Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Menyakiti 2 Hati Sekaligus


__ADS_3

“Aku tahu pikiran dan juga tujuanmu menikah dengan Mas Dimas itu untuk apa, Sa. Bahkan di balik sifat diamku ini bukan berarti aku takut padamu, tetapi aku diam karena aku ingin melihat sejauh apa kamu bisa melakukan hal licik padaku”


“Mungkin kamu masih melihatku sebagai Suci yang lemah, tetapi saat ini tidak lagi Sa. Aku akan menjadi wanita yang kuat untuk membela kebenaran, dan jika aku harus kehilangan Mas Dimas aku rela. Tetapi aku tidak rela jika kamu bisa hidup dengan tenang tanpa mereka tahu siapa dirimu yang sebenarnya, Sa...”


Suci berbicara di dalam hatinya sambil tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Kemudian Lisa yang melihatnya pun segera memeluk Suci dari samping sehingga membuatnya sedikit terkejut dan tersenyum.


“Apa kamu sudah gila, Dimas! Kamu rela menyakiti istri yang benar-benar tulus mencintaimu, demi wanita ular seperti itu? Astaga, kamu benar-benar sudah berubah Dimas. Aku seperti tidak lagi bisa melihat Dimas yang aku kenal dulu. Tapi untuk sekarang aku hanya bisa mendoakan semoga di saat kamu tersadar nanti, kamu belum terlambat untuk memperbaiki semuanya...” gumam Dion sambil menatap Dimas.


Kini acara pun semakin penuh ketegangan, sudah saatnya Dimas menjabat tangan penghulu dengan begitu gagahnya. Kemudian ia mengucapkan ijab kabul yang mana membuat Suci tidak bisa lagi membendung air matanya.


Suci menangis sambil tersenyum melihat semuanya. Seakan-akan jika dia bisa berlari sekuat tenaga untuk meninggalkan gedung itu, ia pasti akan lakukan. Namun sayangnya, Suci lebih memilih untuk menyaksikan kehancuran dirinya yang telah di mulai.


“Saya terima nikah dan kawinnya Elsa Anandita dengan mas kawin sebesar 500 gram dan uang sebesar 100 juta rupiah di bayar tunai” ucap Dimas dengan lantang sambil menatap wajah sang penghulu.


“Bagaimana saksi...” sahut sang penghulu sambil menatap semua saksi dan para tamu yang hadir.


Saaaahhhhhh...


Teriak semuanya yang membuat Dimas dan juga Elsa tersenyum, sedangkan Suci ia semakin berlinang air mata menyaksikan apa yang tidak pernah ia bayangkan selama ini. Rasanya Suci ingin sekali menyerah serta mengucapkan kata TIDAK bersamaan dengan hatinya yang hancur, rapuh, sakit dan juga kecewa.


Namun Suci urungkan niatnya itu, untuk menyelamatkan anak di dalam kandungan Elsa agar anak itu bisa memiliki keluarga yang lengkap. Sang penghulu langsung mengucapkan doa-doa untuk kedua mempelai agar bisa hidup bahagia.


Sedangkan Dion dan Lisa mereka saling menatap satu sama lain saat melihat ketegaran serta keikhlasan hati seorang istri ketika melihat suaminya menikahi sahabatnya sendiri. Mungkin jika yang Dimas nikahi adalah wanita lain, maka rasa sakit di dalam hati Suci tidak akan berkali-kali lipas seperti ini.


Tanpa mereka semua sadari, ada seorang pria yang berdiri di depan pintu gedung masuk dengan wajah yang sangat kecewa. Siapa lagi jika bukan Fajar. Ya di sini Suci mencoba untuk mencari tahu nomor Fajar melalui ponsel Elsa yang mana pada saat itu Elsa tanpa sengaja meninggalkan ponselnya di ruang keluarga tanpa memakai kunci layar.


Sehingga diam-diam Suci mencari nomor Fajar untuk memberikan info penting padanya. Suci awalnya berharap jika Fajar bisa membatalkan pernikahan ini, tapi sayangnya ia terlambat untuk datang. Jadi mau tidak mau mereka menerima semua takdir mereka.


Ada 2 hati yang sangat bahagia, dan ada pula 2 hati yang sangat kecewa. Awalnya Fajar ingin memberitahu kepada Elsa jika dirinya sudah terbebas dari jeratan wanita gila yang sudah tidak lagi menjadi istrinya. Cuman semua itu sia-sia, kini perjuangan Fajar seperti tidak ada artinya lagi untuk Elsa.


“Kemarin kamu memberikanku janji selama 5 bulan untuk segera meninggalkan dia, namun di saat aku sudah menepati janji itu kamu malah mengikarinya, Sa...”


“Padahal ini baru berjalan selama 3 bulan Sa, tapi kenapa kamu begitu tega menyakiti 2 hati sekaligus. Aku seperti tidak mengenal Elsa yang dulu adalah wanita manis, baik dan juga ceria. Sekarang kamu seperti wanita yang tidak memiliki hati. Kamu lebih memilih merebut suami sahabatmu sendiri dari pada kembali bersamaku, Sa...”


“Baiklah, jika ini pilihanmu. Aku akan mencoba untuk mengikhlaskanmu, dan bahkan aku ingin mengucapkan terima kasih berkat dirimu aku bisa terlepas dari wanita gila itu. Aku berdoa supaya kalian bisa terus bahagia tanpa merasakan pahitnya karma, Sa...”

__ADS_1


Fajar menatap ke arah Dimas dan Elsa yang saat ini sedang melakukan penyerahan mahar serta melakukan pemotretan. Suci yang tidak sengaja menoleh ke arah belakang membuat ia langsung berdiri.


“Loh Mbak, Mbak mau kemana kok berdiri?” tanya Lisa dengan wajah cemasnya.


“Kalian tunggu di sini sebentar ya, aku mau ke sana dulu” ucap Suci sambil menghapus air matanya dan pergi begitu saja.


“Pak Dion itu Mbak Suci mau kemana, aku jadi khawatir deh” saut Lisa yang tak sengaja memegang tangan Dion dengan wajah khawatirnya sambil celingak-celinguk menatap kepergian Suci.


Deghh...


Degghhh...


Deegghhh...


Dion menatap tangan Lisa yang memegang erat tangannya, seketika membuat ia kembali merona. Bahkan Lisa yang sudah menyadarinya pun segera menarik tangannya.


“Eh... Ma-maaf, Pak e... a-anu... Sa-saya ti-tidak sengaja suerr... Enggak bohong kok, saya bukan modus ya” ucap Lisa dan Dion yang menyadari itu pun seketika menjadi gugup.


“Ti-tidak apa-apa...” jawab Dion sambil membenarkan cara duduknya sambil membuang muka.


“Astaga, Lisaa!! Kenapa kamu bod*doh banget sih, ngapain megang-megang tangan Pak Dion. Pasti saat ini dia mengira jika aku sedang modus padanya huaaa... Bagaimana ini...” pekik Lisa di dalam hatinya sambil membuang muka.


Kemudian Dion tersenyum sambil mencoba untuk menetralkan kegugupannya saat merasakan kelembutan tangan Lisa. Begitu juga dengan Lisa, setelah ngomel-ngomel dia malah jadi senyum-senyum sendiri akibat mengingat betapa kekarnya tangan Dion.


Mereka memang mempunyai rasa gengsi yang sangat besar, padahal keduanya sama-sama tahu jika mereka memiliki perasaan antara satu sama lainnya. Hanya saja mereka takut jika nanti salah satu mengungkapkannya lebih dulu dan jawabannya penolakan, pasti mereka tidak akan menjadi sedekat sekarang.


Jadi mereka memutuskan untuk tetap seperti ini mungkin jauh lebih baik. Mereka bisa semakin dekat, ya walaupun tanpa status, tapi mereka senang.


...*...


Fajar yang sudah puas melihat kekasihnya lebih memilih pria lain, kini langsung membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan gedung itu. Namun saat ia mau melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia mendengar suara yang tidak asing.


“Tungguuu...” ucap Suci sambil mendekatinya, lalu Fajar kembali membalikkan tubuhnya menatap Suci.


“Ada apa, Mbak?” tanya Fajar sambil tersenyum.

__ADS_1


“Boleh aku berbicara padamu? Karena ada pertanyaan penting yang harus aku tanyakan padamu” ucap Suci.


“Pertanyaan soal apa ya, Mbak?” tanya Fajar penuh kebingungan.


“Tidak enak jika berbicara di sini, bagaimana jika kita berbicara di belakang gedung saja. Aku lihat di sana tadi ada taman kecil gitu, biar lebih nyaman. Aku tidak mau jika ada yang mendengar obrolan kita” ucap Suci.


“Baik, Mbak. Aku juga ada yang mau di ucapkan sama Mbak” sahut Fajar.


“Ya sudah, ayo ikut aku” ucap Suci sambil menunjukkan jalan yang di ikuti Fajar di belakangnya.


Lalu Suci dan Fajar berjalan melewati samping gedung, hingga akhirnya mereka duduk di sebuah kursi panjang yang berada di taman dengan suasana yang begitu sepi.


“Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengambil nomormu dengan sangat lancang dari ponsel Elsa, tapi aku harus lakukan ini agar kamu tahu bagaimana kelakuan Elsa di belakangmu”


“Aku melakukan ini bukan semata-mata aku ingin menunjukkan betapa jeleknya sifat Elsa, namun aku melakukan ini hanya demi membuat sadar jika Elsa yang saat ini kita kenal bukanlah Elsa yang dulu”


“Entahlah aku sendiri pun tidak tahu kenapa Elsa bisa melakukan ini, yang jelas aku tahu tujuan dia menikah dengan suamiku itu hanya untuk menikmati hidup sepertiku. Aku juga berpikir sepertinya Elsa berusaha untuk menyingkirkan aku dari sisi suamiku”


Suci berbicara sambil menatap lurus ke depan, sambilmengutarakan isi hatinya karena ia tahu jika Fajar juga merasakan hal yang sama seperti apa yang saat ini Suci rasakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁


Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊


Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄


Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2