
Tapi ya mau bagaimana lagi meskipun menurut mereka Vina sudah berubah menjadi wanita yang jauh lebih baik, tetapi kesalahan di masa lalu adalah kesalahan. Sehingga Vina memang harus menjalani hukuman sesuai dengan fakta yang akan terungkap.
...*...
...*...
Keesokan harinya Vina dan Brayen sudah berada di kantor polisi dengan khasus tabrak lari. Mereka dijemput pada malam hari, kemudian anak mereka di titipkan bersama kedua orang tua Brayen. Lalu mereka ikut dengan polisi tanpa sedikit pun melakukan perlawanan karena mereka menyadari atas kesalahannya di masa lalu.
Loh kok Vina dan Brayen? Bukannya di situ hanya ada identitas Vina, lalu ada apa dengan Brayen? Kenapa jadi mereka berdua yang bersalah? Entahlah..
Semua orang juga tidak menyangka bahwa Vina dan Brayen bisa melakukan hal sejahat itu sampai-sampai kelalaiannya membuat mereka tanpa di sengaja menewaskan nyawa seseorang yang pada saat itu sangat berarti bagi hidup Arsya.
Tepat pukul 9 pagi menjelang siang Arsya dan Suci baru saja sampai di kantor polisi untuk bertemu dengan Vina seta Brayen agar bisa mendengar penjelasan langsung darinya kenapa semua itu bisa terjadi.
Sedangkan yang lainnya sudah menerima penjelasan mereka hanya dari pihak Arsya saja yang belum mendengar bagaimana kronologi yang terjadi pada saat itu hingga kecelakaan terjadi.
Arsya dan Suci duduk di ruang tunggu untuk bertemu dengan Vina dan juga Brayen. Awalnya polisi hanya memperbolehkan mereka bertemu dengan salah satunya saja, cuman berkat permohon Arsya membuat polisi mengerti. Yang penting ada salah satu polisi yang berjaga untuk tetap mengawasi pergerakan semuanya.
Vina sama Brayen datang sambil tersenyum lalu bersalaman dengan Suci dan juga Arsya, kemudian mereka semua duduk saling berhadapan.
"Mbak, Mas.. Vina minta maaf karena Vina-..."
"Tidak usah di bahas, saya ke sini hanya mau tahu bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya secara detail dari kalian berdua"
Arsya langsung menyerobot ucapan Vina karena ia tidak mau bertele-tele, yang intinya Arsya hanya mau tahu kejadiannya bukan menggali kembali masa lalunya.Vina menoleh ke arah Brayen, lalu mereka menceritakan kejadiannya secara bergantian.
Flashback tabrak lari
Beberapa tahun yang lalu Vina dan Brayen baru saling mengenal satu sama lain dan mereka juga belum ada ikatan apa pun. Brayen mengajak Vina untuk ke suatu tempat yang tidak lain adalah BAR. Brayen mengajak Vina bergabung bersama teman-temannya.
Vina yang belum terbiasa minum tetapi dipaksa untuk minum membuatnya hanya sekedar mencicipi sedikit saja, sehingga tidak membuat Vina sampai kehilangan kesadarannya. Tetapi Brayen dia sudah berada di dalam batas antara sadar dan tidak.
Setelah selesai mereka pun pulang menggunakan mobil Brayen, dimana Brayen kekeh mau menyetir dalam keadaan setengah sadar.
"Kamu benaran gapapa kan, Bray? Soalnya aku lihat kamu sedikit mabok, aku takut kalau ada apa-apa. Mending kita pulang pakai taksi aja ya.." Ucap Vina.
"Tidak perlu Vin, aku kuat kok. Lagian juga udah terbiasa jadi kamu enggak usah khawatir ya" Sahut Brayen sambil tertawa kecil.
Vina pun mengangguk dan kembali memainkan ponselnya. Sedangkan Brayen dia kembali menyetir mobilnya, tak lama Vina merasakan laju mobilnya sedikit oleng hingga membuat Vina langsung menatap Brayen.
__ADS_1
"Bray stop! Hentikan mobilnya biar aku yang bawa" Titah Vina yang langsung membuat Brayen menghentikan laju mobilnya.
"Hem.. ada apa Vina?" Tanya Brayen sambil melihat Vina dengan beberapa bayangan.
"Ya ampun kenapa Vinaku ada banyak? Perasaan aku hanya memiliki teman bernama Vina cuman satu, yaitu Vina Ananda kesayanganku hahah.." Sambung Brayen yang kesadarannya sudah mulai hilang.
Vina yang mendenger ucapan Brayen membuat wajahnya merah merona, secepat kilat Vina mengalihkan semua perasaannya dan berkata, "Lebih baik kita tuker posisi, biar aku yang bawa mobilnya"
"Memangnya kamu bisa?" Tanya Brayen.
"Astaga, bagaimana ini aku baru belajar naik mobil. Tapi bisalah dikit-dikit lagian aku juga udah hafal semuanya, tinggal aku bawa mobilnya pelan-pelan saja. Toh ini kan sudah malam, jalanan juga sepi jadi amanlah dari pada malu-maluin masa aku tidak bisa bawa mobil yang ada Brayen akan menertawaiku" Gumam Vina di dalam hatinya.
"Bisa, sudahlah ayo gantian.. sini aku bantu!" Sambung Vina yang langsung keluar dari mobil menuju kursi pengemudi memapah Brayen yang sudah sedikit hilang kendali.
Setelah Brayen duduk di kursi samping pengemudi, Vina segera memakaikan sabuk pengaman untuknya yang tanpa di duga Brayen malah mencium bibir Vina sekilas. Hingga wajah Vina kembali memerah, dengan cepat dia menutup pintunya dan berlari kecil dalam keadaan hati berbunga-bunga.
Vina duduk di kursi pengemudi lalu mencoba untuk mengendalikan setir mobilnya sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Ada keraguan di dalam hati Vina tetapi rasa gengsinya pada Brayen membuat Vina tetap bersikeras mencoba menjalankan laju mobilnya.
Sejauh ini semuanya aman-aman saja bersamaan dengan rasa bangga di dalam diri Vina karena dia sudah mahir mengendalikan mobil, namun ketika di jalan yang sangat sepi Vina sedikit merasa takut.
"Astaga sepi banget jalannya.." Gumam Vina dengan sangat kecil.
Tanpa pikir panjang, rasa takut dan kepercayaan tingginya membuat Vina melajukan kecepatan mobil. Sampai sekarang laju mobil masih terkendali, hingga Vina sudah mulai terbawa suasana ia kembali melajukan kecepatannya hingga 100KM/jam.
Brayen merasakan kepalanya sangat pusing membuat ia tidak bisa diam dan terus berjoget mengikuti alunan musik untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. Tanpa Brayen sadari tingkahnya membuat Vina sedikit tidak nyaman.
"Kamu bisa diam enggak sih Bray, aku sedang menyetir ini nanti bisa-bisa kita kecelakaan!" Pekik Vina dengan cemas.
"Aelaahhh.. kan kamu bisa nyetir jadi ayolah kita sambil goyang biar enggak bete Sayang hahah.."
Tanpa di sangka tangan jahil Brayen langsung memegang setir hingga membuat Vina terkejut, sedangkan Brayen dia malh tertawa puas melihat wajah Vina begitu penik
"Brayen, stop Bray stop!!!" Teriak Vina yang membuat Brayen tertawa sambil melepaskan tangannya dari setir mobil.
Vina merasa lega lalu kembali melajukan mobilnya, yang mana pada saat ia melihat ada lampu merah Vina berniat untuk menginjak rem tetapi dia malah salah dan menginjak pedal gas. Mobil yang seharusnya berhenti malah melaju dengan sangat kencang bagaikan angin lewat.
"Aaaarrrrghhhhh.. Brayen tolong aku.." Vina berteriak sekuat tenaga mengendalikan mobilnya yang oleng ke kanan dan ke kiri.
"Vinaaaa... awassss..." Brayen melototkan matanya ketika melihat ada mobil yang ingin menyebrang. Sehingga tanpa aba-aba mobil yang mereka tumpangi menyenggol mobil mantan tunangan Arsya dan membuat mobil itu terbang melayang dengan keadaan terpontang-panting.
__ADS_1
Sedangkan mobil Brayen malah menabrak pohon bersamaan dengan pedal rem yang Vina injak secara perlahan sesuai dengan arahan Brayen.
Mobil yang mereka tumpangi tidak terlalu parah dan masih bisa di gunakan. Dengan cepat Brayen menyurun Vina untuk berganti posisi dimana Vina menangis sesegukan penuh dengan rasa ketakutan.
Brayen kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat sepi tersebut, lalu keadaan mobil yang ditumpangi oleh mantan tunangan Arsya hancur tak tersisa membuat tubuh gadis itu terhempit.
Setelah kepergian mobil Brayen, ada seseorang yang menolong serta menelpon ambulan agar semuaya segera di urus termaksud keadaan wanita itu yang sangat menyedihkan.
"Hiks.. ma-maafkan aku Bray, ma-maafkan aku hiks.. a-aku tidak senga Bray aku tidak sengaja!" Vina menangis kencang yang membuat Brayen menoleh kearahnya.
"Sssttt.. heiii.. Vina, sudahlah jangan menangis aku janji kita tidak akan masuk penjara, apa lagi keadaan di sana itu sangat sepi CCTV di area itu juga sudah tidak berfungsi jadi kita aman, tenang Sayang tenang.."
"Aku tidak akan meninggalkamu, aku akan melindungimu apa pun caranya kita tidak akan pernah masuk penjara. Aku sayang sama kamu Vin, aku sayang banget please.. jangan nangis kaya gini.."
Brayen fokus melajukan mobilnya yang tidak bisa senormal sedia kala karena depan mobil benar-benar hancur, jadi mau tidak mu Brayen cuman bisa perlahan menyeimbangi kekuatan laju mobilnya.
Tangan kiri Brayen terarah untuk mengelus pipi kanan Vina, kemudian Brayen menggenggam tangan Vina begitu erat. Brayen tahu saat ini tubuh Vina gemetar hebat karena kejadiaan tadi, tapi Brayen merasa bersalah karena kejadian itu sepenuhnya bukan kesalahan Vina.
Brayen berusaha keras memutar pikirannya agar semua kasus ini tidak sampai membuat semua polisi menemukan jejaknya. Dan tak lama Brayen menemukan cara yang akan menyelamatkan mereka berdua, ia melajukan mobilnya memasuki hutan yang sangat gelap dan melihat ada tempat yang pas.
Vina semakin terkejut membuat tubuhnya bergetar, Brayen turun dari mobilnya lalu mengeluarkan Vina yang mana tas Vina terjatuh. Dengan cepat Brayen memunguti semua barang-barang Vina dan tanpa di sadari kartu identitas kampus Vina tertinggal di sela-sela mobil Brayen.
"Hiks.. Bray nga-ngapain kita di sini, aku takut hiks.. ja-jangan jangan kamu mau-.."
"Stttt.. berisik, diamlah jangan nangis terus mending kamu bantu aku cari pepohonan untuk menutupi mobilku ini supaya tidak ada yang melihatnya aku yakin di sini tempat yang sangat aman. Percaya sama aku kita tidak akan pernah di penjara hanya karena kesalahan yang tidak di sengaja, jadi ayo cepat sebelum ada seseorang yang melihat kita"
Brayen dengan cepat langsung mencari pepohonan yang masih hijau dan gampang di cabut untuk menutupi mobilnya. Begitu juga Vina dia membantu Brayen dengan usahanya sendiri.
1 jam lebih mereka berhasil membuat mobil itu tertutup sempurna oleh pepohonan dan juga ilalang-ilalang agar tidak akan membuat orang lain merasa curiga. Brayen menggandeng tangan Vina lalu mereka berlari keluar hutan sambil mencari jalan besar supaya mudah memesan taksi online.
Tak lupa Brayen menghapus semua air mata Vina. Setelah tenang mereka pun kembali ke rumah menggunakan taksi online yang di pesan. Brayen yang awalnya terlihat mabok kini sudah tersadar akibat kejadian seakan membuat matanya langsung melek. Entah kenapa dia bisa secepat itu tersadar, atau mungkin tadi sebenarnya Brayen masih tersadar hanya saja dia cuman mau menikmatinya dengan bersikap bagaikan orang yang tidak memiliki beban.
Bahkan sampai detik ini pun rasa pusing itu malah semakin kuat yang membuat Brayen memijit dahinya, Vina yang melihat itu langsung memeluk manja Brayen yang sedikit tersenyum menatapnya dan mencium keningnya.
30 menit berlalu, Vina sampai di depan gerbang rumahnya dan segera turun tak lupa juga ia melambaikan tangannya kepada Brayen. Tanpa menunggu lama Brayen menuruh sopir tersebut pergi dari sana menuju ke rumahnya.
Brayen pulang ke rumah dengan semua dramanya seolah-olah mobilnya sudah di begal ketika pulang kerumah.Kedua orang tua Brayen merasa sangat bersyukur lantaran keadaan Brayen baik-baik saja, mereka tidak memperdulikan masalah mobil selagi anak satu-satunya masih berada di sampingnya.
Flashback tabrak lari off
__ADS_1