Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Membeli Kebutuhan Bayi Mereka


__ADS_3

Namun Vina dan Bray tidak mempedulikan semua pandangan orang-orang pada mereka. Bagi Vina dan Bray, selama mereka bahagia maka mereka tidak akan mempermasalahkan pandangan orang-orang pada mereka.


Sampai seketika mereka sampai di depan pintu masuk Motel dan mereka pun memesan sebuah kamar.


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam kamar yang sudah mereka pesan dan tanpa menunggu lagi, Bray langsung menyerang Vina.


Mereka berciuman dan saling bertukar air liur dengan sangat ganas, dan bahkan Vina pun tidak kalah mendominasi permainannya Bray kali ini.


Mereka benar-benar seperti hewan yang sedang birahi. Rasa lapar akan belaian dan sentuhan, membuat mereka seperti tidak bisa lagi mengendalikan hawa nafsu mereka saat ini.


Bray langsung saja menggendong Vina seperti koala dan membawanya ke kasur tanpa melepaskan ciumannya.


Bray lalu membaringkan Vina di kasur dengan kasar dan menghentikan ciuman mereka. Vina menatap Bray dengan mata sayunya yang mana membuat Bray semakin tidak bisa menahan hasratnya. Lalu Bray membuka laci meja kecil di samping kasur.


Di sana terdapat sekotak pengaman dan beberapa hal lainnya yang selalu di gunakan untuk melakukan hal itu. Bray pun mengambil satu bungkus pengaman tersebut dan memberikannya pada Vina.


Lalu Vina memakai pengaman tersebut di benda pusakanya Bray dengan perlahan yang membuatnya semakin berdiri tegak.


Tanpa basa basi lagi Bray pun langsung membuka semua pakaiannya yang masih melekat di tubuhnya, dan Vina pun melakukan hal yang sama.


Kini Bray mencoba untuk melonggarkan goanya Vina yang mulai basah, dan Bray berhenti saat Vina melakukan pelepasan pertamanya.


Tidak membuang-buang waktu lagi, Bray langsung memasukkan benda pusakanya ke sarangnya. Vina pun mendongakkan kepalanya ke atas dan Bray yang mengerang sambil menundukkan kepalanya. Mereka benar-benar menikmati waktu penyatuan mereka.


Hingga akhirnya mereka melakukannya selama beberapa kali dan Bray yang selalu saja mengganti pengaman yang ia gunakan.


Sekarang mereka pun tertidur lelap setelah merasa kelelahan akibat olahraga panas mereka. Bahkan posisi mereka saling berpelukan yang mana artinya jika mereka masih tidak mau berjauhan.


Sementara itu dengan Dimas, dia sedang pusing memikirkan tentang pekerjaannya yang mana saat ini sedang sibuk-sibuknya. Bahkan Dimas sampai tidak sempat makan siang karena jadwalnya yang sangat padat hari ini.

__ADS_1


Dimas pun hanya meminum kopi atau pun camilan seperti roti isi yang di beli oleh sekretaris dari supermarket terdekat.


“Haahh... hari ini benar-benar hari yang sangat padat. Rasanya aku ingin tetap di rumah dan bersantai-santai bersama Baby Diva. Aduuhh... aku ingin cepat-cepat pulang hari ini, aku sudah tidak tahan dengan semua dokumen yang menumpuk ini aarrghh...”


“Di tambah lagi Elsa yang sangat sibuk dengan dunianya sendiri dan hanya memperdulikan aku jika ada maunya saja. Aku merindukan saat-saat di mana Suci masih di sisiku dan selalu menemaniku dan juga menghiburku saat aku stress dan lelah seperti ini”


“Apakah aku sudah salah dalam menceraikan Suci dan menikah dengan Elsa? Tapi Elsa mengandung anakku jadi tentu saja aku harus menikahinya, bukan? Jika saja aku tidak memulai semua ini dengan Elsa mungkin sekarang aku masihlah dengan Suci”


“Tidak... jika saja Suci tidak meminta Elsa untuk bekerja denganku, pasti ini tidak akan terjadi. Aaarrgghh... percuma juga jika aku terus berpikir seperti ini, karena mau bagaimana pun saat ini Suci sudah bukanlah milikku lagi”


“Suci... aku merindukanmu. Aku ingin kamu ada di sisiku dan menghiburku, tapi semuanya hanyalah kenangan. Apakah Suci juga memikirkan tentangku seperti bagaimana aku selalu memikirkan dan merindukannya di sini?”


Dimas bergumam sambil mengingat-ingat kenangan yang mana dia rasakan saat Suci masih menjadi istrinya.


Dimas lalu menutup matanya dan bersandar di kursi kebesarannya untuk beristirahat sejenak dari rasa lelah yang kini melandanya selama beberapa hari terakhir.


Sementara itu dengan Suci, saat ini dia sedang jalan-jalan dengan Arsya ke mall untuk membeli kebutuhan bayi mereka.


“Iihh... sepatu ini lucu sekali, dan warnanya juga pink dengan motif bunga-bunga. Kita beli sepatu yang ini saja ya Mas, sepatunya sangat lucu dan aku menyukainya” memperlihatkan sepatu tersebut pada Arsya.


“Sepatunya memang bagus dan lucu, tapi sayangku... kita kan belum tahu gender anak kita itu laki-laki atau perempuan. Lebih baik kita pilih warna yang bisa masuk untuk anak laki-laki dan perempuan, bagaimana?” tanya Arsya dengan lembut.


“Kalau begitu kamu maunya warna apa Mas? Lihatlah... di sini banyak sekali warnanya jadi aku bingung harus memilih warna yang mana yang bagus” ucap Suci sambil kembali meletakkan sepatu yang dia pegang.


“Hemm... sepertinya warna ini bagus untuk anak kita nanti. Ini adalah warna yang kalem, keren, cassual dan cocok untuk laki-laki ataupun perempuan. Bagaimana menurutmu, sayang?” mengambil sepatu dengan warna yang Arsya sukai.


“Mas... aku tahu warna ini memang cocok untuk laki-laki atau pun perempuan, tapi enggak warna item juga dong. Kamu itu hanya memilih warna yang kamu sukai saja, males deh...” geram Suci yang langsung memalingkan pandangannya.


“Aku memang suka warna hitam, tapi pilihanku memang tidak salah bukan? Jadi kenapa kamu malah terlihat kesal seperti ini? Apa kamu lebih suka warna putih atau coklat atau merah maroon?” ucap Arsya dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


“Sudahlah... aku malas meminta pendapat darimu lagi Mas. Percuma saja aku mengajakmu untuk memilih barang-barang anak kita kalau kamu hanya memilih barang yang kamu sukai saja hump...” jawab Suci sambil menghela napasnya.


Suci berbalik dan berjalan pergi keluar toko meninggalkan Arsya yang hanya menatap kepergian Suci dengan wajah bingungnya.


Kemudian, Arsya pun berlari menyusul Suci lantaran dia tidak mau jika Suci pergi sendirian dan mungkin saja sesuatu akan terjadi jika Arsya tidak selalu berada di samping Suci.


Mereka berjalan pergi meninggalkan toko sepatu dan masuk menuju toko mainan yang tidak jauh dari toko sepatu.


Suci masuk terlebih dahulu dan Arsya berjalan di belakang Suci akibat Suci masih sangat kesal dengan Arsya dan memintanya untuk berjalan di belakangnya.


Arsya yang tidak bisa menolaknya pun hanya menuruti semua ucapannya Suci. Dia tidak mau jika Suci semakin marah padanya dan malah membuat Suci melarangnya untuk mengikutinya.


Aseketika Suci kembali melihat-lihat semua mainan yang ada di sana begitu juga dengan Arsya.


Mereka hanya terus berjalan mengelilingi toko mainan tersebut sambil melihat ke kiri dan kanan.


Arsya beberapa kali memperlihatkan mainan yang menarik matanya pada Suci, namun Suci selalu saja menolaknya karena Suci tidak suka mainan yang dipilihkan oleh Arsya.


Begitu juga sebaliknya, setiap mainan yang Suci pilih pasti akan di tolak juga dengan Arsya. Bahkan penjaga toko tersebut sampai bingung karena Arsya dan Suci selalu memilih mainan yang saling tolak belakang.


Hingga pada akhirnya pegawai toko tersebut berjalan menjauh dan membiarkan mereka memilih sendiri.


Suci selalu memilih mainan yang terlihat feminim, sedangkan Arsya selalu memilih mainan yang berbau maskulin.


Selera mereka memang saling berlawanan sehingga tidak ada satu pun mainan yang akhirnya mereka beli karena pendapat mereka yang selalu tidak sama.


Kemudian mereka berjalan pergi dari toko tersebut dan masuk ke toko pakaian anak bayi. Kali ini Suci dan Arsya berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, dan melihat sekitarnya.


Banyak sekali baju-baju yang bagus, lucu dan juga keren. Tetapi tetap saja mereka tidak pernah menemukan sesuatu yang keduanya merasa cocok.

__ADS_1


Hingga akhirnya mereka merasa lelah berkeliling tanpa membeli apa pun itu pergi ke restoran di dalam Mall tersebut.


Mengejutkannya, hanya selera makan mereka yang sama sehingga mereka selalu memesan menu yang sama. Bahkan Suci dan Arsya pun tersenyum saat mereka menyadari kalau kali ini pilihan mereka benar-benar sehati.


__ADS_2