
Arsya lalu berjalan mendekati Suci dan duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya di bahunya Suci yang mana membuat Suci terkejut dan langsung menatap Arsya. Lalu Arsya pun mengambil kesempatan tersebut untuk mencium bibir manisnya Suci yang mana membuat Suci membolakkan kedua matanya.
Semakin lama ciuman mereka semakin dalam dan membuat Suci kesulitan bernapas sehingga dia memukul-mukul kecil dadanya Arsya. Melihat jika Suci kesulitan bernapas, lalu Arsya menghentikan ciumannya dan mengelap bibirnya Suci dengan ibu jarinya.
"Kita sudah sering berciuman tapi kamu masih saja tidak terbiasa hihi... kalau seperti ini aku jadi takut kalau kamu bisa pingsan hanya dari berciuman denganku" goda Arsya yang mana membuat Suci semakin kesal dan kembali memukuli dadanya Arsya.
Di saat mereka sedang menikmati waktu bersama mereka, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang mana membuat mereka berhenti bercanda. Lalu terdengar suara yang sangat tidak asing dari balik pintu kamar mereka.
"Sayang... sarapan sudah siap, kenapa kalian belum turun juga? Hari sudah semakin siang, jadi cepatlah turun atau Arsya akan terlambat ke kantor" teriak Bunda Reni sambil mengetuk pintu kamarnya Suci dan Arsya.
"Iya Bunda, sebentar lagi Suci sama Mas Arsya akan turun. Bunda pergi saja ke ruang makam terlebih dahulu bersama Ayah, nanti kami akan menyusul ke bawah" jawab Suci sambil berdiri dari kasur bersama dengan Arsya.
"Baiklah, kalau begitu Bunda turun duluan ya sayang. Kalian jangan turun lama-lama nanti sarapannya ke buru dingin dan Arsya akan terlambat ke kantor" ucap Bunda Reni kembali sambil berjalan pergi menuruni anak tangga dan pergi ke arah ruang makan.
"Kalau begitu cepatlah bersiap Mas, aku juga harus menyisir rambut dan mengenakan kerudungku. Mas bergantilah sana, aku sudah menyiapkan semua pakaianmu di atas kasur"
"Setelah itu nanti aku akan memandikan Baby Kay dan kamu bisa turun lebih dulu dan sarapan. Setelah selesai memandikan dan mendandani Baby Kay, maka aku akan turun ke ruang makan. Kalau begitu aku pergi memandikan Baby Kay dulu ya, Mas..."
Suci berbicara sambil menggendong Baby Kay dan mulai memandikannya dengan lembut dan hati-hati. Sementara itu Arsya pergi berganti menggunakan pakaian kerja yang sudah di siapkan oleh Suci saat Arsya sedang mandi.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Suci sudah selesai mendandani Baby Kay serta Arsya yang juga sudah selesai bersiap-siap. Lalu mereka semua turun ke ruang makan yang mana sudah ada Bunda Reni serta Ayah Al yang duduk sambil mengobrol di sana.
"Selamat pagi semuanya... maaf ya kami terlambat turun karena tadi Baby Kay sempat menangis, jadi kami harus memenangkannya" ucap Suci sambil duduk di kursinya dengan keadaan masih menggendong Baby Kay.
"Kami juga ingin membicarakan sesuatu kepada Bunda dan Ayah. Lalu kalau bisa dengan Tuan Angga jug karena ini mengenai Suci dan pernikahan kami. Tapi sebelum itu, aku akan mengundang Tuan Angga untuk datang ke sini dan sarapan bersama kita"
Arsya berbicara sambil menatap Bunda Reni serta Ayah Al secara bergantian yang mana hanya di anggukan oleh mereka. Kemudian Arsya pun menelepon Papah Anggga dan memintanya datang untuk sarapan bersama pagi ini.
Papah Angga saat ini masih ada di perusahaan karena dia memang tidur di kamar yang ada di kantornya. Papah Angga pun bersiap-siap untuk pergi sarapan bersama Suci dan keluarga Valleanno karena ini pertama kalinya Papah Angga datang ke sana.
Setengah jam kemudian Papah Angga sampai di rumah kediaman keluarga Valleanno. Papah Angga turun dari mobilnya dan berjalan masuk menuju ruang makan yang mana Papah Angga di antarkan oleh salah satu kepala pelayan di rumah tersebut.
"Selamat pagi semuanya, maaf saya terlambat karena saya berangkat dari perusahaan ke sini. Lalu saya juga tidak bisa membawa apa-apa karena ini sangat mendadak dan belum ada toko yang buka di jam segini"
Setelah selesai sarapan, mereka semua pergi ke ruang tamu dan mulai membicarakan hal yang ingin Arsya sampaikan. Saat ini Baby Kay sedang bersama dengan Bunda Reni karena dia sangat merindukan Baby Kay.
"Jadi semuanya, aku meminta kalian berkumpul di sini untuk membicarakan tentang pernikahan kami. Seperti yang kalian ketahui bahwa saat kami menikah, saat itu Suci sedang hamil namun kita tidak mengetahuinya sama sekali hingga beberapa bulan kemudian"
"Aku berpikir untuk melakukan pernikahan ulang antara aku dan Suci, tapi kali ini hanya untuk keluarga dekat, penghulu serta saksi. Bagaimana pun secara agama mungkin pernikahan ini tidak sah dan anak yang ada di dalam kandungan Suci juga belum mendapatkan hak nama ayahnya"
__ADS_1
"Itu sebabnya kami memutuskan untuk menikah ulang supaya pernikahan kami lebih sah di mata agama serta Baby Kay yang juga mendapatkan hak nama ayahnya. Bagaimana menurut kalian? Kami ingin mendengarkan pendapat dari kalian sebelum melakukannya"
Arsya berbicara sambil memegang tangannya Suci dan mengelusnya dengan lembut. Lalu Bunda Reni, Ayah Al serta Papah Angga hanya melihat wajah satu sama lain dan kemudian mereka pun mengangguk secara bersamaan sambil tersenyum.
"Kenapa kalian bertanya dan meminta izin dari kami, kalian berdua yang akan menjalaninya jadi tidak perlu meminta izin dari kami. Apapun yang kalian lakukan, kami pasti akan mendukungnya selama itu membuat kalian bahagia" ujar Bunda Reni dengan tersenyum.
"Kalian katakan saja kapan dan di mana caranya akan di langsungkan, biar Ayah membantu kalian untuk melakukan persiapannya. Bagaimana pun Ayah tidak mau pernikahan ulang kalian ini tidak menjadi pernikahan yang memorable kan..." sahut Ayah Al.
"Tentu saja kami setuju, tapi kapan kalian akan melakukan pernikahan ulang kalian? Jika dalam waktu dekat, mungkin aku tidak akan bisa datang karena aku harus pergi ke luar kota siang ini"
"Perjalanan bisnis kali ini memakan waktu sekitar satu bulan lamanya, jadi aku tidak berpikir jika aku bisa datang ke pernikahan ulang kalian. Maafkan Papah ya sayang, jika Papah tidak bisa hadir dalam pernikahan ulang kalian"
Papah Angga berbicara dengan lembut sambil menatap Suci dengan wajah sedihnya. Bagaimana pun Suci sudah seperti putri kandung bagi Papah Angga sehingga dia merasa buruk karena tidak bisa hadir dalam pernikahan ulang Suci dan Arsya.
"Papah Jangan bicara seperti itu, Suci tidak kamu kalau Papah jadi merasa sedih dan bersalah seperti ini. Mas... ki-kita melakukan pe-pernikahan ulangnya bulan depan saja ya, saat Papah pulang?" mohon Suci sambil menatap Arsya.
"Tentu saja sayang, aku juga tidak ingin melakukan pernikahan ulang jika Papah dari istriku tidak bisa datang. Kami juga butuh mengatur jadwal ulang untuk melakukan pernikahan ini, jadi Tuan Angga masih memiliki waktu untuk menghadirinya"
Arsya berbicara sambil tersenyum dan memegang tangannya Suci sambil mengelus-elusnya. Papah Angga pun tersenyum dan merasa sangat berterima kasih karena Arsya dan keluarganya sangat menyayangi Suci.
__ADS_1
Setelah membicarakan beberapa hal lainnya lalu Papah Angga, Ayah Al dan Arsya pun pergi ke perusahaan mereka dengan mobil mereka masing-masing. Sedangkan Suci dan Bunda Reni tetap di rumah dan menjaga serta bermain dengan Baby Kay.
Hari demi hari pun terus berlalu, dan kehidupan mereka semua semakin bahagia dan tidak ada lagi pengganggu dalam hidup mereka. Semua orang mendapatkan kebahagiaan yang pantas untuk mereka, dan balasan yang setimpal untuk kejahatan yang pernah mereka lakukan di masa lalu.