Keikhlasan Hati Seorang Istri

Keikhlasan Hati Seorang Istri
Aku Mau ke Pantai


__ADS_3

“Ini aku bawakan sarapan untukmu, jadi kamu makan ya... habis itu kita akan pergi jalan-jalan supaya kamu tidak terlalu stres berada di kamar terus...” ucap Arsya yang selalu ingat perkataan dokter psikolog Suci.


Arsya dengan telaten mengurus Suci tanpa rasa lelah sedikit pun, kini saatnya Suci makan melalui tangan Arsya. Suci makan dengan perlahan sambil terus menatap wajah Arsya yang hanya terlihat datar, namun entah mengapa Suci merasakan jika apa yang Arsya lalukan semuanya selalu membuat ia merasa sangat nyaman.


“Mas... kenapa kamu begitu baik padaku? Padahal aku selalu membuat kamu merasa susah, dan beberapa kali aku juga selalu kalah dengan keadaan. Bahkan sampai detik ini pun, aku belum bisa menemukan jalan bagaimana aku bisa kembali bangkit”


“Tapi aku janji Mas, aku pasti akan bangkit dan aku akan mencoba untuk melupakan semuanya serta aku akan fokus untuk membuat hati ini kembali utuh demi dirimu. Aku akan berusaha belajar untuk mencintaimu, walaupun rasanya sangat sulit. Cuma aku yakin mungkin kamulah jodoh yang sebenarnya Allah berikan untukku"


"Terima kasih Mas, telah mengurusku walaupun kamu sendiri terkadang lelah dengan semuanya ini...” Suci makan sambil berbicara di dalam hatinya dengan menatap Arsya, yang tak di sangka-sangka air matanya pun mulai menetes satu demi satu yang membuat Arsya segera menghapusnya.


“Jangan buang air mata ini hanya demi kembali mengingat apa yang sudah sangat menyakiti dirimu. Apa kamu lupa sebentar lagi kita akan menikah. Aku janji, aku akan membalas semua air matamu ini menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak pernah kamu dapatkan” ucap Arsya sambil tersenyum kecil.


Sampai pada akhirnya Suci telah selesai sarapan, lalu Arsya menyuruh Suci untuk berganti pakaian dan bersiap. Sedangkan dirinya akan menaruh piring kotor itu di dapur, kemudian bersiap serta menunggu Suci di bawah.


Tak butuh waktu lama, Suci turun dan berjalan mendekati Arsya yang berada di ruangan keluarga. Entah kenapa hari ini mata Arsya sedang bermasalah atau tidak, yang jelas ia bisa melihat Suci terlihat sangat cantik dan juga manis.


Arsya melamun menatap keindahan yang ada di depannya itu, bahkan Suci mulai menunjukkan senyumannya sedikit yang membuat semuanya ikut tersenyum melihatnya.


“Wahhh... anak Bunda cantik banget hari ini, mau kemana sih sayang hemm...” tanya Bunda Reni dengan wajah cerianya.


“Suci mau pergi bersama Mas Arsya Bun, boleh?” tanya Suci balik yang membuat Bunda Reni terkekeh.


“Hihi... atuh bolehlah sayang, masa ia mau pergi sama calon suami sendiri di larang. Lagian juga kamu butuh waktu untuk melihat suasana baru dan udara yang baru, arena semenjak hati itu kamu selalu saja murung di dalam kamar yang membuat kita semua merasa cemas” jawab Bunda Reni


“Maaf Bun, Suci sudah merepotkan kalian semua...” ucap Suci yang kembali dengan wajah sedihnya.


“Ehh loh... loh... kok sedih sih jangan gitu dong mukanya itu harus ceria ya... pokoknya Bunda selalu berdoa untuk kesehatan Suci apa pun yang terbaik. Jadi selamat bersenang-senang hari ini sayang...” sahut Bunda Reni yang membuat Suci kembali tersenyum.


Tapi sayangnya ada sesuatu yang menarik perhatian Suci dan Bunda Reni, yaitu Arsya yang dari tadi hanya bisa berdiri menatap wajah Suci dengan begitu dalam tanpa berkedip sedikit pun.


“Ekheemm...” deheman Ayah Al mampu membuat Arsya tersontak kaget dan wajahnya mulai memerah.


“Jangan dilihatin mulu, cepat bawa dia bersenang-senang. Jika pulang nanti dia tidak bahagia, maka kau akan menerima hukumannya” ancam Ayah Al yang membuat Bunda Reni terkekeh.


“Eh hehe... ma-maaf Ayah, Arsya hilaf... ya sudah Arsya sama Suci pergi dulu ya, assalamualaikum...” ucap Arsya sambil bersalaman kepada kedua orang tuanya, dan di ikuti oleh Suci.


Lalu mereka berdua pergi meninggalkan rumah dengan mobil kesayangan Arsya. Arsya menyetir mobilnya itu dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat, sehingga Suci bisa melihat suasana lingkungan di luar mobil di pagi hari yang sangat cerah ini.

__ADS_1


“Apa kamu punya ide kita mau pergi kemana?” tanya Arsya yang membuka obrolan agar tidak membuat keduanya hanya terdiam sepanjang perjalanan.


Suci segera menoleh ke arah Arsya dan berkata, “Pantai... aku mau ke Pantai...”


Satu kalimat yang terucap dari mulut Suci itu, spontan membuat Arsya langsung mengerem mendadak yang hampir saja membuat kening Suci terbentur dan hampir terluka.


“Astagfirullah... Mas Arsyaaa...“ pekik Suci dengan wajah kesalnya menoleh ke arah Arsya.


“Habisnya kenapa mesti ke sana sih, kayak tidak ada tempat lain saja deh... Jangan bilang kalau kamu ke sana mau mencoba untuk bunuh diri kembali, iya begitu?” jawab Arsya dengan tatapan kesal.


“Issshh... apa sih Mas Arsya, jangan seuzon dong... aku cuma mau ke sana minum es kelapa doang. Terus kalau udah selesai, terserah Mas Arsya mau kemana...” ucap Suci yang membuat Arsya melongo tak percaya.


“Haaaaaaa... e-es kelapa? Ha-hanya itu niatanmu ke sana? Ti-tidak ada yang lain kan?” tanya Arsya untuk memastikan semua aman terkendali.


“Iya cuma itu, janji kok... habis itu Suci akan ngikut saja Mas mau kemana” ucap Suci yang kembali menatap ke arah jendela.


“Sekalinya dia berbicara pasti ujung-ujungnya menyebalkan, apa itu emang sudah sifat aslinya?” gumam Arsya sambil menatap wajah Suci.


“Stop mengumpatiku Mas Arsya... atau aku akan turun dari sini” ancam Suci yang membuat Arsya gelagapan, entah mengapa Suci bisa membaca pikiran Arsya begitu cepat.


“O-oke... oke... kita ke sana dan hanya minum es kelapa ya tidak ada yang aneh-aneh. Awas saja kalau kamu macam-macam aku tidak lagi mau menolongmu. Memangnya kamu kira aku kucing, punya nyawa yang banyak gitu hump...” gerutu Arsya yang langsung menjalankan mobilnya kembali menuju pantai.


“Ngapain turun Mas...” ucap Suci dengan nada cueknya.


Arsya menatapnya dengan ekspresi mengerutkan kening yang menandakan jika ia bingung dengan pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Suci.


“Haaaa... katamu tadi mau minum es kelapa, lalu kalau kita tidak turun bagaimana bisa membelinya coba. Kamu kira kelapanya akan nyamperin kamu dengan sendirinya gitu” celetuk Arsya dengan sangat kesal.


“Aku sudah tidak mau minum es kelapa, lebih baik kita pergi dari sini saja Mas...” ucap Suci yang spontan membuat Arsya terlihat sangat frustrasi.


Ini adalah kali pertamanya Suci kembali berbicara sangat panjang, namun hasil ucapannya Suci itu mampu membuat Arsya geregetan. Rasanya Arsya seperti ingin menjedotkan kepalanya di batu karang yang ada di Pantai.


“Kaaaaauuu...” geram Arsya dengan wajah memerah menahan emosi yang ingin keluar, tapi sayangnya wajah Suci terlihat lebih menyeramkan darinya.


“Apa? Mau marah? Ayoo...” tantang Suci dengan sangat datar.


“E-enggak... enggak jadi kok...” sahut Arsya dengan terbata-bata saat melihat Suci bagaikan pawang untuknya.

__ADS_1


“Bagus... ya sudah, ayo kita pergi...” ucap Suci yang mampu membuat Arsya mengusap dadanya perlahan dan Arsya kembali menjalankan mobilnya.


“Ini orang kenapa sih, sekalinya banyak berbicara malah kek singa baru bangun tidur. Galak benerr deh...” gumam Arsya di dalam hatinya sambil mengendalikan mobilnya.


“Masih mau mengumpatiku, Mas...?” tanya Suci dengan tatapan yang mampu membungkam Arsya.


Kali ini Arsya terlihat bagaikan seekor sapi yang di cucuk hidungnya dan selalu menuruti perintah majikannya, namun tidak lama ponsel Arsya berbunyi yang segera membuatnya langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celana sambil satu tangannya mengendalikan setir mobilnya.


Ada 1 panggilan masuk dengan notif nama Xantina. Kemudian, Arsya menaruh ponselnya di samping dasbor kecil di sebelah tempat duduknya dan ia mengambil earphone kecil serta memasangkan di telinganya. Sedangkan Suci hanya menoleh sekilas dan kembali menatap ke arah samping.


📱 “Ada apa?” tanya Arsya dengan tegas dan datar.


📱 “Maaf Tuan, jika saya mengganggu waktu libur Anda. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana lagi, ada 1 klien yang dari luar negeri telah sampai di sini. Lalu ia menghubungi saya untuk meminta meeting di majukan karena ia ada urusan mendadak dan akan kembali terbang ke suatu negara yang mana ia akan fokus di sana"


📱 “Saya juga sudah menghubungi manajer dan sekretaris untuk segera datang ke perusahaan untuk melakukan meeting secara mendadak yang untungnya mereka tidak ada ke sibukkan. Saat ini posisi klien kita sedang dalam perjalanan ke kantor”


Seseorang menjelaskan sedikit masalah di kantor dengan tegas yang membuat wajar Arsya terlihat sangat marah dan juga kesal. Niatnya hari ini itu Arsya ingin bersenang-senang bersama Suci, kini malah harus melakukan meeting mendadak tanpa jadwal yang jelas.


📱 “Ckk... kau ini mengganggu waktuku saja!!” ucap Arsya dengan kesal serta langsung memutuskan panggilan telepon itu begitu saja.


Suci yang melihat wajah Arsya berubah membuat ia sedikit cemas, dengan penuh keberanian Suci langsung bertanya kepada Arsya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2