Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Suci Baik-Baik Saja


__ADS_3

Lisa melihat jika wajahnya Suci sudah kembali berwarna dan tidak lagi pucat seperti tadi. Namun kali ini mata Suci terlihat sedikit bengkak, mungkin karena dia terlalu banyak menangis bersama Arsya. Dion juga bisa melihat jika mata Arsya sedikit merah, namun Dion dan Lisa tidak ingin bertanya dan membuat Arsya merasa malu pada mereka.


"Maaf Tuan Arsya, tadi kami menerima kabar dari Nyonya dan Tuan Al. Mereka bilang kalau mereka akan sampai di sini dalam waktu 1 jam lagi karena saat ini mereka berada di pinggiran kota yang sulit dey sinyal" ucap Dion dengan nada pelannya.


"Tidak apa-apa... tapi apakah kau sudah bilang tentang kondisinya Suci saat ini pada Bunda dan Ayah? Ma-maksudku tentang... kau tahu kan apa yang aku maksud?" ucap Arsya dengan segala kebingungannya.


"Tenang saja Tuan Arsya, kami cuma mengatakan kalau keadaan Suci saat ini sudah baik-baik saja dan kalau ia hanya kelelahan sehingga Suci butuh banyak istirahat. Kami juga tidak berani untuk mengatakan hal itu, karena nanti biar Tuan dan Suci saja yang menjelaskan hal ini pada Nyonya dan Tuan Al" jawab Dion sambil menatap Arsya.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas bantuan kalian berdua. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika kalian tak ada di sini dan membantuku. Sekali lagi makasih yaa..." ucap Arsya sambil menatap Dion dan Lisa bergantian.


"Tak perlu berterima kasih Tuan, karena bagaimanapun Mbak Suci sudah seperti kakakku sendiri jadi ini juga sudah tugas kami untuk membantu Mbak Suci dan Tuan Arsya. Tapi sekarang bagaimana dengan kondisinya Mbak Suci, Tuan..." ucap Lisa sambil menatap wajah Suci.


"Suci baik-baik saja... dia cuma merasa lelah, mungkin juga karena dia sudah banyak menangis. Apa kalian merasa kalau aku ini aneh karena saat aku tahu bahwa istriku hamil anak pria lain, aku bukannya marah tapi aku malah merasa senang" ucap Arsya sambil mengelus wajahnya Suci.


"Tidak Tuan, menurut saya Tuan adalah pria yang luar biasa. Tudak semua pria bisa menerima kabar seperti itu dengan senang hati seperti Tuan, jadi aku pikir Tuan sangatlah gentleman yang bahkan semua wanita pun akan jatuh cinta pada Tuan" ucap Dion sambil sedikit melirik ke arah Lisa.

__ADS_1


"Ughh... kenapa aku jadi merasa sangat malu seperti ini. Kenapa juga aku tidak bisa menahan diri dari memuji seorang pria sih. Ta-tapi aku tidak pernah berpikir kalau Dion itu tipe pria pencemburu, aku selalu pikir kalau dia itu cuek dan dingin"


"Kalau seperti ini sih aku jadi merasa di cintai olehnya aduh... aku tidak percaya dengan semua ini aarrrgghh... rasanya seperti aku bermimpi bisa mendapatkan pria yang tampan, perhatian, cemburuan dan juga dewasa seperti Dion. Sekarang aku seperti terbang menuju langit ke-7 kyaaa..."


Lisa berbicara di dalam hatinya sambil dia yang menutupi wajahnya itu dengan kedua tangannya yang membuat Dion dan Arsya menatap Lisa dengan aneh. Sedangkan Lisa, dia masih tidak sadar dan hanya menikmati dirinya di dalam khayalannya sambil memikirkan tentang dirinya yang melanjutkan apa yang tadi dia lakukan bersama Dion di mobil.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi aneh seperti itu? Apakah sesuatu sudah terjadi dengannya sehingga ia jadi aneh seperti itu? Ja-jangan bilang kalau Lisa jadi gila karena kau yang sampai saat ini masih belum mendekatinya?" Arsya pun hanya menatap Dion dengan wajah yang tidak bisa di deskripsikan.


"Yaaakk... tidak seperti itu, apa kau tahu kalau malam ini adalah malam pertama kami jadian. Padahal tadi itu aku ingin menghabiskan waktu berdua dengannya tapi kemudian kau meneleponku dan mengganggu waktu kami"


"Lalu barusan saat kami mencoba untuk melanjutkannya tapi malah kembali di ganggu oleh Bundamu yang menelepon Lisa. Kalau seperti ini maka tidak akan ada momen spesial yang terjadi di hari pertama aku dan juga Lisa jadian" ucap Dion dengan segala kekesalannya.


"Aku tahu itu, tapi aku tidak tahu apakah Lisa saat ini sudah siap membangun rumah tangga denganku atau belum. Jadi aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan hal ini padanya suatu hari nanti" ucap Dion sambil dia menatap Lisa dengan dalamnya.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama karena aku sangat tidak mau jika kalian sampai melakukan sesuatu yang tidak baik di saat hubungan kalian yang masih belum halal ini. Aku juga yakin kalau Suci pasti akan marah besar jika tahu kalau kamu sudah bermain dengan adiknya" ucap Arsya sambil menatap Suci.

__ADS_1


"Tenang saja aku juga tahu batasannya dan aku juga cuma mau sedikit... sedikit saja untuk mencicipinya. Ya meskipun sudah gagal dua kali, tetapi mungkin ini juga pertanda kalau kami memang tak boleh melakukan hal itu huuft..." keluh Dion sambil menghela napasnya.


"Hahh? Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti apa maksudnya dengan sedikit mencicipi? Memangnya kamu mau makan apa?" tanya Lisa yang baru saja keluar dari dunia khayalannya.


Lisa menatap Dion dengan bingung, dan Dion serta Arsya hanya bisa menghela napas mereka karena tingkah lucunya Lisa. Arsya saja sampai tidak habis pikir jika Lisa akan sama seperti Suci yaitu dengan kepolosan dan ceplas-ceplos mereka yang membuat Arsya and Dion hanya bisa menghela napas saja.


Namun tak lama kemudian, pintu ruang rawat Suci pun terbuka dan dua orang masuk begitu saja. Siapa lagi itu jika bukan Ayah Al dan Bunda Reni yang datang dengan wajah mereka yang sedikit khawatir dengan kondisinya Suci.


"A-apa yang terjadi pada Suci? A-apakah semuanya baik-baik saja? Kenapa Dion mengatakan sesuatu yang aneh tadi? Lalu kenapa wajah Suci terlihat sedikit pucat dan matanya yang saat ini sedikit bengkak


"Kalau begitu aku dan Lisa akan pulang sekarang karena Nyonya dan Tuan Al sudah datang ke sini. Kalau begitu saya dan Lisa pamit undur diri dulu, permisi..." ucap Dion sambil dia membungkuk dan Lisa yang juga ikut membungkuk.


Dion dan Lisa pun berjalan keluar dari ruang rawatnya Suci dan meninggalkan semuanya di sana. Dion dan juga Lisa langsung saja pergi dari rumah sakit dengan mobilnya Dion yang mana dia mengantar Lisa ke kontrakannya Lisa lalu ia pulang menuju rumahnya sendiri.


Sekarang dengan Arsya, Ayah Al, Bunda Reni dan juga Suci. Bunda Reni hanya terus mengelus wajahnya Suci sambil duduk di kursi di mana Arsya duduki sebelum mereka datang. Saat ini Bunda Reni duduk di sampingnya Suci yang tertidur, sedangkan Ayah Al dan Arsya duduk di sofa panjang di ruangan itu.

__ADS_1


Arsya tenggelam dalam pikirannya dan berpikir bagaimana ia akan menjelaskan semuanya kepada Bunda Reni dan Ayah Al. Arsya takut jika orang tuanya akan merasa kecewa atau sedih saat mereka tahu mengenai kabar kehamilannya Suci karena memang Suci mengandung anak dari mantan suaminya.


Ayah Al yang melihat Arsya kebingungan itu lalu menepuk pundaknya yang malah membuat Arsya tersontak kaget dan dia langsung saja menatap Ayah Al. Terlihat jelas bahwa Arsya sangat tegang dan ia juga cemas, tapi Ayah Al tidak tahu apa yang membuat putranya cemas seperti ini karena Arsya itu selalu menjadi pria yang tenang dan berwibawa.


__ADS_2