
Akhirnya mereka tertawa bersama.Tak lama mereka sampai di kantor Dimas. Kedua satpam menyambut Dimas dan Suci sambil membukakan pintu untuk mereka. Lalu, Dimas keluar sambil sedikit membenarkan jasnya dan berjalan gagah untuk menjemput Suci.
Bagaikan seorang Prince dan Princess yang membuat semua mata tertuju kepada mereka. Banyak wanita merasa iri kepada Suci karena di perlakukan begitu romantis oleh Dimas. Sedangkan banyak para laki-laki yang menatap kagum ke arah Dimas yang telah di anugerahi istri sebaik Suci. Kemudian, mereka berdua berjalan ke arah lift khusus untuk segera sampai di ruangan Dimas.
Di dalam lift...
“Ya ampun, Mas. Kamu ini ada-ada saja. Lihat kan tadi bagaimana semua karyawanmu menatap ke arahku. Aduh, aku jadi malu loh Mas. Takutnya mereka kira aku ini terlalu lebay” ucap Suci dengan wajah memerah.
“Biarkan saja, toh kamu istriku. Siapa pun yang akan berani berbicara seperti itu tentangmu, maka detik itu juga aku akan mengeluarkannya dari perusahaan ini. Lebih baik aku kehilangan karyawan dari pada mendengar istriku di rendahkan” jawab Dimas dengan sangat tegas yang membuat Suci semakin mengaguminya.
Entah kenapa, kata-kata sesederhana itu yang keluar dari mulut Dimas membuat hati Suci terasa sangat adem dan nyaman. Hingga akhirnya lift pun berbunyi.
Ting !...
Setelah pintu terbuka lebar mereka berdua langsung keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Dimas. Namun saat ingin memasuki ruangan Dimas, Suci melihat meja Lisa kosong.
Lalu, Suci bertanya kepada Dimas. “Mas ini kenapa meja Lisa kosong? Apa dia sedang libur?”
“Lisa sedang izin tidak masuk untuk 1 bulan ini, karena ibunya sedang jatuh sakit dan membutuhkan dia selama pengobatan. Jadi, mau tidak mau aku harus mengizinkan dia dan aku juga sudah konfirmasi ke Dion untuk mencarikan sekretaris pengganti Lisa untuk sementara sambil menunggu ia kembali bekerja” ucap Dimas sambil memasuki ruangannya.
“Oh begitu, Mas. Jadi, Mas sedang mencari sekretaris pengganti? Bagaimana kalau sahabatku saja yang bekerja di sini dia lulusan perkantoran kok, cuma sekarang dia bekerja di sebuah toko kecil gitu. Tapi aku yakin dengan sedikit belajar dia pasti akan terbiasa, dan kalau nanti Lisa sudah bekerja maka sahabatku bisa mas pindahkan jadi karyawan lain pun tidak apa-apa. Nanti kalau Mas setuju aku langsung hubungi dia” saut Suci yang ikut masuk bersama Dimas, lalu ia duduk di sofa bersama Dimas.
“Ya sudah, kamu hubungi saja sekarang. Suruh dia datang ke sini dan bawa surat-suratnya. Nanti akan aku jelaskan semuanya, jika dia layak maka aku akan menerimanya. Jika tidak, maaf. Aku tidak bisa menerimanya karena ini perusahaan besar, aku tidak mau ambil resiko. Kamu paham kan, sayang?” ucap Dimas dengan sangat lembut agar tidak sampai melukai hati Suci.
“Ya, Mas. Suci paham kok, mudah-mudahan saja sahabatku ini bisa masuk kriteria pekerja di sini. Soalnya kasihan hidupnya serba kekurangan, aku pun yang melihatnya seperti kembali dengan keadaanku yang dulu” jawab Suci.
“Ya sudah, kamu ke kamar saja gih istirahat aku mau siap-siap dulu karena sebentar lagi ada meeting. Jadi, kamu bisa istirahat sambil menghubungi sahabatmu itu” ucap Dimas.
Suci pun menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju kamar yang ada di ruangan Dimas. Ya memang, ruangan itu khusus untuk Dimas beristirahat jika ia merasa sangat lelah. Bahkan di saat ia kelelahan dan tidak kuat untuk menyetir mobil, maka Dimas menginap di sini.
Suci yang sudah berada di kamar langsung duduk di atas kasur sambil menaruh tas kecilnya di meja kecil samping kasur. Lalu, ia menelepon Elsa untuk memberikan kabar baik ini.
__ADS_1
...*...
...*...
Jam 10 siang
Kini Elsa selaku sahabatnya Suci sudah sampai di depan perusahaan Dimas. Ia menatap kagum ke arah bangunan besar yang menjulang sangat tinggi dengan desain indahnya.
“Astaga, ini kantor atau istana? Gila, ini sih namanya Sultan habis. Beruntung banget Mbak Suci bisa menikah dengan laki-laki setajir Mas Dimas. Sedangkan aku malah menunggu suami orang cerai, adeh... Nasib-nasib” ucap Elsa yang langsung memasuki kantor Dimas.
Elsa yang saat ini menggunakan pakaian ala kadarnya membuat ia di pandang sebelah mata oleh beberapa karyawati lainnya.
“Ckk! Apa-apaan sih ini, kenapa semua orang melihatku seperti itu. Memang ada yang salah dengan pakaianku? Namanya juga orang miskin, ya beginilah pakaiannya. Toh kalau aku sudah bekerja di sini juga aku akan merubah penampilanku biar tambah cantik ” celetuk Elsa di dalam hati kecilnya sambil berjalan menuju resepsionis.
Sesampainya di meja resepsionis Elsa langsung menanyakan sesuatu “Permisi, Mbak. Apa benar ini dengan perusahaan Tuan Dimas suami dari Mbak Suci?”
“Ahya... Benar, Mbak. Mohon maaf, Mbak ini dengan siapa ya? Dan ada keperluan apa ke sini?” tanya resepsionis dengan ramah.
“Baiklah, Mbak. Jika sudah ada janji dengan beliau. Mari saya antarkan ke ruangan beliau” ajak resepsionis sambil berjalan menuju lift.
Elsa hanya mengikuti kemana pun resepsionis itu pergi agar ia segera bisa menemui Suci. Sesampainya di dalam lift, Elsa selalu menatap langit-langit lift yang sangat bagus. Terlihat jelas di sini desain semuanya simpel elegan namun sangat mewah dan pada saat lift berbunyi, itu menandakan bahwa mereka sudah sampai di tujuan.
Ting !...
Pintu lift terbuka sangat lebar, yang membuat mereka berdua segera keluar, lalu resepsionis tersebut berjalan lebih dulu. Saat berada di depan pintu ruangan Dimas, resepsionis menyuruh Elsa untuk tunggu sebentar di luar karena ia ingin memastikan apakah benar yang di katakan Elsa ataukah hanya mengada-ngada saja.
Elsa hanya bis menuruti perkataan resepsionis tersebut, sambil menatap seluruh penjuru kantor Dimas yang terlihat sangat mewah.
Tok... Tok... Tok..
Resepsionis pun mengetuk pintu dengan sangat sopan.
__ADS_1
“Ya, silakan masuk...” saut Suci dari dalam ruangan.
Resepsionis pun masuk sambil sedikit membungkukkan badannya dan berkata “Permisi Bu, maaf mengganggu waktunya. Di depan ruang ada Mbak-mbak yang bernama Elsa Anandita. Katanya dia sudah ada janji dengan Ibu Suci, apakah benar Bu?”
“Ya, benar Mbak. Ya sudah suruh masuk saja dan terima kasih ya Mbak sudah mau mengantarnya ke sini” ucap Suci dengan sangat ramah dan penuh senyuman.
“Sama-sama, Bu Suci. Ini sudah tugas saya, ya sudah saya akan menyuruh Mbak Elsa untuk masuk ke dalam dan sekalian saya pamit kembali ke tempat” jawab resepsionis dengan tersenyum.
“Sekali lagi terima kasih ya, Mbak. Dan jangan lupa semangat kerjanya” ucap Suci sambil memberikan semangat yang membuat resepsionis pun tersenyum lebar.
Lalu ia sedikit membungkuk hormat kepada Suci, dan langsung meninggalkan ruangan. Tak lama Elsa masuk ke dalam ruangan dengan wajah senangnya.
“Assalammuaikum, Mbak Suci... Aduh, aku kangen banget loh” ucap Elsa yang langsung berlari memeluk Suci.
“Waalaikumsalam, hehe... Sama aku juga kangen banget sama kamu loh. Bagaimana kabarmu? Apa kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu?” Tanya Suci yang sambil memeluk Elsa kemudian melepaskannya.
“Masih, Mbak. Tadi pagi aku habis ketemu dengan Mas Fajar. Tapi saat aku mendengar cerita dia tentang hubungan badannya bersama istrinya itu, malah membuat aku semakin sakit. Padahal aku yang ingin tahu tentang itu, tapi aku pula yang sakit hehe...” ucap Elsa yang membuat Suci sedikit terkejut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Chubby ini... 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1