sana terdapat meja makan kecil yang di atasnya sudah tersaji makanan serta minuman yang enak. Bahkan disana pun juga ada papan bertuliskan logo
...Will You Marry Me?...
Lisa terkejut bukan main, ia benar-benar sangatlah terkejut, lantaran dia melihat pemandangan yang awalnya itu sangat gelap hanya dalam kedipan mata semua itu berubah menjadi tempat yang begitu indah dan juga sangat romantis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih sepi nih 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja ya... 🤭🤭🤭
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... 🤗🤗🤗
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻