
Sedangkan Mamah Mita dan Vina yang mendengar perkataan Elsa itu, mereka hanya bersikap biasa saja.
Bahkan mereka juga tidak berniat sedikit pun untuk mencegah atau melarang Elsa untuk ikut serta dalam kontes kecantikan yang mengharuskannya pergi selama 1 bulan lamanya meninggalkan suami dan juga anaknya.
“Ayolah Mas... tolong izinkan aku ikut kontes kecantikan ini. Lagi pula aku juga Cuma tinggal di sana selama 1 saja kok tidak lebih. Aku juga bisa selalu mengirimkan asi setiap hari untuk Bany Diva nantinya” ucap Elsa sambil memohon-mohon.
“Tidak artinya tidak! Jika kamu masih berniat untuk ikut kontes itu, maka semua kartu ATM dan kartu kredit kamu akan aku sita. Kamu juga tidak boleh menggunakan mobil yang aku belikan untukmu, paham!” tegas Dimas dengan suara dinginnya.
“Ciihh... kalau semua uangku dan juga mobil itu di sita, lalu bagaimana aku bisa menikmati hidup mewah. Kalau seperti ini sama saja aku yang buntung, lebih baik untuk sekarang aku mengalah saja” gerutu Elsa di dalam hatinya.
“Ya sudah deh jika Mas tidak mengizinkan, kalau begitu aku tidak jadi ikut kontes kecantikan. Tapi nanti saat Baby Diva sudah sedikit lebih besar, aku boleh kan ikut kontes kecantikan nantinya kalau ada?” tanya Elsa yang masih tidak mau percaya.
“Kita lihat saja nanti. Aku sudah kenyang, jadi aku akan berangkat kerja sekarang. Tuan putrinya Ayah baik-baik ya di rumah, jangan buat Oma kelelahan yaa...” ucap Dimas sambil berdiri dan mencubit kecil pipi Baby Diva.
Dimas lalu mencium kening Baby Diva yang mana membuat Baby Diva tertawa geli. Kemudian Dimas berjalan pergi dari sana menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.
Bahkan Dimas tidak berpamitan kepada Elsa ataupun Mamah Mita, dia hanya berpamitan dengan Baby Diva.
Mamah Mita pun tidak peduli lagi dengan semua itu karena selama beberapa bulan terakhir ini, hubungan keluarga mereka semakin merenggang.
Bahkan tidak ada lagi yang namanya waktu keluarga di rumah tersebut di saat semua orang libur dari kegiatan mereka masing-masing.
Sekarang Elsa, Mamah Mita dan Vina melanjutkan sarapan mereka bersama sambil Baby Diva yang duduk di kursi khusus bayi miliknya.
Setelah selesai sarapan, Vina pamit untuk pergi ke kampusnya pada mereka tapi kenyataannya Vina malah pergi bermain dengan teman-temannya.
__ADS_1
Akibat rayuan teman-temannya, membuat Vina menjadi anak yang terlalu bebas. Dia sering bolos kuliah dan bahkan pernah membully salah satu teman kuliahnya karena berani untuk menasihati Vina saat dia mencoba untuk melakukan kecurangan saat ujian bulan lalu.
Di sebuah Kafe yang tidak jauh dari kampusnya Vina, terdapat Bray dan teman-temannya sedang berkumpul. Vina berjalan mendekati mereka dengan pakaiannya yang sangat terbuka karena dia sudah membawa baju ganti dari rumah.
Saat berangkat dari rumah, Vina menggunakan pakaian tertutup karena jika tidak maka Dimas akan memarahinya.
Itu sebabnya Vina membawa baju ganti yang sangat terbuka sehingga dia pergi berganti baju sebelum bertemu teman-temannya karena dia tidak mau di anggap sebagai anak jaman old.
“Hai semuanya... maaf ya aku sedikit terlambat karena tadi macet banget di perjalanan. Ohh iya, kalian sudah pesan semua? Kenapa kalian tidak menunggu sampai aku datang?” ucap Vina sambil duduk di kursi samping Bray.
“Tenang saja sayang, aku sudah memesankan makanan favoritmu. Mungkin sebentar lagi makanannya akan segera sampai. Ohh... itu dia pelayan datang membawakan makanan untukmu” ucap Bray sambil merangkul pinggul Vina.
Seorang pelayan datang dan menyajikan makanan yang Bray pesan sebelumnya untuk Vina.
Lalu Vina pun merasa senang dan dia langsung saja mencium pipi Bray begitu saja tanpa memperhatikan sekelilingnya. Bray juga tidak mau kalah, tapi dia malah mengecup kecil bibir Vina yang membuat Vina merasa malu.
Bahkan sepertinya sekarang Vina dan Bray sudah tidak memikirkan bagaimana pandangan orang-orang saat melihat mereka.
Lalu mereka semua mulai makan dan membicarakan banyak hal, sampai-sampai mereka lupa waktu.
Bahkan mereka sudah menghabiskan waktu 2 jam di Kafe tersebut, lalu mereka pindah ke tempat tongkrongan lainnya seperti tidak ada waktu bagi mereka untuk istirahat.
Kini mereka semua sudah berpisah dari satu sama lain dan hanya menyisakan Bray dan Vina yang duduk di bangku taman.
Mereka duduk di bawah pohon yang sangat besar dengan posisi Vina yang duduk di depannya Bray. Bahkan lokasi mereka berada di tempat yang sangat jarang di kunjungi banyak orang.
__ADS_1
“Sayang... kita main di sini yuk, sebentar saja kok soalnya aku lagi pengen nih... kita juga sudah lama tidak melakukannya karena kamu sedang datang bulan waktu itu. Kita main ya, please...” Bray memeluk Vina dari belakang sambil memohon.
“Tapi ini tempat umum Bray, aku tidak mau melakukan sesuatu di tempat umum. Lagi pula memangnya kamu bawa pengaman apa? Aku tidak mau ya kalau harus memakan obat untuk mencegah sesuatu” ucap Vina sambil menoleh ke belakang.
“Kalau begitu bagaimana jika kita pergi ke Motel? Di sana mereka menyediakan benda itu jadi kamu tidak usah khawatir ya. Lagi pula aku juga masih belum mau memiliki anak untuk saat ini” ujar Bray sambil mengecup sekilas bibir Vina.
“Haahh... kamu ini selalu saja ingin melakukan hal itu. Sekali kita melakukannya, pasti kami tidak akan merasa puas dengan mudah. Apa kamu tahu kalau pinggangku selalu terasa sakit setiap kali kita melakukan itu. Kamu tidak merasakannya makanya kamu selalu menginginkannya” geram Vina yang langsung memalingkan wajahnya.
“Tapi kamu tetap suka bukan? Lagi pula di saat aku masih belum puas, kamu juga sama sepertiku. Jadi bagaimana aku bisa benar-benar berhenti saat kamu sendiri juga tidak sungguh-sungguh ingin kita berhenti. Sudahlah, lebih kita pergi sekarang agar kamu bisa istirahat jika nanti kelelahan”
Bray langsung berdiri sambil membantu Vina untuk berdiri, lalu mereka pun berjalan menjauhi taman sambil Bray yang merangkul pinggulnya Vina.
Bahkan orang-orang di sekitar taman hanya berpikir jika mereka berdua adalah pasangan pengantin baru, karena kedekatan mereka yang tidak biasa.
“Waaahhh... seperti mereka itu pasangan pengantin baru yang sedang bulan madu di sini. Lihatlah mereka itu, selalu menempel dan tidak mau lepas dari satu sama lain hihi...”
“Benar sekali, bahkan suaminya saja selalu memeluk istrinya dan memelototi pria yang mencoba untuk menatap istrinya. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok dan lucu yaaa...”
“Mereka sama seperti diriku dengan suamiku saat kami masih muda hihi... suamiku selalu saja tidak mau jauh dariku dan mudah merasa cemburu saat ada pria lain yang mencoba mendekatiku, rasanya jadi nostalgia hihi...”
“Semoga saja mereka bisa hidup bahagia dan memiliki banyak anak. Akan bagus jika anak mereka nanti mirip seperti mereka, sang Ibu yang cantik dan sang Ayah yang juga tampan rupawan”
Itulah bisik-bisik para pengunjung taman di sana yang kebanyakan adalah Ibu-Ibu dan anak-anak mereka. Semua orang menatap kedekatan Bray dan Vina layaknya sepasang pengantin baru.
Di saat yang bersamaan orang-orang juga mulai mendoakan semoga mereka memiliki keluarga kecil mereka yang penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Namun Vina dan Bray tidak mempedulikan semua pandangan orang-orang pada mereka.
Bagi Vina dan Bray, selama mereka bahagia maka mereka tidak akan mempermasalahkan pandangan orang-orang pada mereka. Sampai seketika mereka sampai di depan pintu masuk Motel dan mereka pun memesan sebuah kamar.