
“Ya, benar Mas. Ya sudah ayo kita ajak dia kasihan nanti kurang perhatian jadi kurus lagi hehe...” canda Suci.
“Yakkk... Stop memperhatikan dia, cukup perhatikan suamimu ini jangan laki-laki lain. Paham!” tegas Dimas yang membuat Suci malah tertawa.
“Cie... Cemburu, haha... Aduh, perasaan tadi Mas yang tadi ngajak Mas Dion deh... Sekarang bagian Suci iyain malah seperti ini” goda Suci.
“Mulai deh, jangan mancing aku ya. Kamu tahu kan aku kalau marah seperti apa susahnya untuk membuatku kembali tersenyum” ancam Dimas.
“Memang Mas bisa marah lama-lama sama Suci, hem?” tanya Suci yang membuat Dimas langsung tertawa.
“Hehe... Ya enggak sih, dahlah. Yuk kita pergi” ajak Dimas sambil merangkul pinggang Suci.
Mereka berdua pun pergi keluar dari ruangan Dimas, menuju ruangan Dion. Sesampainya di sana tanpa basa-basi Dimas langsung mengajak Dion untuk ikut gabung makan siang bersama di luar. Dan Dion pun tidak pernah menolak itu. Malah ia terlihat sangat happy saat Dimas dan Suci tidak melupakan kehadirannya.
Padahal setiap ia makan, biasanya Lisa yang selalu menemaninya meskipun selalu cekcok. Namun, di dalam hati kecil Dion, ia merasa sangat kesepian. Mereka pun bertiga berjalan menuju lift untuk turun ke bawah, lalu Dion ikut bersama mobil Dimas dan Suci.
Sesampainya di restoran mereka bertiga pun turun dan langsung memesan ruangan yang tidak ramai pengunjung. Lalu, mereka memesan beberapa menu dan kemudian memakannya sambil sedikit berbincang-bincang dan juga bercanda gurau untuk sedikit menghidup suasana hati Dion.
Suci dan Dimas tahu jika Dion memiliki perasaan terhadap Lisa, hanya saja ia sangat gengsi untuk mengungkapkan perasaannya itu. Jadi mau tidak mau, Suci dan Dimas tidak bisa ikut campur terlalu dalam untuk hubungan mereka yang rumit. Lebih baik Suci dan Dimas fokus pada hubungannya yang memang terlalu banyak di terjang ombak, badai dan juga petir.
...*...
...*...
Malam hari pukul 7
Saat ini Dimas dan Suci sedang melakukan perjalanan liburan menuju puncak, dimana di sana terdapat salah satu Villa milik Dimas. Hari sudah semakin larut yang membuat Dimas sedikit kelelahan, hingga akhirnya mereka sampai pada pukul 9 malam.
Sesampainya di Villa, Dimas langsung di sambut oleh penjaga Villa yang memang tinggal tepat di belakang Villa agar bisa setiap hari mengurus Villa tersebut. Yang mana mereka terdiri dari Pak Somat, Bu Nining dan Dila.
Pak Somat merupakan kepala keluarga yang sangat baik dan juga ramah dengan usia 45 tahun. Sedangkan Bu Nining merupakan ibu rumah tangga yang sangat menyayangi keluarganya dengan usia 42 tahun. Lalu, Dila adalah anak semata wayang mereka yang sangat ceria dengan usia 18 tahun.
Mereka benar-benar terlihat keluarga yang sangat harmonis. Meskipun hidup dengan berkecukupan namun itu semua tidak membuat mereka sombong, karena mereka tahu jika buka karena Dimas, mungkin saja mereka tidak akan hidup seperti ini.
Pak Mamat dan Bu Nining bekerja di Villa Dimas saat Dila berusia 5 tahun. Jadi, mereka memang sudah sangat lama bekerja dengan Dimas. Dimas memang hampir di setiap daerah, kota atau pun luar negeri memiliki tempat singgah yang bisa ia tempatkan jika suatu saat ada pekerjaan yang mendadak.
Suci yang memang sudah sangat lelah tertidur dengan cukup lelap di dalam mobil, yang membuat Dimas harus sedikit bersemangat agar bisa menggendong Suci untuk masuk ke dalam Villa.
“Selamat datang kembali, Den Dimas. Sudah lama tidak berjumpa” sapa Pak Somat dengan wajah tersenyum ramah.
“Hehe... Ya Pak Mat. Maklum, semenjak saya sudah menikah itu membuat saya tidak bisa meninggalkan istri di rumah. Jadi, jika ada pekerjaan lebih baik saya bolak-balik saja. Asalkan tiap hari bisa melihat wajahnya yang terkadang membuat rasa lelah saya hilang” ucap Dimas saat keluar dari mobilnya.
__ADS_1
“Alhamdulillah, Den. Ya, begitulah jika sudah berumah tangga. Rasanya tidak ingin jauh-jauh dari mereka hehe...” saut Pak Somat.
“Hoya... Apakah kamar saya sudah di bersihkan, Pak Mat?” tanya Dimas.
“Alhamdulillah, sudah Den. Tadi anak dan Istri saya sudah membereskan semuanya, jadi saat Den Dimas datang dengan istri semua sudah siap” jawab Pak Somat sambil tersenyum.
“Terima kasih ya, Pak. Hoya... Boleh saya minta tolong buatkan kopi susu untuk saya Pak, sekalian untuk Pak Mat juga biar bisa menemani saya mengobrol. Tapi, saya harus bersih-bersih dulu dan membawa istri saya ke kamar. Kasihan kayanya ia kelelahan sampai-sampai tertidur pulas di dalam mobil” ucap Dimas.
“Aduh, kasihan sekali Den istrinya. Ya sudah ayo, segera bawa ke kamar kasihan kalau terlalu lama di mobil. Apa lagi udara di sini sangat dingin” ucap Pak Somat.
Dimas hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil berjalan membuka pintu mobil kemudian ia melepas sabuk pengaman Suci. Lalu, menggendongnya dengan perlahan agar tidak membuat Suci terbangun dari tidurnya.
Dengan langkah kecil Dimas langsung membawa Suci masuk ke dalam Villa sambil diikuti oleh Pak Mamat. Satu demi satu anak tangga telah Dimas lewati sambil menggendong Suci, dan tak lama Pak Somat langsung membukakan kamar untuk memudahkan Dimas.
Saat mereka sudah masuk ke dalam kamar, Pak Somat langsung menutupnya dan pergi ke arah belakang untuk memberitahu kepada Bu Nining agar membuatkan kopi untuk mereka serta camilan agar bisa menemani mereka mengobrol.
“Bu, tolong buatkan kopi untuk Den Dimas ya. Sekalian untuk Bapak juga dan jangan lupa camilannya ya, Bu” ucap Pak Somat dengan lembut.
“Loh, kok hanya Den Dimas toh Pak. Memang istrinya tidak jadi ikut?” tanya Bu Nining dengan wajah bingungnya.
“Istri Den Dimas ketiduran Bu di mobil. Mungkin dia kelelahan, apa lagi kan tahu sendiri perjalanan ke sini sangat memakan waktu. Nanti kalau memang istrinya sudah bangun Bapak kasih tahu untuk membuatkan minuman apa” jawab Pak Somat.
“Ya, Bu. Ya sudah Bapak ke depan dulu sambil menemani Den Dimas” ucap Pak Somat yang diangguki oleh Bu Nining sambil menggoreng bakwan.
Lalu, Pak Somat pun pergi meninggalkan Bu Nining di dapur. Dimas yang sudah menaruh Suci di tempat tidur, langsung membuka alas kaki Suci dan menyelimutinya hingga sampai ke batas dada. Kemudian, Dimas mencium kening Suci sebelum ia pergi bersih-bersih dan lalu ke luar untuk menemui Pak Somat.
...*...
...*...
Malam hari depan Villa
Pak Somat sedang duduk sambil menunggu Dimas datang. Tak lama Pak Somat mendengar langkah kaki yang mendekat.
“Apa Bang Dimas sudah datang, Pak?” tanya Dila dengan wajah penasaran.
“Sudah, sebentar lagi juga Den Dimas ke sini. Lagian, kamu ini gadis-gadis bukannya tidur malah keluyuran toh” ucap Pak Somat yang langsung membuat Dila menyengir kuda.
“Hehe... Ya maaf, Pak. Dila kangen banget sama Bang Dimas. Sudah lama banget Dila enggak ketemu, apa lagi hampir 3 tahun ini. Terakhir Dila ketemu Bang Dimas saat usia Dila 15 tahun” ucap Dila.
“Ya sudah, tapi ingat. Saat ini Den Dimas sudah memiliki istri dan kamu juga sudah mulai dewasa. Jadi Bapak ingatkan untuk menjaga sikapmu dengan baik, jangan sampai menimbulkan kesalah pahaman. Ya, meskipun Den Dimas sudah menganggap kamu sebagai adiknya tapi kamu juga harus tahu batasannya. Paham” ucap Pak Somat dengan tegas.
__ADS_1
“Iya, Pak. Dila paham kok. Lagian juga Dila cuman mau ketemu doang, Pak. Habis itu Dila langsung tidur di rumah hehe...” ucap Dila sambil tersenyum lebar.
Di sela-sela pembicaraan mereka, Dimas pun datang dan berdiri tepat di belakang Dila.
“Sepertinya ada yang sedang membicarakanku, siapa ya? Hem...” goda Dimas yang langsung membuat Dila membalikkan tubuhnya.
Dan betapa terkejutnya saat Dila menatap laki-laki yang sangat tampan, tinggi, putih, bersih dan gagah. Ia benar-benar tidak percaya jika yang di lihatnya adalah Dimas yang ia kenal. 3 tahun Dila tidak bertemu dengan Dimas yang membuat ia benar-benar kagum melihat perubahan drastis dari seorang Dimas yang saat ini bertambah tampan.
“I-ini Ba-bang Dimaskah?” tanya Dila dengan gugup sambil menatap wajah Dimas tak percaya.
“Kalau ini bukan Abangmu, lalu aku ini siapa? Bayangannya kah?” tanya balik Dimas.
“Ya ampun, Bang Dimas. Astaga, Abang kenapa berubah jadi pangeran seperti ini. Ya Allah, Dila jadi pangling loh lihatnya” ucap Dila dengan antusias sambil menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
“Ya inilah Abang kesayanganmu, tampan bukan? Ya, dong. Siapa sih yang enggak tidak kenal ketampananku ini hem, hehe...” ucap Dimas sambil tertawa.
“Ya ampun... Ternyata Bang Dimas tidak berubah ya, Dila kira Bang Dimas akan bersikap cuek kepada orang lain karena saat ini Abang sudah memiliki istri” ucap Dila.
“Hehe... Ya beginilah aku. Aku akan hanya bersikap cuek kepada orang tertentu. Namun, jika aku sudah memiliki kedekatan yang cukup lama dan aku pula sudah mengenalnya dengan baik, pastinya aku tidak akan bersikap seperti itu” ucap Dimas.
“Alhamdulillah, jadi Dila sudah tenang. Dila pikir Abang juga akan cuek ke Dila” saut Dila dengan wajah cemberutnya.
“Mana mungkin aku cuek sama adikku sendiri yang bawel kek kamu ini...” ucap Dimas sambil mengacak-acak rambut Dila, lalu ia duduk di samping Pak Somat yang hanya bisa tersenyum menatap keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hallo semuanya... Apa kabar kalian semua saat ini... 😃😃😃
Author ingin meminta maaf pada kalian semuanya di sini... 😔😔😔
Beberapa hari ini Author hanya bisa update 1 bab sehari ☹️☹️☹️
Karena jadwal kesibukan di RL jadi tidak bisa sering-sering update 😣😣😣
Tapi terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini guys... 🥺🥺🥺
Terima kasih dan sayang kalian banyak-banyak semuanya 🙏🏻🥰❤️
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1