Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Teman Kecilku di Bawah Sana


__ADS_3

Setelah di rasa aman semuanya, Suci dan Arsya langsung merebahkan dirinya dengan keadaan dada serta lengan Arsya yang menjadi bantal untuk Suci yang kini memeluk Arsya begitu erat. Hingga akhirnya mereka tertidur memasuki alam bawah sadarnya dengan keadaan yang sangt romantis.


*


*


Ke esokkan harinya...


Suci bangun lebih dahulu dari Arsya dan dia pun pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Di saat Suci sedang berada di kamar mandi, tiba-tiba saja Baby Kay terbangun dari tidurnya dan langsung menangis.


Arsya yang mendengar suara tangisan Baby Kay pun terbangun dan menggendong serta menenangkan Baby Kay. Suci yang dari dalam kamar mandi mendengar tangisan Baby pun tanpa sadar langsung pergi keluar sambil menutupi tubuhnya dengan handuk.


"Baby Kay... maaf ya Mommy sedang mandi jadi Mommy terlambat datang dan-..." ucap Suci terhenti saat dia melihat bahwa Arsya sedang menggendong Baby Kay dengan rambutnya yang berantakan.


"Astaghfirullah... mimpi apa aku semalam sampai-sampai aku sudah mendapatkan pemandangan terindah di pagi hari. Tapi sayang, coba lamu turunkan sedikit handuknya biar aku bisa melihat lebih jelas hihi..."


Arsya menggoda Suci sambil memberikan senyuman miringnya yang mana membuat Suci menyadari bahwa tubuhnya saat ini hanya tertutup handuk dari atas dadanya sampai di paha atasnya.


"Astaghfirullah... Mas Arsya, dasar kamu mesum! Tutup matamu dan jangan melihat ke arahku, itu dosa tahu. Jaga matamu Mas, kamu itu seorang suami jadi kamu tidak boleh menatap tubuh wanita lain"


Suci berbicara sambil menutupi tubuhnya yang mana memang sudah tertutup dengan handuk. Sementara itu Arsya hanya berdiri terdiam sambil menatap Suci dengan wajah bingung. Namun tidak kama kemudian pun, Arsya langsung tertawa yang mana membuat Baby Kay ikut tersenyum.

__ADS_1


"Pfftt... sepertinya saat mandi istriku juga mencopot otaknya dan lupa untuk memakainya kembali sehingga dia lupa bahwa aku adalah suaminya dan dia juga istriku. Jadi di mana dosanya, sayang haha..." tawa Arsya yang mana membuat Suci semakin malu.


"Su-sudah be-berhentilah tertawa, dasar suami menyebalkan! Namanya juga aku terburu-buru dan panik, jadi aku lupa kalau aku ini istrimu. Berhentilah tertawa Mas Arsya..." pekik Suci sambil berjalan mendekati Arsya.


"Maaf sayang, maaf... habisnya kamu sih kebiasaan kalo ngomong suka enggak sadar dengan keadaanmu sendiri. Untung saja kamu tidak sampai salah mengenali suamimu saat pergi keluar haha..."


Arsya berbicara sambil kembali membaringkan Baby Kay di keranjang bayinya karena dia sudah tidak menangis lagi. Lalu Suci yang merasa kesal pun langsung memukuli dadanya Arsya yang membuat Arsya terkekeh.


Lalu Arsya pun menarik Suci di pinggulnya yang mana membuat tubuh mereka menempel satu sama lain. Bahkan tanpa sadar handuknya Suci sedikit turun yang membuat Suci langsung memegangi handuknya.


"Le-lepaskan Mas, ha-handuknya ma-mau jatuh... na-nanti kalau a-aku jadi te-telan*jang bagaimana? Tolong lepaskan aku Mas, kalau tidak nanti handuknya beneran jatuh" ucap Suci sambil memegangi handuknya.


"Tidak mau, kalau aku lepaskan sekarang maka kamu akan kembali masuk ke kamar mandi. Padahal aku belum puas menikmati pemandangan ini, jadi kenapa aku malah membiarkan kamu pergi di saat seperti ini"


"Ahh... Ma-Mas Arsya, le-lepaskan aku bi-biarkan aku me-membenarkan handukku. Be-berhentilah me-menghirup dan me-menciumi leherku Mas..." sahut Suci sambil memegangi handuknya dan mencoba untuk melepaskan pelukannya Arsya.


"Berhentilah memberontak atau teman kecilku di bawah sana akan terbangun dari tidurnya. Aku juga yakin kalau kamu pasti masih malu jika kita melakukannya sekarang juga, bukan?" tanya Arsya sambil menatap mata Suci dengan dalam.


"Teman kecil di bawah? Maksudnya apa ya Mas? Apakah temanmu datang semalam dan menginap di kamar lantai 1? Tapi kenapa aku tidak tahu jika ada seseorang yang datang" ucap Suci dengan bingung sambil memegangi handuknya.


"Haahh... bukan itu maksudku sayang, tapi teman kecil yang sudah lama ingin masuk ke rumahnya. Ini... kamu bisa merasakannya yang sudah hampir terbangun akibat gerakan gemulaimu" ujar Arsya sambil membawa satu tangannya Suci menuju benda pusakanya.

__ADS_1


Suci yang merasakan sesuatu dan melihat ke mana tangannya menyentuh pun langsung menarik tangannya. Akhirnya Suci mengerti arti dari ucapnya Arsya dan dia langsung mendorong Arsya yang membuatnya terlepas dari pelukannya Arsya serta berlari memasuki kamar mandi.


"Hihi... istriku ini masih sangat polos dan menggemaskan, aku jadi tidak tega untuk menghancurkan kepolosannya. Tapi jika aku tidak melakukannya, maka teman kecilku ini akan selalu menjadi tersegel sampai layu" gumam Arsya sambil melihat bagian bawahnya yang sedikit menonjol.


Arsya pun hanya bisa menghela napasnya sambil membungkukkan badannya menghadap ke keranjang tidur Baby Kay serta bermain dengannya. Sementara Suci, dia bersandar di pintu dalam kamar mandi dengan wajahnya yang memerah dan menatap tangannya yang tadi memegang miliknya Arsya.


"A-apa ya-yang a-aku pe-pegang tadi ya... a-apa i-itu adalah i-itunya Ma-Mas Arsya? Waahh... a-aku malu ba-banget tadi, ra-rasanya aku ingin menggali lubang dan mengubur diriku di dalamnya" teriak Suci di dalam hatinya sambil dia menatap tangannya.


Lalu Suci mencoba untuk menenangkan dirinya dan dia pun melanjutkan mandinya. Setelah Suci keluar dari kamar mandi, Arsya pun berjalan memasuki kamar mandi dan tidur lupa di kembali menggoda Suci sebelum masuk ke kamar mandi.


Suci yang merasa malu dengan godaannya Arsya pun langsung berteriak dan memukuli punggungnya Arsya yang mana membuat Arsya tertawa lalu dia berlari ke dalam kamar mandi sebelum Suci berhasil memukuli punggungnya lagi.


"Huuft... dasar suami menyebalkan! Setiap hari dia sangat suka menggodaku, memangnya dia itu tidak merasa malu apa. Ta-tapi ki-kita memang be-belum melakukan itu, a-aku takut untuk me-membayangkan kalau ka-kami akan melakukan itu"


"Padahal i-ini bu-bukan pertama kalinya a-aku melakukan itu, ta-tapi aku tetap malu karena i-ini pertama kalinya a-aku melakukan hal itu dengan Ma-Mas Arsya. Tu-tunggu dulu dehh... ja-jangan bi-bilang kalau Ma-Mas Arsya belum pernah melakukan itu?"


"I-itu a-artinya a-aku akan me-menjadi pe-pertamanya Ma-Mas Arya? Waahh... a-aku jadi se-semakin malu dan gugup kalau begitu. Ba-bagaiman jika Ma-Mas Arsya ti-tidak merasa puas ka-karena aku bu-bukan pe-pera*wan lagi? Uuwaaahh... a-aku maluuu..."


Suci bergumam sambil menutupi wajahnya yang kini semakin memerah seperti tomat setelah membayangkan jika Suci dan Arsya melakukan malam pernikahan mereka. Apa lagi sampai saat ini mereka belum melakukannya, dan cuma berciuman atau berpelukan saja.


Sementara itu Arsya yang baru saja selesai mandi pun keluar dari kamar mandi dan melihat Suci duduk di kasur dengan rambutnya yang masih terbalut handuk. Arsya bahkan bisa melihat telinganya Suci memerah sehingga dia pun terkekeh melihat tingkah lucunya Suci.

__ADS_1


Arsya lalu berjalan mendekati Suci dan duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya di bahunya Suci yang mana membuat Suci terkejut dan langsung menatap Arsya. Lalu Arsya pun mengambil kesempatan tersebut untuk mencium bibir manisnya Suci yang mana membuat Suci membolakkan kedua matanya.


__ADS_2