
Arsya mencium kening Suci dengan begitu lama sampai tak terasa air matanya menetes, kemudian Arsya merebahkan tubuhnya kembali sambil memeluk Suci dan memejamkan kedua matanya memasuki alam bawah sadarnya.
...*...
...*...
Keesokan harinya Arsya sudah terbangun lebih dulu dan membawakan 1 potong roti beserta susu putih yang sudah ia buatkan untuk Suci, agar ketika ia bangun bisa langsung mengisi perutnya. Arsya sangat tahu akibat pertempurannya semalam pasti membuat Suci banyak kehilangan tenaganya.
Dan benar saja, saat Suci bangun ia merasa tubuh bagitu sakit entah apa yang terjadi dengan Suci, lalu ia membuka kedua matanya perlahan bersamaan dengan bayangan semalam yang saat ini kembali menempel di ingatan Suci.
"Hiks.. Ma-mas Arsya ma-maafkan Suci hiks.. Su-suci sudah sangat kotor hiks.. Suci sudah mengkhianati cinta kita, Suci sangat bo*doh kenapa semalam tidak menerima tawaran Mas Arsya untuk menemani Suci dan sekarang Suci? Suci sudah kotor hiks.."
Suci menangis meringkukkan tubuhnya sambil menarik selimut dan menggenggamnya begitu keras, dimana Arsya yang melihat Suci langsung segera membawa Suci ke dalam dekapannya.
"Lepaskan aku, lepaskan hiks.. kamu jahat Mas Dimas kamu jahat hiks.. a-aku benci sama kamu aku benciii!!!" Pekik Suci yang berteriak sekuat tenaganya hingga membuat Bunda Reni dan Ayah Al yang sedang bermain di kamar sebelah bersama Baby Zean, Sean dan juga Dean langsung berlari membawa mereka bertiga di dalam troli bayi kembar.
"Ssstt.. Sayang, heii.. tenanglah ini aku Arsya suamimu bukan pria be*jat itu! Please.. a-aku mohon jangan seperti ini Sayang, aku tidak bisa melihatmu kembali mengalami trauma.." Arsya memeluk erat Suci sambil mengeluarkan air matanya.
Suci yang mendengar itu sedikit mendongak dan segera berhambur memeluk Arsya lalu berkata, "Hiks.. ma-maafkan Suci Mas, maafkan Suci karena Suci tidak bisa menjaga tubuh Suci hiks.."
Arsya langsung melepaskan pelukan Suci dan meraup wajahnya begitu dalam, hingga mata mereka saling menatap satu sama lain tanpa sedikit pun teralihkan ketika Bunda Reni dan Ayah Al sudah berada di sekeliling mereka dengan membawa Baby Triplets.
"Lihat aku Sayang lihat, coba kau ingat-ingat lagi siapa yang sudah menyentuh tubuhmu? Itu aku Sayang, aku suamimu sendiri bukan pria breng*sek itu. Aku yang membantumu menghilangkan pengaruh obat yang ada di dalam tubuhmu bukan dia, jadi kamu itu tetap akan menjadi milikku bahkan sekalipun dia merebutmu maka aku tidak akan segan-segan melenyapkannya. Paham!" Jelas Arsya yang membuat Suci sedikit lega.
Suci kembali membayangkan siapa yang sudah menyentuh dirinya, dan memang benar. Arsyalah orang yang sudah menyentuhnya di saat Suci tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Ayah Al dan Bunda Reni menatap satu sama lain dengan tatapan yang sangat menyedihkan, mereka tidak menyangka jika Dimas berani sekali menyentuh menantunya dengan perbuatan seke*ji itu.
Hingga pada akhirnya Suci sudah mulai tenang dan kembali menangkis semuanya agar tidak membuatnya mengalami trauma. Apa lagi saat ini ada ke-4 anak yang sangat membutuhkan kasih sayangnya. Jadi Suci tidak mau mengorbankan masa depan anak-anaknya hanya karena dirinya yang terjebak di lubang yang sama.
Arsya segera memberikan minum serta roti kepada Suci agar bisa membuat perutnya terisi supaya tenaganya kembali pulih. Setelah selesai Suci langsung meminta izin untuk membersihkan tubuhnya serta tak lupa meminta maaf kepada Bunda Reni dan juga Ayah Al karena dirinya sudah membuat seisi rumah menjadi khawatir.
Kemudian Arsya, Ayah Al dan Bunda Reni beserta ke-3 Baby langsung pergi meninggalkan Suci ke ruangan keluarga. Dimana Ayah Al langsung mencecar Arsya untuk menceritakan apa yang telah terjadi semalam, tanpa menunggu lama Arsya menceritakan semuanya dengan emosi yang masih membara di dalam hatinya.
Begitu juga dengan Bunda Reni dan Ayah Al mereka benar-benar sangat kecewa mendengar perbuatan Dimas, padahal Suci sudah banyak berkorban demi keluarganya tetapi balasan Dimas malah seperti ini padanya.
Suci yang baru datang langsung memohon kepada mereka semua agar kejadian semalam tidak sampai masuk ke telinga yang lain. Cukup hanya mereka berempat saja yang tahu tentang ini. Semua menatap satu sama lain dan mengangguk menerima keputusan Suci karena mungkin ini adalah aib yang sangat besar.
...*...
...*...
"Apa yang terjadi padamu Dimas? Katakan pada Papah siapa yang sudah membuatmu seperti ini, Papah akan laporkan orang itu kepolisi sekarang juga. Apa kau mengetahui siapa orangnya?" Tanya Papah Angga dengan penuh khawatir.
Dimas terdiam sejenak memikirkan kejadian semalam yang benar-benar membuatnya sudah melewati batasan yang ada, hanya karena rasa irinya pada Arsya membuat Dimas tidak bisa berpikir jernih hingga Dimas kembali teringat trauma yang dialami oleh Suci.
"Jawab Dimas kenapa kamu diam saja!" Titah Papah Angga.
"Ti-tidak Pah, ini hanya masalah kecil kok, semalam saat mau menghadiri acara penting Dimas di jegat oleh seseorang yang ingin merampas semua uang Dimas. Tapi untungnya Dimas selamat dan ada seseorang yang membawa Dimas ke sini" Ucap Dimas berbohong.
"Maafkan Dimas, Pah. Dimas tidak bisa jujur masalah ini karena Dimas malu dan sangat takut jika Papah akan kembali marah pada Dimas, Dimas enggak mau Papah kembali membenci Dimas. Sudah cukup satu persatu orang yang Dimas sayangi pergi. Tapi Dimas tidak mau Papah sampai membenci Dimas" sambung Dimas didalam hatinya.
__ADS_1
Ketika Papah Angga kembali mau melontarkan ucapannya, tiba-tiba ponsel Dimas berbunyi. Vina langsung mengambilnya dan memberikannya pada Dimas.
"Bang, ini ada telpon dari orang kepercayaan di perusahaan. Vina nyalakan spekernya ya.." Ucap Vina yang langsung diangguki oleh Dimas.
[Permisi Tuan, maaf mengganggu waktunya. Tepat pukul 7 pagi tadi saya mendapat kabar dari Tuan Dion kalau Tua Arsya akan mengambil semua sahamnya dan meminta uang pinalti sebesar 1 Triliun karena Tuan tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu yang sudah ditentukan]
Ucapan orang kepercayaan Dimas mampu membuat semua yang mendengarnya ikut terkejut, dimana Dimas hanya bisa menatap langit rumah sakit dengan air mata yang sudah menetes deras.
"Ini yang aku takutkan barusan, dan benar saja semua telah terjadi begitu cepat. Kecerobohan yang aku lakukan semalam tanpa pikir panjang benar-benar mampu membuatku hancur tak tersisa!"
"Perusahaan yang aku bangun dari hasil kerja kerasku mulai dari sekolah hingga saat ini benar-benar sudah bangkut. Bahkan aku harus menanggung pinalti sebesar 1 Triliun, dimana aku harus mencari uang sebanyak itu sedangkan aku saja harus membayar semua gaji karyawanku yang tidak sedikit"
"Dasar Dimas bo*doh!! Makannya kalau mau melakukan sesuatu itu di pikir lebih dulu, apa kau lupa Arsya itu adalah orang yng sangat penting di perusahaanmu. Tapi karena kamu tidak bisa mengendalikan rasa irimu padanya kini telah menghancurkan semuanya, lantas nikmat mana lagi yang kau dustakan Dimas!"
Dimas berbicra di dalam hatinya sambil terdiam dengan seribu bahasa. Papah Angga yang mendengar itu semua langsung mengmbil ahli ponsel yang ada di tangan Vina. Papah Angga keluar dari ruangan Dimas untuk berbicara lebih dalam lagi kenapa semua itu bisa terjadi.
Vina mencoba untuk menenangkan Dimas, Umi Lena yang melihat Dimas begitu syok sedikit memberikan wejangan agar Dimas bisa melewati semua ini dengan ikhlas dan juga sabar. Mungkin cobaan yang di hadapi saat ini adalah buah dari apa yang sudah ia tanam, tetapi tidak menutup kemungkinan kedepannya hidup Dimas akan terus seperti ini.
Dimas masih bisa menjalani hidupnya dengan jauh lebih baik selagi dia mau berubah dan mengakui semua kesalahannya, serta Umi Lena menasehati Dimas untuk kembali ke jalan yang seharusnya di tempuh agar Dimas bisa menjalani hidupnya sesuai dengan akhlak yang baik.
...*...
...*...
Di sisi lain, Suci sedikit cekcok dengan Arsya karena Arsya sudah melakukan tindakan tanpa meminta pendapatnya terlebih dulu. Namun Suci juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Arsya, mungkin memang ini yang sudah pantas Dimas dapatkan dari pada Arsya melaporkannya ke polisi maka urusannya akan semakin panjang.
__ADS_1
Apa lagi hanya Dimas yang bisa merawat Mamah Mita bersama dengan perawat di rumahnya. Sedangkan Vina semenjak menikah dia tinggal bersama Brayen jadi tidak bisa mengunjungi Mamah Mita setiap harinya.
Suci mencoba untuk mengikhlaskan semua yang sudah terjadi dengannya, setidaknya Dimas tidak sampai di penjara karena Suci tidak mau kedepannya Mamah Mita menjadi tidak terurus belum lagi ada Kay yang memang adalah darah daging Dimas. Belum lagi jika Kay tahu tentang ini maka hubungan Dimas dengan Kay akan kembali retak, dimana saat ini Kay sudah mulai menerima Dimas sebagi Ayahnya. Meskipun tidak sepenuhnya dan juga Suci tidak mau semua anaknya tumbuh menjadi anak yang penuh dendam.