
Mungkin jika suatu saat nanti mereka berjodoh maka Kay akan berjanji untuk selalu membuat Ara bahagia ketika bersamanya.
...*...
...*...
1 tahun sudah berlalu setelah kepergian Kay ke luar negri, sekarang waktunya Ara menyusul. Dimana Ara sudah lulus dengan nilai yang membanggakan, semua itu berkat Kay.
Dia yang selalu mengajari Ara agar bisa membuat kedua orang tuanya bangga, meskipun Ara tipe wanita yang jahil dan juga urakan. Tetapi Ara mampu membuat Lisa menangis ketika melihat nilainya, sehingga Ara bisa meraih beasiswa ke Swiss.
Tujuan Ara ke Swiss bukan hanya untuk sekedar belajar, namun dia juga akan terus mengawasi jodohnya supaya tidak ada yang bisa mengambilnya. Dari kecil Ara memang selalu bilang jika sudah besar nanti dia cuman mau di jodohkan dengan Kay, tidak mau dengan yang lain.
Cuman semuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka tidak menggubris itu semua lantaran usia mereka masih sangat kecil. Apa lagi tentang perjodohan jauh dari pemikiran mereka, karena mereka mau anaknya menemukan pilihan hatinya sendiri.
Hari ini adalah hari yang sangat berat bagi Lisa dan juga Dion untuk melepaskan anak semata wayangnya pergi keluar negri jauh dari jangkauan mereka, tetapi mereka tidak bisa menahan Ara untuk meneruskan pendidikannya. Setidaknya di sana ada Kay yang akan selalu menjaga Ara.
"Amma.. Ara pamit dulu ya, Amma baik-baik di sini jaga kesehatan Amma. Maaf kalau beberapa tahun ke depan rumah kita menjadi sepi karena tidak ada anak nakalmu ini yang akan selalu ngerecoki Amma"
"Tapi Amma tenang saja, siapa tahu kan jika nanti Ara pulang. Ara bisa bawa cucu buat Amma biar Amma enggak kesepian hihi.."
Pletakk!!
"Awwwsshhh.. Sa-sakit Amma ishhh.. Amma kira kening Ara papan karambol apa!"
Ara memegangi keningnya sendiri sambil mengusap-usap, sedangkan yang lain hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Lagian kalau ngomong enggak pernah di saring dulu, niat kamu ke sana itu buat nuntut ilmu atau bertenak anak sih!" Pekik Lisa dengan wajah kesalnya.
"Nuntut ilmu, tapi kalau Bang Kay hilaf kan bisa aja!" Sahut Rean ceplas-ceplos penuh kecuekan .
"Rean!!" Geram Suci.
"Apa?!" Jawab Rean.
"Sayang, sudahlah.. Percuma saja kau memarahinya. Dia tidak akan menggubrismu, yang ada kamu sendiri yang capek. Udah tahu Rean ini adalah anak paling luar biasa!" Arsya menenangkan Suci sambil melirik ke arah Rean.
"Aishhh.. Sudah-sudah, kenapa kalian malah berantem sih. Biarin aja Ara mau bagaimana, palingan juga Kay akan menjewernya jika dia melakukan kesalahan. Tahu sendiri Kay adalah pawang Ara. Tapi pawang Kay, ya kita belum tahu siapa!" Ucap Bunda Reni.
"Yaaaa.. Oma! Kalau Bang Kay pawangnya Ara, itu artinya Ara juga pawangnya Bang Kay! Jadi tidak akan ada pawang lain, paham!!" Sahut Ara.
Bunda Reni tertawa bersama dengan yang lain ketika melihat wajah Ara mulai memerah menahan kesal, belum lagi mulutnya maju bagaikan seekor bebek. Siapa sih yang enggak gemas dengan sosok Ara, dari kecil memang ada saja tingkahnya yang membuat semuanya tertawa.
Tapi jika di hadapkan dengan Kay, maka Ara tidak akan bisa berbicara sebebas ini. Semakin bertambahnya usia maka Ara malah lebih lebih malu hanya di depan Kay, tetapi di depan keluarganya ya beginilah Ara. Cuman jangan salah, hanya Ara yang mampu membuat Kay merasakan nyaman ketika berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ayo Ara, waktu ke berangkatan sudah tiba. Segera berpamitan dengan semuanya dan jangan lupa minta doa mereka agar kamu bisa menuntut ilmu dengan baik, jangan sampai Appa dengar kamu mengganggu Abang Kay-mu itu ya!!"
Ucapan Dion mampu membuat Ara cengengesan karena dia tidak bisa berjanji soal itu, jika bukan begitu bagaimana cara Ara agar bisa membuat Kay jatuh hati padanya.
Tanpa menunggu lama akhirnya Ara berpamitan dengan semuanya di penuhi dengan isak tangis yang sedikit melow, apa lagi Lisa.
"Kak Ara nanti kalau sudah sampai bilangin sama Bang Kay jangan lupa untuk selalu jagain Kakak ya, bilang di suruh Dean gitu. Dean enggak mau Kak Ara di sana di gangguin cowok-cowok lain karena Kak Ara itu cantik, Dean mau Kak Ara sama Bang Kay terus ya.." Ucap Dean sambil memeluk Ara.
"Woke.. Siap Bos kecil yang cantik, nanti akan Kakak sampaikan pada Abangmu itu. Doain Kak Ara ya, semoga Kak Ara bisa mendapatkan cinta Abangmu yang dingin itu hihi.." Ucap Ara sambil berbisik kecil.
"Hehe.. Siap Kak, Dean akan doain semoga Kak Ara jodoh Bang Kay. Aamiin.." Ucap Dean sedikit berbisik.
Semua orang yang melihat ke arah Dean dan Ara malah dibuat bingung ketika mereka berbicara sesuatu dengan suara kecilnya.
"Apa yang kalian katakan?" Tegas Ayah Al berhasil membuat Ara serta Dean langsung menatapnya dengan cengengesan.
"Hehe.. E-enggak kok Oppa, huaa.. Adikku yang paling imut Kak Ara tinggal dulu ya. Cup-cup.. Jangan nangis dong, kan nanti Kak Ara akan balik lagi ke sini. Doakan saja suapa Kak Ara sehat-sehat di sana ya, tenang aja nanti Kak Ara bawa oleh-oleh yang buanyaaakk buat Zean. Mau?" Bujuk Ara memeluk Zean.
"Hikss.. Ze-zean sedih Kak Ara pergi nyusul Bang Kay, terus nanti Zean akan main sama siapa dong? Kalau Bang Rean dia itu ngeselin, terus Kak Dean dia selalu bantuin Mommy. Cuman Kak Ara yang bisa main sama Zean" Ucap Zean sambil menangis.
"Sayangku, dengerin Kak Ara.." Ara melepaskan pelukan Zean lalu ia meraup wajah cantik Zean untuk menatap wajahnya.
"Sekarang kan umur Zean sudah 13 tahun, jadi Zean tidak boleh selalu berpikiran untuk bermain. Lebih baik Zean bantu Mommy kaya Kak Dean, atau Zean belajar yang banyak biar Zean bisa buat Mommy dan Daddy bangga"
"Lihat Appa dan Amma Kak Ara mereka merasa bangga anaknya bisa sekolah di luar negri tanpa mengandalkan uang milik mereka, tetapi karena kerja keras kita sendiri. Bukannya Zean bilang kalau Zean mau jadi seperti Mommy yang fotonya ada di majalah-majalah, kan? Jadi mulailah belajar dari sekarang oke.."
Nasehat Ara mampu membuat Zean mengerti bahkan yang lainnya bisa tersenyum, ternyata di balik sosok nakal Ara dia memang memiliki jiwa seorang Kakak. Ara dan Zean kembali berpelukan untuk beberapa saat, lalu Ara berpindah ke arah Rean yang hanya menatapnya.
"Selama ini kita memang tidak pernah dekat, tapi aku sangat sayang pada dirimu. Jika boleh, apakah aku bisa memelukmu sekali saja Rean?" Ucap Ara memelas.
"Kita bukan mahram! Hanya jodohku yang boleh memelukku, jadi cepatlah Kak Ara pergi dari sini agar bisa segera bertemu jodohmu lalu pulang dan menikahlah. Sebelum aku yang akan menikah lebih dulu!" Ucap spontan Rean yang langsung mendapatkan jeweran manja dari Suci.
"Aawsshhh.. Sa-sakit Mommy sakit ishhh, lepasin nanti kuping Rean tidak sempurna bagaimana Rean bisa mendapatkan bidadari yang turun dari langit!" Pekik Rean yang malah mendapatkan 2 jeweran dari Suci dan juga Bunda Reni.
Dari tadi mereka sudah menunggu saat-saat ini tiba, setelah mereka berusaha sabar atas ulah Rean. Semua cuman bisa tertawa gemas melihatnya, kemudian Ara berjalan berpamitan kepada semuanya terutama Lisa.
Setelah sudah selesai, Ara pergi menaiki anakan tangga pesawat bersama dengan Dion yang akan mengantarkannya untuk bertemu dengan Kay yang sudah menunggu kedatangan Ara.
Ara melambaikan tangannya di sela-sela pintu pesawat yang segera tertutup, selang beberapa menit pesawat pun pergi meninggalkan bandara. Lalu semuanya pulang dengan perasaan yang bangga, Suci berusaha menguatkan Lisa agar dia bisa mengikhlaskan kepergian anaknya agar ketika pulang dia bisa membawa nama baik keluarganya.
Sedangkan Rean dia selalu mengusap kedua kupingnya yang terasa sangat panas akibat ulah Mommy dan jug Omanya.
...*...
__ADS_1
...*...
Sesampainya di Swiss, mereka langsung turun dengan wajah Ara yang terlihat begitu bahagia. Ara berlari merentangkan kedua tangannya, membuat Dion menggelengkan kepalanya.
"Bang Kay, jodohmu telah datangg yuhuuu.." Teriak Ara sehingga membuat semua yang ada di sana menatap aneh ke arah Ara, bukan karena penampilan melainkan karena bahasa Ara yang terdengar aneh.
"Astaga, anak ini!" Gumam kecil Dion sambil menggelengkan kepalanya.
"Ara Sayang, ini di Swiss bukan di Indonesia. Jadi gunakan bahasa yang benar, paham!" Sambung Dion yang menekankan kata-katanya.
"Heheh.. Ma-maaf Appa, Ara lupa hihi.. Lagian kemana sih Bang Kay. Kata Appa dia sudah di bandara tapi mana?" Tanya Ara menggunakan bahasa yang ada di sana.
Keluarga Dion dan juga Arsaya memang sedari kecil sudah diajari beberapa bahasa, sehingga ketika sudah besar mereka tidak akan kesulitan lagi untuk belajar bahasa asing.
"Ya mungkin dia telat, sudahlah ayo kita ke kantin dulu Appa laper banget" Ucap Dion.
"Huhhh.. Kenapa sih dia itu enggak peka banget, tahu begini mah mending aku enggk usah ke sini. Percuma kalau di anggurin kek gini! Dasar menyebalkan!" Gumam kecil Ara berjalan lebih sambil mendorong kopernya.
Dion hanya bisa terkekeh kecil melihat tingkah anaknya, lalu Dion berjalan di belakang Ara sambil mendorong koper yang satunya milik Ara. Hari ini Dion akan memastikan Ara masuk kuliah lebih dulu baru dia akan kembali ke Indonesia.
Setelah sampai di kantin bandara, Dion dan Ara duduk dalam keadaan Ara yang masih cemberut. Namun tanpa di sadari ada seorang pria dengan memakai kupluk switter sambil menaruh makanan serta minuman, dimana itu adalah makanan ke sukaan Ara.
Ara melototkan matanya ketika melihat ada sekotak makan yang dibuka bersamaan dengan munculnya ayam geprek serta beberapa potong naget geprek yang sangat menggugah selera entahlah 2 makanan itu adalah ke sukaan Ara. Tetapi dia tidak memesannya bahkan memangnya ada makanan seperti ini di Swiss? Ntahlah..
Saat Ara mendongak menatap wajah seseorang, lagi-lagi Ara di kejutkan dengan pria tampan yang semakin tampan.
"Assalammualikum.." Salam Kay dengan sedikit tersenyum.
"Wa-waalaikumsalam, Ba-bang Kay? I-ini be-beneran Bang Kay?" Ucap Ara dengan mata berbinar, Kay hanya mengangguk kecil berdiri di samping Ara.
Sedangkan Dion hanya melihat ke arah mereka berdua yang memang benar-benar serasi, hingga tanpa di sadari Ara langsung memeluk pinggang Kay membuat Kay terkejut bersamaan dengan Dion.
"Yaaaaa... Dasar anak nakal, lepaskan Kay! Dia itu bukan mahrammu, ingat kalian belum menikah!"
Dion segera melepaskan Ara dari Kay, sedangkan Kay hanya terdiam mematung. Baru kali ini dia bisa merasakan pelukan Ara yang sudah lama tidak pernah dia rasakan, karena terakhir kali Ara memeluk Kay ketika mereka masih kecil sebelum Kay mengetahui apa yang diperbolehkan apa yang tidak secara agama.
"Ehh.. Heheh.. Ma-maaf Bang Kay, Ara kelepasan hihi.. Tapi kalau Bang Kay mau boleh saja, cuman kita nikah dulu yuk.." Ara tertawa gemas membuat Kay tersadar dan langsung meminta izin untuk pergi ke toilet.
Sedangkan Dion menjewer kecil Ara karena dia sudah berhasil menggoda Kay, lalu mereka tertawa bersama ketika kembali membayangkan wajah Kay.
Tak lama Kay datang dalam keadaan yang sudah tenang, meskipun di hatinya masih berdetak sangat cepat. Kemudian mereka pergi dari bandara menuju Apartemen, dimana kamar Ara dan Kay bersebelahan.
Ara dan Kay berkuliah di satu Universitas dengan jurusan yang berbeda, Kay mengambil jurusan perbisnisan sedangkan Ara mengambil jurusan sekretaris agar dia bisa selalu berada di samping Kay. Apa pun yang terjadi ke depannya Ara hanya bisa memanjatkan doa supaya mereka selalu bersama, dan tak henti-hentinya Ara menyelipkan doa agar Kay bisa menjadi jodohnya.
__ADS_1