Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Boleh Aku Bicara Denganmu?


__ADS_3

“Ya ampun, ini orang enggak ada manis-manisnya banget dalam memperlakukan seorang wanita. Udah cuek, dingin, galak pula ihh...” celoteh Suci di dalam hatinya sambil menaiki mobil Arsya.


Tak perlu basa-basi Arsya langsung membawa mobilnya masuk dan memarkirkan mobilnya. Kemudian ia keluar dari mobil dan berjalan lebih dulu dan Suci mengikuti di belakangnya.


“Bii!” panggil Arsya dengan suara dinginnya saat memasuki rumah.


“Orang masuk rumah bukannya kasih salam, ini malah teriak-teriak. Benar-benar pria menyebalkan! Pasti saat ada wanita yang mau menjadi istrinya, dia akan berpikir ulang untuk menikah dengan manusia kutub seperti ini"


"Bagaimana nanti rumah tangganya, pasti tidak akan bahagia dan romantis orang suaminya saja secuek ini. Astagfirullah, Suci! Kenapa kamu punya pikiran semacam itu, seudzon dengan orang itu adalah dosa loh. Hilangkan pikiran jelek tentangnya dan cobalah berpikiran kebaikannya saat menolongmu Suci...”


Suci bergerutu di dalam hatinya sepanjang jalan menuju ruang keluarga. Lalu Arsya duduk dengan sangat berwibawa di sofa panjang tidak jauh di depan tempat Suci berdiri.


“Kenapa masih di situ? Apa kakimu tidak capek berdiri layaknya seorang bodyguard” ujar Arsya dengan segala kecuekannya sambil membuka kaca matanya dan menatap Suci yang masih berdiri di depannya.


“Kan kamu sendiri belum menyuruhku untuk duduk, jadi ya sudah aku berdiri saja dari pada enggak sopan kan” jawab Suci.


“Baiklah Tuan putri, silakan duduk” ucap Arsya dengan menekankan kata-katanya.


“Nah... Kalau begini kan enak, terima kasih” saut Suci sambil duduk dengan wajah tersenyum


“Biii!” ucap Arsya dengan suara menggelagar dan dengan langkah cepat seorang wanita paruh baya mendekati Arsya dengan sedikit membungkuk.


“Ya Tuan, ada apa?” jawab Bibi dengan wajah cemas.


“Dari mana saja, Bi Atun. Kenapa harus 2 kali saya memanggilmu?” ucap Arsya dengan nada biasa.


“Maaf Tuan, tadi saya berada di belakang jadi suara Tuan tidak sampai ke sana. Sekali lagi maafkan saya” jawab Bi Atun dengan penuh kekhawatiran.


“Astaghfirullah, Mas Arsya. Bisa tidak bicara yang sopan dengan Bi Atun, dia itu usianya lebih tua darimu. Ya meskipun dia seorang pembantu, tapi tidak menutup kemungkinan jika dia lebih tua darimu. Jadi tolong bersikap yang baik padanya” tegas Suci yang membuat Arsya terdiam.


Arsya memang tahu jika ini adalah kesalahannya, tapi dia kelepasan dengan sikap dinginnya yang selalu membuat ia tanpa sadar telah melewati batas yang tidak seharusnya.


“Tidak apa-apa, Non Suci. Bibi sudah biasa kok, lagian Den Arsya juga tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya memanggil Bibi dengan suara besarnya supaya Bibi bisa mendengarnya dari jauh. Lagian Den Arsya tidak seburuk itu Non, dia sangat baik meskipun sifatnya seperti ini” bela Bi Atun yang membuat Arsya seketika melambung tinggi.


“Maafkan saya Bi, tapi bisa tolong panggilan Bunda? Karena ada anak kesayangannya yang mau menemuinya” ucap Arsya dengan sedikit sopan.


Suci yang mendengar itu langsung menatap Arsya dengan kebingungan, padahal dia ke sini ingin menemui Arsya bukan Bunda Reni jadi kenapa saat Suci belum menceritakan tujuannya dia sudah main asal tebak seperti ini.

__ADS_1


“Maaf, Tuan. Nyonya sedang pergi ke bandara untuk menjemput Tuan Besar karena Nyonya bilang Tuan Besar sudah berada di dalam perjalanan untuk kembali ke sini” ucap Bi Atun.


“Ayah? Sejak kapan Ayah pulang Bi? Kenapa aku tidak diberi tahu soal ini?” keluh Arsya dengan wajah sedikit kesal.


“Saya kurang tahu, Tuan. Lebih baik tanyakan saja ke Nyonya, takutnya saya salah menjawab dan malah menimbulkan masalah baru” jawab Bi Atun yang padahal ia tahu jawabannya namun ia tidak mau memberikannya pada Arsya.


Bi Atun takut jika Arsya akan semakin kesal jika mengetahui apa yang Bunda Reni katakan pada Bi Atun. Beberapa saat yang lalu, Bi Atun sedang membersihkan ruang tamu lalu Bunda Reni yang sudah sangat rapi serta wangi baru saja menuruni anak tangga.


“Pagi Nyonya...” sapa Bi Atun sambil tersenyum.


“Pagi juga Bi ..” saut Bunda Reni sambil berjalan mendekatinya.


“Hoya, Bi. Saya ingin pergi sebentar ke bandara untuk menjemput suami saya karena ia sudah berada di dalam pesawat dan akan segera sampai di Indonesia”


Bi Atun yang mendengar itu pun merasa senang dan tersenyum lebar. “Alhamdulillah, jadi tidak akan kesepian lagi dong Nya hehe... Apa lagi sudah ada pangeran hati di sampingnya, pasti setiap hari akan selalu tersenyum” ledek Bi Atun yang membuat Bunda Reni malu.


“Aduh... Bi Atun bisa saja, maklumlah Bi sudah lama saya tidak bertemu dengannya. Apa lagi selama ini dia belum tahu sifat Arsya yang semakin berubah dan kaku yang bahkan melebihi sifatnya, entahlah... Mungkin saat mereka bertemu, mereka akan menjadi canggung untuk berbicara dengan sifat dinginnya masing-masing. Tidak seperti Arsya yang dulu, dia selalu ada cara untuk membuat Ayahnya berbicara hingga tersenyum”


Bunda Reni mengingat kembali kenangan manis bersama keluarga kecilnya saat Arsya masih menjadi pria yang sopan, ramah dan juga sangat manja. Tetapi sekang semuanya berubah semenjak ia merasakan kehilangan yang benar-benar membuat dirinya hancur tak tersisa.


Belum lagi, Arsya melakukan pekerjaan yang tidak baik hanya untuk membalaskan dendamnya kepada orang yang sudah merenggut nyawa calon istrinya dari tangannya.


“Amin, Bi. Semoga saja rumah ini terbebas dari orang-orang kutub ya Bi hehe...” canda Bunda Reni yang membuat Bi Atun ikut tertawa gemas.


“Hehe... amin, Nya. Semoga generasi Tuan Arsya selanjutnya tidak sedingin mereka ya” canda balik Bi Atun.


“Haha... Aduh Bi... Bisa-bisa perutku sakit ini membayangkan anak Arsya yang dinginnya melebihi Ayahnya sendiri. Pasti wajahnya akan terlihat menggemaskan tanpa ekspresi” Bunda Reni tertawa dengan puas sambil membayangkannya anak Arsya.


Sedangkan Bi Atun pun ikut tertawa bersama. Saat selesai dari candaannya, Bunda Reni segera berpamitan pada Bi Atun dan pergi dengan beberapa pengawalan ketat.


...*...


Kembali ke saat ini, dimana Arsya masih menanyakan tentang Bunda Reni.


“Ya sudah Bi, tolong buatkan minum untuknya sambil menunggu Bunda pulang bersama Ayah” ucap Arsya sambil melirik Suci.


“Baik Den, ya sudah Bibi tinggal dulu ya permisi...” jawab Bi Atun sambil berjalan pergi.

__ADS_1


Setelah kepergian Bi Atun, kini Arsya bangkit dari sofanya dan saat ingin berjalan Suci langsung menghadangnya.


“Tunggu, dulu. Boleh aku berbicara denganmu?” saut Suci yang membuat Arsya menaikkan salah satu alisnya dengan ekspresi wajah bingung.


“Ada apa? Bukankah kau ingin bertemu dengan Bunda? Lalu kenapa mencegahku seperti ini” jawab Arsya dengan segala kebingungannya.


“Makanya jadi orang jangan asal tebak, aku ke sini itu sebenarnya ingin menemui dirimu bukan menemui Bunda” ucap Suci dengan wajah sebalnya yang malah terlihat menggemaskan.


“Aku?” tunjuk Arsya pada dirinya sendiri dengan ekspresi terkejut.


“Yaaa...” saut Suci dengan mengangguk untuk meyakinkan Arsya.


“Kenapa kamu mau menemuiku? Memangnya kita ada masalah?” ucap Arsya penuh tanda tanya.


“Bukan masalah, tapi ada sesuatu hal yang harus aku tanyakan padamu Mas...” jawab Suci.


“Penting?” tanya Arsya dengan kecuekannya.


“Ya, ini sangat-sangat penting” saut Suci penuh keseriusan.


Arsya langsung berjalan melewati Suci dengan sangat datar tanpa adanya satu kata pun yang keluar, semua tingkah Arsya membuat Suci terdiam bingung apa yang dimaksud dengan Arsya. Padahal kan dia mau berbicara padanya, tetapi kenapa Arsya malah pergi begitu saja? Suci hanya membalikkan badannya menatap punggung Arsya yang semakin menjauh.


“Astaghfirullah, Suci sabar ya jangan emosi. Dia memang begitu, jadi jangan sampai ke pancing oke...” gumam Suci di dalam hatinya dengan menahan rasa kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo... Haloha... Apa kabar para pembaca setiaku 😃😃😃


Aku harap kalian selalu sehat dan terus semangat semuanya 🤗🤗🤗


Ehh... ehh... Ada yang mau lewat nehh dibawah ini... Kita lihat yuk 🤭🤭🤭


Jeng... jeng... jeng... Rekomendasi novel lainnya untuk hari ini 🥳🥳🥳


Jangan lupa jelajahi dan tinggalkan jejak petualangan kalian... 😆😆😆


...*...

__ADS_1



__ADS_2