
Arsya tersenyum menatap Suci serta menghapus air matanya dan juga mencium keningnya. Kemudian Arsya mengambil alih Baby Kay di dalam pelukannya, lalu mereka berjalan meninggalkan bandara untuk kembali ke Mansion yang mereka tempati untuk beberapa tahun ke depan.
*
*
3 Bulan telah berlalu...
Di Indonesia, tepatnya di kediaman keluarga Dimas.
Hari demi hari telah terlewatkan yang mana saat ini hubungan Papah Angga dengan Mamah Mita semakin tidak karuan, dimana kedua insan itu selalu saja terdiam dengan seribu bahasa.
Tepat, di hari Minggu. Papah Angga sedang duduk santai di ruang tv dengan memainkan ponselnya yang mana pada saat itu Papah Angga telah mengirim pesan pada seseorang dalam keadaan tersenyum.
[Assalammualikum, apakah kau sedang sibuk?] ketik Papah Angga yang mulai memberanikan diri untuk mengirimkan pesan, meskipun rasanya sangat cangkung dan juga ragu. Tetapi Papah Angga masih penasaran sehingga dia terus mencoba apakah akan dibalas atau akan tetap terabaikan.
Entah kenapa 3 bulan terakhir ini Papah Angga selalu merasa tenang jika sudah berbicara lewat telepon atau bermain di rumah singgah yang bisa di namakan dengan panti asuhan "Matahariku".
"Huhhh.. sepertinya dia sedang sibuk, tapi ya sudahlah. Mungkin lain kali saja aku mengajaknya untuk makan malam"
"Eohh.. tu-tunggu dulu. A-ada apa dengan diriku ini? Ke-kenapa aku selalu membayangkan wajahnya, bahkan aku sangat ingin sekali selalu bertemu dengannya. Ja-jangan jangan..."
"Astagfirullah!! Ti-tidak Angga, ingat statusmu. Kamu masih menjadi suami Mita jadi jangan sampai kau memikirkan wanita lain. Lagi pula kau sudah tua jadi tidak pantas untuk jatuh cinta, sudah layaknya kamu itu memperdalm agama di sisa hidupmu ini dan menikmati hidup bersama cucu-cucumu bukan malah mementingkan hasratmu yang tidak tahu diri itu. Dasar bod*doh!!"
__ADS_1
Papah Angga bergumam di dalam hatinya dengan wajah gusahnya hingga ia mengusap wajahnya dengan kasar, yang mana malah membuat Dimas yang baru saja turun dari kamarnya langsung menatap aneh dan duduk tepat di sebelah Papah Angga.
"Loh.. Papah kenapa? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Dimas dengan mengerutkan dahinya menatap Papah Angga yang kini sedang meliriknya dan berusaha menetralkan rasa gugupnya.
"Eohh.. e-enggak apa-apa kok, ohya.. bagaimana perkembangan perusahaanmu? Bukannya perusahaanmu lagi banyak masalah?" Tanya balik Papah Angga yang mencoba untuk mengalihkan pertanyaan Dimas.
"Entahlah Pah, Dimas juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini perusahaan banyak masalah. Bahkan banyak kolega-kolega yang bekerja sama, satu persatu malah mengundurkan diri" Keluh Dimas dengan wajah sedihnya.
"Sabar, mungkin saja ini adalah cobaan untukmu" Sahut Papah Angga.
"Apa ini karma untuk Dimas, Pah? Karena Dimas sudah menyia-nyiakan Suci dan malah mengkhianati cintanya. Tapi, Dimas sudah lama tidak melihat Suci. Apakah Papah pernah bertemu dengannya? Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apakah Tuan Arsya memperlakukan Suci sebagai istrinya dengan sangat baik, atau dia malah lebih cuek dari Dimas?"
"Dimas tahu Tuan Arsya seperti apa, ya memang dia baik. Tapi, Dimas tidak yakin jika dia akan berlaku lembut kepada Suci. Belum lagi Papah tahu kan jika Suci itu hatinya bagaikan kapas jadi sedikit di bentak saja dia sudah menangis. Apa lagi jika dia harus setiap saat bersama pria dingin dan cuek itu? Pasti Suci tidak sebahagia saat menikah dengan Dimas, kan Pah?"
Dimas begitu antusias dengan beberapa pemikiran yang mana dia sangat tahu jika Arsya tidak mungkin bisa membuat Suci bahagia karena sifatnya yang terkenal sangat dingin dan juga cuek.
Dimas selalu mengoceh tanpa henti, sehingga Papah Angga yang mendengarnya pun cuman bisa tersenyum ketika melihat putranya begitu yakin dengan pemikirannya sendiri. Padahal tanpa Dimas ketahui kehidupan Suci jauh lebih bahagia saat sudah terlepas darinya.
Papah Angga menepuk pundak Dimas beberapa kali sambil tersenyum sangat lebar, Dimas yang melihatnya juga menjadi bingung dengan arti senyumannya tersebut.
"Ada apa Pah, kenapa Papah malah tersenyum seperti itu saat Dimas sedang membahas Suci? Apa Papah tahu sesuatu tentang kehidupan mereka? Jika, benar kasih tahu Dimas Pah. Dimas mau tahu bagaimana keadaan Suci sekarang, pasti orang tua Tuan Arsya akan mengolok-oloh Suci karena dia tidak bisa memberikan mereka keturunan"
"Belum lagi Ayah tahu kan Tuan Arsya itu orang yang sangat kaya, bahkan hartanya saja tidak akan habis 10 keturunan dan juga Tuan Arsya adalah anak tunggal. Jadi, pasti mereka akan menindas Suci jika tahu bagaimana keadaan rahimnya. Dimas khawatir, Pah... Dimas takut Suci kenapa-kenapa"
__ADS_1
Terlihat sangat jelas betapa khawatirnya Dimas yang selalu dihantui dan juga di selimuti dengan rasa penyesalan terdalam akibat telah menyia-nyiakan istri yang selama ini selalu menemaninya dari nol. Tetapi, karena keegoisan dia malah memilih istri yang hanya bisa membuatnya pusing dengan semua tingkahnya yang mana hanya bisa menghamburkan uang saja.
"Sudahlah jangan memikirkan rumah tangga orang lain, Suci sudah sangat bahagia dengan suaminya yang sekarang. Walaupun dia tiak bahagia dengan suaminya juga, kau tidak berhak ikut campur dan terus memikirkannya. Ingat dan tanamkan dalam dirimu jika Suci sudah bukan lagi menjadi milikmu. Jadi, kamu fokus saja dengan istri pilihanmu sendiri. Didik dia dengan benar jangan sampai dia menjadi penyebab perusahaanmu Collepse"
"Ingat, kamu berjuang mati-matian mendirikan perusahaan itu. Bahkan di saat ada sosok Suci yang sebagai istrimu perusahaan itu mulai bersinar dan semakin melaju pesat, namun bersamaan dengan perginya Suci perusahaanmu malah menjadi menyusut bagaikan bunga yang tidak di siram"
"Apa kamu lupa pepapah mengatakan, bahwa doa istri yang tulus maka bisa menembus lapisan langit yang terakhir dan berkat doa istri juga apa pun yang tidak mungkin terjadi maka akan bisa terjadi, karena istri merupakan sumber pintu rezeki bagi suaminya"
"Jika suaminya telah tega menyakitinya, walaupun hanya secuil maka semua pintu rezeki dari mana pun akan tertutup sangat rapat. Belum lagi jika air mata yang bagaikan sebuah berlian yang sangat berharga itu sampai runtuh maka bersiaplah tidak akan ada sedikit pun celah untuk bisa merasakan yang namanya kebahagiaan"
Papah Angga mencoba menesahati Dimas hingga Dimas pun terdiam mencerna semuanya, apa yang di ucapkan oleh Papah Angga memanglah sangat benar bahkan satu persatu kebahagiaan di dalam rumah ini telah hilang.
Dimana keadaan Papah Angga dan Mamah Mita bagaikan orang asing yang tidak saling menegor sapa, bahkan Mamah Mita hanya memikirkan cucu kesayangannya. Belum lagi Mamah Mita selalu mengaitkan Papah Angga dengan Suci ada main lantaran Papah Angga selalu membela Suci di depan semuanya jika namanya di jelekkan.
Di tambah keadaan perusahaan yang semakin menyusut, belum lagi Elsa yang selalu menghamburkan uang supaya penampilannya terlihat bagaikan seorang model terkenal dengan tubuh ramping, sek*si dan juga cantik benar-benar mirip dengan gitar spanyol.
Dan yang lebih mengesankan lagi, dimana adik tersayang Vina selalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk-mabukan dan juga selalu meminta uang bulanan yang hampir 2 kali lipat dari jatah yang biasa Dimas berikan.
Papah Angga hanya bisa tersenyum dan tersenyum berusaha untuk menguatkan Dimas, sehingga Dimas pun ikut tersenyum kecut.
Tak selang beberapa detik ponsel Papah Angga berbunyi dengan 1 notif dari seseorang. Sehingga Papah Angga hanya bisa meliriknya sekilas dan kembali menatap wajah Dimas.
"Meskipun Papah benar-benar sangat kecewa dengan kalian semua, tetapi Papah tetaplah Papah kalian sampai kapan pun. Jika ada apa-apa kabari Papah, jangan pernah memendam semuanya sendiri. Papah tahu Dimas anak yang kuat, semoga kamu bisa melewati semua cobaan ini dengan sangat baik. Ya sudah Papah ke kamar dulu.."
__ADS_1
Papah Angga tersenyum memberikan semangat, kemudian beranjak dari kursinya mengacak-ngacak rambut Dimas dan berjalan pergi menuju kamarnya dengan menatap layar ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.