
Arsya yang melihat kedua orang tuanya begitu bahagia, malah ia merasa sangat bersalah dan juga sedikit membuat wajahnya murung.
“Ya itu semua benar Bun, ta-tapi...” ucap Arsya sambil menundukkan wajahnya tak berani ia menatap wajah kedua orang tuanya.
“Laki-laki pantang menundukkan kepalanya saat ia sedang mengatakan sesuatu yang menyangkut dengan perasaan” sahut Ayah Al yang benar-benar tahu isi kepala dari Arsya.
Lalu Arsya mengangkat wajahnya dan menatap kedua orang tuanya sambil berkata, “Arsya minta maaf karena Arsya melakukan ini demi membantu Suci, agar ia bisa membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang telah menyakitinya. Arsya akan buat mereka satu persatu merasakan apa yang saat ini Suci rasakan”
Arsya melirik Suci yang hanya duduk terdiam dengan menatap layar televisi besar di hadapannya. Terlihat jelas jika Suci memang sedang menonton televisi, namun tatapannya begitu kosong hingga membuat Arsya tidak tega jika terus menerus melihat keadaan Suci yang semakin hari semakin tidak karuan.
“Apa hanya karena itu kamu menikahinya, Sya... Apa tidak ada hal lain yang membuatmu bisa senekat ini?” tanya Bunda Reni untuk memastikan apakah Arsya memiliki perasaan terhadap Suci ataukah tidak.
Arsya menatap sang Bunda dan kembali menatap Suci, ia tidak mau jika Suci sampai mendengar ini. Arsya tahu jika Suci menikah dengannya hanya untuk membalaskan dendamnya, dan bukan karena mereka saling mencintai.
“Apa kamu sudah mulai mencintai Suci?” tanya Bunda Reni kembali saat melihat Arsya tak henti-hentinya memandangi Suci.
Bunda Reni bisa merasakan jika saat ini Arsya seperti enggan untuk mengalihkan pandangannya dari Suci. Sedangkan Ayah Al terus memperhatikan setiap gerak-gerik Arsya yang membuatnya bisa mengerti apa yang Arsya rasakan.
“Tidak usah menjawab kami dengan perkataan. Kamu cukup mengangguk atau menggelengkan kepalamu, maka kami sudah paham” ucap Ayah Al yang membuat Bunda Reni dan Arsya menoleh ke arahnya.
Bunda Reni memang sangat tahu jika ikatan hati Ayah Al dengan Arsya begitu kuat sehingga ia sangat hafal apa yang Arsya rasakan, dan Arsya pun langsung menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Bunda Reni dan Ayah Al tersenyum melihat anak semata wayang mereka telah kembali merasakan cinta yang telah mati beberapa tahun lalu.
“Baiklah, kami merestuinya” ucap Ayah Al yang mampu membuat Suci langsung menoleh ke arahnya.
“Apa kalian setuju jika aku menikah dengan Mas Arsya hanya demi sebuah balas dendam?” tanya Suci untuk pertama kali dengan wajah datarnya.
Bunda Reni dan Ayah Al saling menatap satu sama lain dan kemudian mereka menganggukkan kepala mereka dalam keadaan tersenyum.
“Apa kalian tidak membenciku karena setelah misiku selesai aku akan meninggalkan semuanya dan kembali hidup dengan jalanku sendiri” tanya Suci kembali yang langsung membuat wajah Arsya sedikit murung.
Entah mengapa perkataan Suci begitu menyakitkan untuknya. Ya walau pun ia tahu jika pernikahan ini hanya dirinyalah yang mencintai Suci, sedangkan Suci hanya ingin membalaskan dendamnya.
“Kami tidak akan membencimu sayang, karena kami tahu sebenarnya kamu adalah wanita yang sangat baik. Hanya saja para Iblis itu telah merubahmu untuk menjadi wanita yang sedikit menggigit hehe...” ucap Bunda Reni dengan candanya.
“Apa kamu siap menikah denganku tanpa harus menggunakan perasaan? Aku tidak mau menyakitimu jika nanti misiku selesai. Kamu terlalu baik untukku Mas, dan aku tidak pantas menerima perasaanmu itu” ucap Suci.
__ADS_1
Meskipun perasaan Arsya sangat sakit saat mendengar penuturan kata Suci, tetapi ia harus tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bagi Arsya yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan Suci, agar ia bisa kembali menjadi Suci yang penuh keceriaan.
“Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Jika memang kalian bersatu karena jodoh, maka Allah pasti akan sematkan perasaan itu kepada kalian. Namun jika memang kalian bersatu hanya untuk sementara, maka perasaan itu tidak akan pernah hadir meskipun kalian telah berusaha menghadirkannya” ucap Ayah Al dengan segala ketegasannya.
“Aku permisi ke kamar...” ucap Suci yang langsung pergi ke kamar dengan wajah datarnya.
Ini kali pertama mereka kembali mendengar suara Suci yang cukup lama, karena biasanya Suci hanya berbicara secara singkat atau ia akan memilih untuk berdiam diri. Ayah Al yang melihat anaknya begitu sedih dengan ucapan Suci, membuat ia bergerak untuk mendekati Arsya dan menepuk-nepuk kecil punggungnya.
“Sabar ya, Ayah tahu kamu adalah pria yang kuat jadi jangan mudah menyerah. Biarkan dia mau berbicara apa karena kita tahu saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja, jadi wajar saja bila dia berkata seperti itu"
"Mungkin saat ini Suci sangat kecewa akibat cinta pertama yang ia sudah percayakan kepada seorang laki-laki, kini telah di patahkan begitu saja” ucap Ayah Al yang membuat Arsya menoleh ke arahnya.
“Bunda tahu tidak mudah untukmu kembali membuka hati seperti ini, karena Bunda sangat tahu bagaimana rapuhnya Arsya pada saat itu. Jadi tugas Arsya saat ini adalah bagaimana Arsya bisa membuat cinta yang ada di dalam hati Suci kembali tumbuh seperti cinta yang kembali tumbuh di dalam diri Arsya"
"Bunda yakin kok suatu saat nanti kalian akan saling mencintai dan juga hidup bahagia bersama, karena terdapat doa orang tua yang akan menjadi pembuka jalan untuk kalian berdua bisa bersatu” ucap Bunda Reni sambil tersenyum memegang tangan Arsya.
Baru kali ini Arsya benar-benar merasakan kekuatan yang sangat luar biasa dari kedua orang tuanya yang tidak pernah ia dapatkan saat bersama masa lalunya. Arsya memeluk Ayah Al secara laki-laki yang membuat Ayah Al tersenyum. Lalu ia memeluk Bunda Reni yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya bersamaan dengan air matanya mengalir.
*
*
Tepat pada hari ini adalah hari dimana hubungan Suci dan Dimas akan benar-benar berakhir hanya dalam hitungan beberapa jam saja. Saat ini Suci sedang bersiap diri serta menguatkan hatinya yang pasti akan kembali hancur saat bertemu dengan orang yang selama ini ia perjuangkan atas nama cinta. Namun pada akhirnya mematahkannya pun atas nama cinta.
Suci tidak akan menghadapi semuanya seorang diri karena Arsya, Bunda Reni dan Ayah Al ikut bersamanya sebagai penguat agar Suci merasakan kalau dirinya tidaklah sendirian. Ya meskipun mereka tahu jika Suci benar-benar mengalami depresi berat, cuma mau bagaimana lagi. Persidangan hanya boleh di hadiri oleh penggugat dan tergugat tanpa perwakilan.
“Sayang, bagaimana? Apakah kamu sudah siap?” ucap Bunda Reni yang baru masuk ke kamar Suci dengan senyuman sangat manis.
Suci berbalik arah menatap Bunda Reni dengan sedikit senyuman dan berkata, “Insya Allah, Bun...”
Bunda Reni berjalan mendekati Suci dan merapikan sedikit hijabnya yang berantakan dan berkata, “Sayang, ingat ya... kamu itu tidak akan pernah merasakan sendirian karena Bunda, Ayah dan Arsya calon suamiku akan terus ada di sampingmu sampai kapan pun”
“Bunda tahu mungkin hari ini adalah hari yang sangat berat untuk Suci jalani, tapi Suci harus tetap semangat. Tunjukkan pada mereka kalau kamu adalah wanita yang kuat. Jangan biarkan mereka melihatmu dalam keadaan selemah ini karena itu akan membuat mereka semakin merasa menang”
Bunda Reni mencoba untuk memberikan semangat untuk Suci agar ia tetap kuat menghadapi persidangan hari ini.
__ADS_1
“Terima kasih, Bun... kalian sudah selalu mendukung Suci. Suci mau peluk Bunda, boleh? Suci cuma ingin merasakan seperti apa kekuatan Bunda karena Bunda adalah panutan untuk Suci agar bisa menjadi wanita yang kuat dan juga tegar kaya Bunda” ucap Suci yang membuat Bunda Reni tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya.
Lalu Suci segera memeluk Bunda Reni dengan sangat erat, hingga tak terasa setetes air mata runtuh di pipi Suci.
“Uluhh... anak Bunda, semangat ya sayang. Bunda yakin Suci kuat kok, bahkan lebih kuat dari Bunda. Jadi jangan pernah lagi menyerah untuk semua cobaan ini. Bunda mau Suci buktikan pada mereka jika calon istri Arsya bukan wanita yang lemah seperti mantan istri Dimas, okee...” ujar Bunda Reni sambil memeluk Suci penuh kasih sayang.
Tidak lama kemudian Suci melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bunda Reni, lalu ia mencium pipinya yang refleks membuat Bunda Reni tersenyum bahagia. Kemudian Bunda Reni meraup wajah Suci dan menghapus butiran air yang menetes dan mencium keningnya.
Arsya yang melihat itu dari luar kamar Suci pun merasa sedikit tersenyum karena ia kira Suci akan kembali drop, namun nyatanya Suci malah sudah sangat siap dengan semua yang akan ia lewati hari ini di pengadilan.
“Ekhem...” Arsya berdehem yang membuat keduanya terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu.
“Ya ampun Arsya, kamu ini bikin Bunda kaget loh...” ucap Bunda Reni dengan sedikit kesal.
“Maaf Bunda... Jadi bagaimana, apa sudah siap semuanya? Karena Ayah sudah menunggu di bawah dan waktu persidangan tidak banyak lagi Bun, Suci...” ucap Arsya.
Bunda Reni mantap Suci seolah meminta jawab darinya, dan Suci mengangguk-anggukan kecil kepalanya.
Lalu Bunda Reni menggenggam tangan Suci sebagai penguat untuknya serta berjalan mendahului Arsya, sehingga Arsya menatap keduanya dengan tatapan sebal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello... Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊
Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
__ADS_1
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻