
Namun bukannya merasa kesal atau terkejut, Suci malah semakin tertawa geli karena menurut Suci wajah Arsya terlihat imut dan Lucu. Arsya yang mendapatkan balasan tawa dari Suci pun merasa semakin geram dan dia langsung saja berbicara dengan berteriak kepada Suci dari tengah tangga menuju lantai 2.
“Jangan pergi ke mana pun selama aku pergi mencuci mukaku, jika kamu pergi lebih dulu meninggalkanku... maka aku akan marah padamu dan tidak mau berbicara denganmu lagi. Pokoknya jangan pergi lebih dulu meninggalkanku okay...” teriak Arsya sambil menunjuk ke arah Suci.
“Baiklah, aku akan menunggu kamu di sini Mas. Jika kamu tidak kembali dalam waktu 10 menit, maka aku akan pergi sendiri ke mana pun aku mau tanpa mengatakannya padamu. Jadi kamu tidak akan tahu aku pergi ke mana dan dengan siapa” teriak Suci yang malah membuat Arsya semakin geram.
“Yaaakkk... kamu tidak boleh bicara seperti itu atau anak kita akan mendengarnya. Pokoknya tunggu aku dan jangan kau berani pergi ke mana pun atau dengan siapa pun itu. Paham kamu, Suci Permata Sari!” tegas Arsya yang langsung berlari masuk ke dalam kamar mereka untuk mencuci mukanya.
“Hahaha... Mas Arsya sangat lucu. Kenapa juga dia tiba-tiba bertingkah aneh dan kekanak-kanakan seperti ini ya... apakah semua ini karena mood swing kehamilanku? Sudahlah, lebih baik aku pergi ke dapur dan mengambil minuman dingin karena aku merasa sedikit haus...”
Suci berbicara sambil dia berdiri dan berjalan menuju dapur untuk mengambil jus yang ada di kulkas dan menuangnya ke gelas. Lalu Suci berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi yang mana tertutup oleh pilar rumah sehingga membuatnya tidak terlihat jika di lihat dari arah ruang tamu.
Tidak lama kemudian Arsya turun dari kamarnya menuju ruang tamu dan dia sangat terkejut saat melihat bahwa Suci tidak ada di ruang tamu. Dengan rasa panik dan sedihnya, Arsya berteriak dengan sangat kencang memanggil nama Suci dengan matanya yang sudah kembali berlinangan air mata.
“Suci... ka-kamu ada di mana? Hiks... ka-kamu pergi tanpa aku... ka-kamu jahat Suci, kamu jahaat... huuuaaa...” tangis Arsya pecah karena dia tidak mendengar satu pun jawaban dari Suci yang mana saat ini Suci sedang minum sehingga dia tidak bisa menjawab perkataannya Arsya.
__ADS_1
Arsya menangis sambil duduk di lantai depan ruang tamu sambil menggerakkan kedua kakinya seperti anak kecil yang sedang menangis dan ngambek pada orang tuanya. Lalu Suci yang baru selesai minum pun langsung berjalan cepat menuju Arsya. Suci pun terkejut saat melihat keadaannya Arsya yang mana jauh lebih parah daripada sebelumnya.
Suci pun duduk di samping Arsya sambil memeluknya dan mencoba untuk menenangkan Arsya seperti seorang Ibu yang sedang menenangkan putranya yang sedang menangis. Arsya yang menyadari bahwa Suci belum pergi dan ada di sampingnya pun langsung memeluk Suci dengan erat dan sedikit menekan perutnya Suci yang membuncit.
“Aaw... aaargh... sa-sakit Mas, ka-kamu menekan pe-perutku. Le-lepaskan pelukanmu Ma-Mas, nanti a-anak kita a-akan terluka aaawwghh...” erang Suci yang mana membuat Arsya langsung melepaskan pelukannya dan dia pun mengelus-elus perutnya Suci dengan lembut.
“Ma-maaf sayang, ma-maaf bayiku... Da-Daddy tidak se-sengaja melukaimu hiks... Da-Daddy minta ma-maaf sayangku, ma-maafin Daddy ya ka-karena membuatmu dan Mo-Mommy merasa sakit se-seperti ini hiks...” tangis Arsya sambil mengelus dan mencium perutnya Suci yang mana membuat rasa sakitnya Suci semakin berkurang.
“Tidak apa-apa Mas, sekarang rasa sakitnya sudah berkurang setelah kamu menciumnya. Tapi kenapa kamu berteriak dan menangis seperti ini Mas? Aku ada di meja makan kok, memangnya kamu tidak melihatku di sana?” tanya Suci sambil menghapus air matanya Arsya.
“Ti-tidak... aku tidak me-melihat kamu di sana, la-lalu kamu juga tidak menjawab panggilanku ja-jadi aku berpikir kalau kamu sudah pe-pergi tanpa aku hiks...” jawab Arsya yang mana kini sudah mulai tenang karena dia tahu bahwa Suci masih di sampingnya dan tidak pergi meninggalkannya.
“Kalau begitu aku akan meminta seseorang untuk menghilangkan pilar tersebut, karena pilar itu aku jadi berpikir kalau kamu meninggalkanku. Aku juga jadi menangis seperti anak kecil yang di tinggalkan oleh orang tuanya hump...” kesal Arsya sambil membulatkan wajahnya yang mana terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
“Aduduuhh... kenapa sih suamiku ini selalu bertingkah lucu dan menggemaskan seperti ini. Aku jadi tak akan pernah tega meninggalkannya sendirian dan membiarkan wanita lain mendekatinya” jawab Suci sambil mencubit kedua pipinya Arsya.
__ADS_1
“Eemm... aku ini tampan dan keren, bukannya lucu dan menggemaskan! Tapi aku senang karena setidaknya kamu tidak akan meninggalkanku, jadi aku akan sering-sering bertingkah seperti ini saja deh hihi...” tawa Arsya dengan bahagia setelah mendengar ucapannya Suci yang terdengar manis di telinganya.
“Kalau begitu ayo kita duduk dulu di sofa ruang tamu sambil menunggu matamu tidak lagi sembab. Padahal sebelumnya tidak terlalu terlihat, tapi karena kamu menangis lagi yang mana lebih parah jadi matamu semakin parah deh sembabnya” ucap Suci sambil berdiri dan begitu juga dengan Arsya.
“Lalu bagaimana dengan pengecekan kandunganmu? Apakah kamu akan pergi sendirian ke sana? Atau kamu tidak mau pergi ke rumah sakit bersama denganku ya?” tanya Arsya dengan wajah sedihnya yang saat ini sudah duduk di sofa dengan Suci.
“Bukan seperti itu Mas, tapi aku ini akan meminta untuk mengundurkan jadwal mengecekkan saja. Nanti kita bisa pergi ke rumah sakit bersama-sama di saat kamu sedang dalam kondisi yang memungkinkan, tidak seperti ini hihihi...” tawa Suci yang melihat matanya Arsya yang sangat sembab.
“Terus saja kamu tertawa sampai puas, semua ini gara-gara kamu sendiri jadi mataku sembab. Tapi sudahlah, yang penting aku bisa pergi mengecek keadaan anak kita bersama-sama nanti. Kamu senang kan sayang?” tanya Arsya sambil mengusap perutnya Suci.
“Aargh... dia baru saja menendang lagi, sepertinya dia sangat senang saat tahu bahwa Daddy dan Mommynya akan pergi bersama-sama untuk memeriksa kondisinya. Aku bisa pastikan bahwa dia akan menjadi pria yang seperti dirimu karena dia selalu saja aktif saat kamu berada di dekatnya” ucap Suci saat merasakan tendangan kecil dari calon anaknya.
“Tentu saja, aku akan membuatnya menjadi Raja atau pun Ratu yang akan menjadi kebanggaan bagi kita semua. Tidak akan ada orang yang berani untuk menyakitinya karena dia akan tumbuh menjadi orang yang sukses, berhati baik, cerdas, ramah dan juga peduli pada sesama sepertimu dan aku” ucap Arsya dengan pedenya.
“Amin allahumma aamiinn... kamu ini benar-benar sangat percaya diri dengan semua ucapanmu itu seakan-akan kamu sudah menebak masa depannya saja. Tapi aku juga yakin karena dia memiliki Daddy yang hebat seperti dirimu dan keluarga yang hangat seperti ini” ujar Suci sambil mengelus-elus perutnya sendiri.
__ADS_1
Lagi dan lagi anak dalam kandungannya Suci kembali menendang saat merasakan tangannya Arsya dan Suci mengelusnya. Suci dan Arsya tersenyum bersama setelah merasakan jawaban kehangatan anak mereka. Lalu Suci menyandarkan kepalanya di bahunya Arsya dan Arsya pun merangkul Suci dengan lembut.
Hari ini terlihat dengan sangat jelas bahwa hari-hari yang mereka lewati menjadi semakin membahagiakan dan penuh dengan cahaya terang. Suci dan Arsya semakin di buat tidak sabar untuk bertemu dengan anak mereka yang akan segera terlahir ke dunia ini. Mungkin hari tersebut akan menjadi hari terbaik bagi mereka berdua dan juga Bunda Reni serta Ayah Al.