Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Di Depan Pintu Ruang UGD


__ADS_3

Tentu saja Dion dan Lisa langsung saja berjalan menuju pintu mobil Arsya dan tidak lama kemudian Arsya keluar dari mobil. Lalu Arsya membuka pintu mobil bagian belakang di bantu oleh Dion dan Lisa lalu Arsya pun menggendong Suci keluar dari mobil, tapi Suci sudah dalam kondisi lemas dan dia pun pingsan.


Dion berlari lebih dulu untuk memanggil dokter serta suster untuk membawakan bangkar rumah sakit. Sampai seketika Suci dengan perlahan di baringkan di atas bangkar lalu di dorong dengan cepat menuju ruang UGD.


Terlihat jelas bagaimana kepanikan serta kecemasan yang terukir di wajah Arsya saat ini, begitu juga dengan Lisa yang sudah meneteskan air matanya melihat sang Kakak terbaring lemas tak berdaya.


Sedangkan Dion, dia juga ikut panik dan juga khawatir dengan apa yang dilihat saat ini. Bagi Dion ini kali pertamanya ia melihat sosok Suci selemah ini karena yang Dion tahu, dari dulu hingga saat ini Suci tak pernah jatuh sakit seperti saat ini yang bahkan wajahnya saja sudah terlihat bagikan mayat hidup.


Namun sesampainya mereka di depan pintu UGD, mereka semua tentu tidak di perbolehkan masuk ke dalam ruangan untuk menemani keadaan Suci. Bangkar Suci sudah masuk terlebih dahulu, yang kini hanya menyisakan suster sambil memegang pintu UGD untuk segera di tutup serta di kunci. Tapi siapa sangka, Arsya mencoba menahannya dengan sangat emosi.


"Maaf Tuan... Anda tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam" tegas suster itu sambil menutup pintu UGD dari luar.


"Siapa kau, hah! Kenapa kau melarangku masuk ke dalam? Dia itu istriku jadi aku berhak untuk menemaninya, paham kau! Sekarang minggirlah!"


Arsya dengan segala emosinya dan juga kekhawatirannya selalu saja mendorong posisi suster yang mana suster tersebut berusaha keras menahan Arsya supaya ia tidak memasuki ruangan tanpa seizin sang dokter yang mana saat ini sedang mencoba memeriksa kondisi Suci.


"Tunggu Tuan! Kau tidak bisa seenaknya seperti ini... jika kamu masuk ke dalam pasti akan membuat ke gaduhan di sana sehingga dokter tak bisa berkonsentrasi untuk memeriksa keadaan istrimu. Jika Tuan nekat untuk masuk ke dalam, tidak akan menjamin juga jika istri Tuan akan baik-baik saja"


Suster berbicara dengan nada tegasnya, sampai membuat Arsya pun terdiam di tempat untuk mencerna setiap ucapan sang suster. Kemudian sang suster itu langsung saja segera masuk ke dalam ruang UGD sambil ia mengunci pintunya serta meninggalkan Arsya dan yang lain di depan pintu ruang UGD.


Dion yang sedari tadi sedang berusaha menenangkan Lisa yang sudah duduk di kursi tunggu, kini Dion langsung berdiri berjalan mendekati Arsya sambil ia yang sesekali menepuk punggungnya Arsya.


"Tenanglah... Suci akan baik-baik saja, aku yakin karena dia adalah wanita kuat. Saat ini Tuan hanya perlu membantunya dengan berdoa, itu sudah jauh lebih baik untuk menolongnya dari pada seperti ini, di mana Tuan menggunakan emosi"


Arsya menoleh ke arah Dion yang saat ini terlihat tersenyum kecil. Ya meskipun Dion berusaha untuk tenang, tapi siapa sangka jika di hatinya pun Dion merasa begitu cemas dengan keadaan Suci. Apa lagi Dion dan Suci sudah dekat dari dulu, yang mana Dion telah menganggap Suci sebagai adiknya sendiri.


"Aku pergi dulu sebentar ya..." ujar Arsya yang langsung pergi begitu saja dan dia meninggalkan Lisa dan juga Dion tanpa memberi tahu kemana dia akan pergi.


Dion dan juga Lisa hanya bisa menatap ke pergian Arsya dengan tatapan penuh kebingungan. Lantaran Suci yang mana adalah istrinya sedang berada di dalam ruangan yang begitu menakutkannya sedang memperjuangakan hidupnya, tetapi Arsya sebagai suaminya malah pergi begitu saja.

__ADS_1


"Ma-mau kemana Tu-Tuan Arsya, Pak?" Lisa bertanya sambil dia menatap wajah Dion yang mana saat ini berjalan ke arah Lisa dan duduk di sampingnya.


"Tolong jangan panggil aku lagi dengan sebutan Pak. Kita sudah resmi sebagai pasangan bukan, jadi belajarlah panggil aku dengan sebutan sayang" ucap Dion sambil tersenyum dan mengusap sisa air mata di pipinya Lisa serta Dion juga menggenggam tangannya Lisa.


Lisa menatap mata Dion serta wajahnya yang kini sudah mulai memerah lantaran ia lupa jika saat ini status mereka sudah menjadi pasangan atau bertunangan.


"Sa-sayang..." Bibir Lisa bergetar hebat karena ini pertama kali bagi Lisa untuk menyebutkan kata sayang di depan pria pria yang sangat dia cintai sehingga itu membuat Dion merasa begitu gemas dan langsung mencubit kecil pipi Lisa.


"Ouchh... sakit tahu..." keluh Lisa sambil memegangi pipinya dengan wajah yang cemberut.


"Hihihi... maaf sayangku... Habisnya aku gemas lihat kamu manggil sayang saja udah kayak orang kejang-kejang sampai gemetar begitu" sahut Dion yang kini ia tertawa kecil melihat tingkah Lisa.


"Yaaakk... kamu kira aku ini kena peyakit step apa, haahh!!! Kalau ngomong main seenak jidatnya sudah kek enggak ada saringannya. Sudahlah terserah..."


Lisa pun langsung aja mengubah posisi duduknya menatap pintu ruangan UGD sambil matanya kembali berkaca-kaca. Walaupun hatinya Lisa saat ini sedang bahagia karena Dion melamarnya, tetapi di satu sisi Lisa juga sangat takut jika sampai terjadi sesuatu dengan Suci di dalam sana.


Rasanya ingin sekali Lisa mendobrak pintu ruang UGD tersebut dan langsung menggenggam tangannya Suci untuk memberikannya suport agar Suci bisa kembali sehat, yang mana mereka juga tidak ada yang tahu kenapa Suci bisa sampai seperti ini.


Lalu mata mereka berdua menatap ke arah pintu UGD secara bersamaan serta sesekali Dion pun mencium kepala Lisa dengan penuh kasih sayang tanpa ada rasa gengsi lagi di antara keduanya.


...*...


...*...


Di musholah rumah sakit


Ada seorang pria tampan yang saat ini sudah selesai beribadah, namun ia tidak beranjak dari duduk silanya. Melainkan dia sangatlah fokus mengangkat kedua tangannya di depan wajahnya sambil ia memanjatkan doa-doa serta keinginan terhadap Sang Pencipta.


"Ya Allah... Ya Tuhankuuu... Berikanlah istriku Suci Permata Sari kesembuhan dari segala kesembuhan yang ada di dalam genggamanmu. Jangan biarkan dia kembali merasakan sakit, sudahlah cukup Engkau siksa dia dengan segala cobaanmu serta ujianmu yang mana dia hampir saja menyia-nyiakan hidupnya"

__ADS_1


"Jika Engkau mengizinkan, maka biarlah hanya Hamba saja yang menggantikan semua rasa sakit yang saat ini di rasa oleh istri Hamba. Hamba tidak tega jika melihatnya terbaring lemah seperti itu. Bahkan Hamba pun telah siap dan juga ikhlas secara lahir batin untuk menukar kesehatan Hamba sendiri dengan istri Hamba selagi Hamba bisa terus melihat istri Hamba selalu tersenyum bahagia"


Arsya tidak henti-hentinya memanjatkan doa-doanya untuk kesembuhannya Suci yang sekarang belum ada kabar apa pun tentangnya. Bahkan air matanya Arsya tak terasa menetes dengan sendirinya, yang terlihat betapa dia mencintai Suci.


Ya... walaupun Suci sepenuhnya belum menjadi milik Arsya, tapi bagi Arsya Suci selalu ada di sampingnya saja itu sudah bisa membuat Arsya merasakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Sampai Arsya sendiri pun tidak ke pikiran atau membayangkan kehidupannya saat ini akan jauh lebih baik dari pada masa lalunya.


Padahal dulu Arsya menyangka jikalau kebahagiaannya hanyalah saat bersama almarhumah mantannya itu, tetapi Allah dengan segala kebaikan-Nya langsung mengganti semuanya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Bahkan Allah juga menghadirkan kebahagiaan yang tidak pernah terduga oleh Arsya sebelumnya.


Arsya sendiri tidak kepikiran jika mantan istri dari rekan kerjanya itu adalah jodoh untuknya yang mana saat ini dia sudah berhasil membuat Arsya pun tergila-gila akan kebaikan serta ketulusan hatinya.


Di tambah tanpa Arsya duga, dia malah bisa merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya yang mana terasa jika Arsya kini seperti merasa jatuh cinta berkali-kali di setiap detiknya pada orang yang sama.


Sampai seketika setelah selesai berdoa, Arsya segera bangkit dari duduknya dan langsung kembali menuju ruang UGD itu yang tak butuh waktu lama Arsya sudah sampai di sana. Kemudian disana Arsya melihat Dion dan juga Lisa yang sedang duduk bersandar di sandaran kursi dan tangan Dion merangkul Lisa.


Namun secepat kilat Lisa pun langsung membenarkan posisi duduknya itu saat melihat jika Arsya menatapnya dengan tatapan aneh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih sepi nih 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja ya... 🤭🤭🤭

__ADS_1


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2