
Papah Angga berbicara sambil turun dari mobilnya dan membawa tas serta tetap teleponan dengan Ummi Lena.
Papah Angga berjalan ke dalam perusahaan dan lalu masuk ke dalam lift menuju kantornya. Setelah sampai di dalam kantornya, Papah Angga langsung masuk ke ruang kamar yang ada di kantornya dengan panggilan yang masih berjalan dengan Ummi Lena.
📱 “Terima kasih karena Anda sudah mengantarkan saya kembali ke panti asuhan tepat waktu sehingga anak panti bisa minum obatnya tepat waktu. Kalau begitu besok pagi sekitar jam10, saja akan datang dan mengambil ponsel saya di meja resepsionis” ucap Ummi Lena.
📱 “Baiklah Nyonya Lena, kalau begitu semoga anak panti tersebut bisa segera sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa. Saya juga akan memberikan ponsel Anda pada pegawai saya yang bekerja di meja resepsionis” jawab Papah Angga.
📱 “Amin allahuma amiinn... sekali lagi terima kasih Tuan, semoga malam Anda menyenangkan. Assalamualaikum...” ucap Ummi Lena yang di balas salam oleh Papah Angga, lalu Ummi Lena memutuskan panggilan telepon tersebut.
Papah Angga pun meletakkan ponsel Ummi Lena di meja dekat kasur di dalam kamar tidur yang ada di kantornya Papah Angga.
Lalu Papah Angga berbaring di kasur, dan tak lama kemudian dia pun tertidur lelap karena tubuhnya yang sangat lelah akibat tidak bisa banyak beristirahat.
Selama satu minggu Papah Angga kembali ke rumah, dia malah di buat semakin stress karena keadaan rumah yang selalu penuh dengan keributan.
Hingga akhirnya sekarang Papah Angga memilih untuk istirahat sementara di kantornya untuk menenangkan pikiran dan juga fisiknya yang selalu tidak bisa nyenyak tertidur di malam hari.
...*
...
...*
...
Ke esokkan harinya, Papah Angga meminta sekretarisnya untuk memberikan ponsel Ummi Lena pada staff resepsionis di lobby.
__ADS_1
Dengan begitu maka Ummi Lena bisa mengambil ponselnya kembali dan Papah Angga juga tidak akan lagi terpikirkan tentang mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.
Setelah itu Papah Angga kembali fokus untuk melanjutkan pekerjaannya yang harus dia selesaikan hari ini juga. Seperti yang di janjikan, Ummi Lena datang ke perusahaan untuk mengambil ponselnya di meja resepsionis dan kemudian dia pergi menuju suatu tempat untuk bertemu dengan kenalannya.
...*
...
...*
...
Satu minggu kemudian...
Suci sedang bersiap pergi ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan kandungan bulanan yang mana hari ini kandungan Suci sudah berumur 32 minggu atau 8 bulan.
Hari ini Bunda Reni dan Ayah Al tidak ada di rumah karena kemarin siang mereka pergi ke luar kota sebab Ayah Al memiliki meeting di sana dengan kliennya.
Namun Arsya menolak dan dia memohon agar diizinkan untuk ikut menemani Suci, dan tentu saja Suci dengan segala mood swingnya tersebut menolak Arsya terus menerus tanpa henti.
“Sudah aku bilang berapa kali sih Mas... aku bisa pergi sendiri ke rumah sakit, mendingan kamu pergi kerja saja sana. Lagi pula aku bosan setiap kali pergi ke rumah sakit untuk cek kandungan, selalu kamu yang nemenin” ketus Suci dengan wajah kesalnya.
“Lalu kalau bukan aku yang mengantarmu, siapa lagi? Apakah kamu lebih memilih di antarkan oleh Bunda atau malah Ayah? Kenapa sih kamu itu selalu saja menolak setiap kali aku mau ikut denganmu ke mana pun kamu mau pergi” ucap Arsya dengan wajah sedihnya.
“Karena aku bosan harus selalu melihat wajah tampanmu, Mas. Sekali-kali gitu yang mengantarkan aku ke rumah sakit itu Mas Dion kek, atau bodyguard tampan yang kerja di perusahaan kamu gitu. Kalau bisa artis Korea yang selalu muncul di drama-drama romantis itu gitu...” celetuk Suci dengan bibir manyunnya.
“Yaaakkk... aku ini suamimu, tapi kenapa kamu malah memilih untuk pergi dengan pria lain. A-atau jangan-jangan ka-kamu sudah bo-bosan jadi is-istriku dan ka-kamu mau ca-cari suami baru? Huuuaa... aku tidak maaauuu...” teriak Arsya dengan wajah sedih memohon-mohon.
__ADS_1
“Apaan sih Mas, kamu kok jadi aneh kayak gini. Kamu salah minum obat atau kenapa sih... ini nih alasan aku malas pergi sama kamu, karena kamu terlalu aneh dan cengeng setelah tahu aku hamil. Kamu bukan lagi Mas Arsya yang cuek dan dingin yang aku kenal”
“Aku akan pergi sekarang ke rumah sakit sendirian, kamu pergi saja ke perusahaan sana. Pokoknya aku tidak mau kalau kamu ikut denganku karena kamu itu tiba-tiba suka berperilaku aneh dan tidak jelas seperti ini”
Suci berbicara sambil berjalan mendekati pintu utama rumah dengan membawa tas kecilnya.
Sedangkan Arsya langsung saja memeluk kedua kaki Suci sambil duduk di lantai sambil nangis-nangis yang mana dia terlihat bagaikan seorang anak kecil yang ingin di tinggal pergi oleh orang tuanya.
Suci mencoba berbagai cara untuk membuat Arsya melepaskan kakinya, tapi tangisannya Arsya malah semakin parah.
Setelah lelah berusaha, akhirnya Suci pun menyerah dan dia langsung saja menghela napas panjang serta menurunkan tubuhnya lalu duduk di lantai sambil memegang wajahnya Arsya dengan kedua tangannya.
“Sudah berhenti menangis Mas... oke aku nyerah deh, kamu boleh kok ikut mengantar aku ke rumah sakit. Kamu juga boleh melihat, menunggu serta mengantarkan aku kembali pulang ke sini. Jadi sekarang kamu berhenti menangis dan tersenyum ya, suamiku yang tampan rupawan...” rayu Suci sambil tersenyum manis.
“Hiks... ka-kamu benar kan ka-kalau aku boleh i-ikut kamu ke ru-rumah sakit hiks... ka-kamu mau pe-pergi dengan pria lain bu-bukan karena kamu sudah bo-bosan denganku kan? Hiks...” ucap Arsya yang mana mulai sedikit tenang sambil menatap mata Suci dengan matanya yang sedikit memerah dan sembab.
“Iya Mas, iya... aku tidak akan pernah bosan memiliki suami yang tampan, keren, baik hati, manis, setia dan kaya raya sepertimu. Di mana lagi aku akan bisa mendapatkan hidup yang enak dan nyaman dengan anakku ini, jika aku tidak menikah denganmu” canda Suci yang mana membuat Arsya kembali menangis.
“Aduh... aduh... kenapa kamu menangis lagi? Aku ini cuma bercanda saja Mas, aku tidak serius mengatakan hal yang terakhir tadi. Aku cuma bercanda supaya kamu tertawa, tapi kenapa kamu malah menangis seperti ini sih...” ujar Suci sambil mengelap air mata Arsya dengan lengan baju panjangnya.
“Ha-habisnya kamu sih hiks... ka-kamu bercanda tapi na-nada bicara dan wa-wajah kamu sangat se-serius tadi hiks... ja-jadi aku pikir ka-kalau kamu itu beneran ni-nikah sama aku ka-karena uang hiks... ta-tapi aku juga ti-tidak keberatan karena ka-kamu tetap akan me-menjadi istriku hiks...” jawab Arsya di tengah isak tangisnya.
“Ya sudah... kalau begitu kamu pergilah cuci mukamu dan lalu kita akan pergi ke rumah sakit bersama-sama. Aku tidak mau orang-orang melihat sisi lucu, imut dan menggemaskannya sifat suamiku ini hihihi...” canda Suci lagi yang mana membuat Arsya berhenti menangis dan malah memanyunkan bibirnya.
Lalu Suci tertawa dan Arsya langsung saja berdiri kemudian pergi menuju kamarnya untuk mencuci mukanya. Sedangkan Suci malah asyik tertawa sambil berdiri dan berjalan mendekati sofa di ruang tamu.
Kemudian Arsya berhenti di tengah-tengah tangga dan dia langsung berbalik serta menatap Suci sambil menunjuk Suci dengan jari telunjuk tangan kanannya.
__ADS_1
Namun bukannya merasa kesal atau terkejut, Suci malah semakin tertawa geli karena menurut Suci wajah Arsya terlihat imut dan Lucu.
Arsya yang mendapatkan balasan tawa dari Suci pun merasa semakin geram dan dia langsung saja berbicara dengan berteriak kepada Suci dari tengah tangga menuju lantai 2.