
Saat ini lampu sudah berubah menjadi hijau sehingga ini waktunya bagi mobil mereka kembali melaju di jalanan.
Suci merasa sedih dan dia pun menatap ke arah belakang di mana badut itu berada. Lalu Suci menatap Arsya dengan wajah kesalnya dan langsung saja Suci memalingkan pandangannya dari Arsya.
Selama di perjalanan itu, Suci hanya diam saja dan Arsya juga yang tidak mau mengajak Suci berbicara. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah dan Suci langsung keluar dari mobil begitu saja meninggalkan Arsya di dalam mobil.
Bunda Reni yang lainnya merasa heran kenapa Suci tiba-tiba kesal seperti itu, padahal selama di panti asuhan Suci terlihat bahagia.
“Arsya, apa yang terjadi pada Suci? Kenapa Suci terlihat kesal seperti itu? Apa yang sudah kamu lakukan padanya sampai dia langsung masuk begitu saja tanpa menunggumu dan kita semua” ucap Bunda Reni sambil menatap pintu rumah yang terbuka lebar.
“Arsya juga tidak tahu Bunda, Suci tiba-tiba marah dan dia juga dari tadi diam aja di dalam mobil. Mungkin ini kali yang namanya mood swing dari wanita hamil” ucap Arsya yang langsung saja berjalan memasuki rumah.
Bunda Reni, Ayah Al, Dion, Lisa dan Xan juga ikut masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang campur aduk.
Mereka bingung tapi juga tidak ya mau bagaimana pun seorang Ibu hamil memang memiliki mood yang sering berubah-ubah jadi mereka merasa bahwa hal ini adalah hal yang wajar.
Lalu mereka semua berjalan memasuki ruang tamu dan mereka melihat Suci yang duduk sambil melipat kedua tangannya di dada.
Arsya lalu duduk di samping kiri Suci dan Bunda Reni yang duduk di samping kanan Suci serta Ayah Al yang duduk di sampingnya Bunda Reni. Sementara yang lainnya duduk di sofa lainnya yang ada di sana.
“Ada apa sayang... kenapa kamu tiba-tiba merasa kesal seperti ini. Ayo cerita sama Bunda ada apa sebenarnya hemm... apakah putra Bunda yang di sebelahmu itu melakukan sesuatu yang membuatmu kesal?” ucap Bunda Reni dengan nada lembutnya.
__ADS_1
“Kenapa Bunda jadi menyalahkan semuanya pada Arsya sih... kan Suci kesal juga bukan karena Arsya, tapi karena badut jelek yang ada di lampu merah tadi” Arsya kesal yang langsung saja duduk tegak menatap ke depan.
“Ini semua karena Mas Arsya sangat menyebalkan. Kenapa Mas Arsya enggak mau pakai baju badut dan joget-joget kayak badut yang tadi. Padahal kan Suci pengen banget liat Mas Arsya joget-joget pakai baju badut kayak gitu hiks... Mas Arsya menyebalkan” Suci pun mulai menangis dan Arsya yang tidak tega langsung menatap Suci.
“Jangan menangis sayang... a-aku minta ma-maaf deh kalau sudah bikin kamu kesel, tapi jangan nangis ya... kasihan loh nanti anak kita ikutan sedih kalau Mommynya sendiri menangis seperti ini” ucap Arsya sambil menghapus air mata Suci.
“Kalau kamu tidak mau Suci menangis lagi, ya sudah kamu turuti saja semua keinginan Suci. Memangnya apa salahnya jika kamu pakai baju badut dan joget-joget? Lagi pula kamu melakukan semua ini kan demi calon anakmu sendiri” ucap Ayah Al dengan wajah datarnya.
Padahal Ayah Al ingin sekali tertawa saat mendengar perkataannya Suci, namun dia menahannya karena tidak ingin membuat Arsya semakin malu.
Sementara yang lainnya juga mencoba menahan tawa mereka, sedangkan Arsya tidak menyadarinya dan hanya menatap Suci dan menghapus air matanya.
“Sudahlah Tuan ikuti saja apa yang Suci inginkan, untuk masalah kostum badutnya nanti biar saya yang siapkan. Memangnya Suci mau badut yang seperti apa? Nanti aku akan menyiapkan apa pun yang Suci inginkan” ucap Dion sambil menatap Arsya dengan sedikit seringai.
“Mas Arsya juga harus pakai wig rambut keriting warna merah terus mukanya di kasih bedak yang banyak biar jadi putih. Wajah Mas Arsya juga nanti di kasih bibir merah di kedua pipi, hidung dan bibirnya. Membayangkannya saja sudah pasti Mas Arsya terlihat lucu sekali hihi...”
Suci tertawa sambil membayangkan penampilannya Arsya dengan pakaian dan dandanan yang Suci deskripsikan.
Tentu saja semua yang mendengarnya ikut tertawa sambil membayangkan Arsya berpenampilan seperti badut jalanan. Sementara Arsya hanya bisa menahan emosi dan rasa malunya yang mana harus dia tahan.
Arsya tidak mau membuat Suci jadi sedih lagi dan bahkan sampai menangis jika Arsya menolak permintaan Suci.
__ADS_1
Arsya tidak mau jika kondisi Suci dan kandungannya jadi melemah lagi karena terlalu sering merasa sedih dan menangis. Akhirnya Arsya pun hanya bisa menghela napas berat dan menyetujui permintaan istrinya yang sedang hamil itu.
“Haahh... Baiklah kalau itu yang kamu mau, aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan” ucap Arsya dengan pasrah dan langsung saja membuat Suci merasa sangat senang.
Tanpa di sadari Suci langsung saja mengecup bibirnya Arsya di depan semua orang yang mana membuat semua orang terkejut terutama Arsya.
Suci lalu memeluk Arsya yang saat ini hanya duduk terdiam seperti patung dengan wajahnya yang sangat memerah. Sementara yang lainnya hanya bisa tersenyum penuh arti sambil menatap Arsya dan Suci.
“Terima kasih Mas Arsya, kamu adalah suami terbaik di dunia. Nanti Mas Arsya harus joget-joget yang meriah ya, terus kalian semua juga harus ikut berjoget dengan Mas Arsya. Kalian semua mau kan...” ucap Suci sambil menatap semuanya dengan tetap memeluk Arsya.
“Hehehe... Rasakan itu kalian semua, siapa suruh kalian berani menertawakan aku. Sekarang giliran kalian untuk merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Selamat bergabung dalam momen memalukan dalam hidup kalian hehehe...” tawa Arsya di dalam hatinya sambil memberikan senyuman penuh arti.
Bunda Reni dan Ayah Al hanya bisa menatap satu sama lain dengan wajah yang tidak percaya. Sementara Dion, Lisa dan Xan hanya bisa menelan ludah mereka dengan segala kesulitan karena mereka tidak menyangka bahwa mereka akan ikut tenggelam dalam keinginan aneh dan memalukannya Suci serta anak dalam kandungannya.
“Yeyyy... apa kamu lihat itu sayang, mereka semua akan berjoget demi dirimu. Mommy tidak sabar deh melihat Daddymu pakai baju badut dan semuanya yang ikutan joget-joget bersama dengan Daddymu nanti hihi...” ucap Suci sambil mengelus-elus perutnya sendiri.
“Jangan lupa carikan kostum untuk Mas Arsya seperti yang aku inginkan ya Mas Dion. Kalau mau Mas Dion juga boleh kok pakai kostum yang sama dengan Mas Arsya tapi warnanya biru ya biar beda dengan Mas Arsya hihi...” ucap Suci sambil tersenyum menatap Dion.
“Itu benar sekali. Dion juga harus memakai kostum badut yang sama sepertiku. Semakin banyak badutnya maka semakin meriah, benarkan sayang...” ucap Arsya sambil mengelus-elus perut Suci yang di balas tendangan kecil dari anak yang ada dalam kandungan Suci.
“Horree... Suci jadi tidak sabar deh mau melihat Mas Arsya dan Mas Dion joget-joget bersama sambil memakai kostum badut yang lucu. Nanti Suci akan rekam semuanya biar bisa jadi kenang-kenangan saat anak kita lahir nanti. Suci tidak sabar deh melihat kalian semua joget-joget bersama hihi...” tawa Suci pecah sambil semua orang ikut tertawa kecuali Arsya dan Dion.
__ADS_1
Dion hanya duduk terdiam sambil menyesali dirinya yang sempat menawarkan diri akan menyewa kostum badut untuk Arsya yang membuat dirinya ikut tenggelam di dalamnya.