
“Hiks... please Suci... please bangun... aku mohon... ayo bangun...” ucap Arsya yang sudah menangis dan terus berusaha memberikan pertolongan pada Suci.
Pada akhirnya Arsya telah berhasil menyelamatkan nyawanya Suci dengan keadaan wajah Suci yang sudah mulai pucat serta tubuhnya benar-benar bergetar karena merasa sangat kedinginan.
“Uhhukk...uhukk...” Suci mengeluarkan air Pantai yang cukup banyak masuk ke dalam tubuhnya.
“Alhamdulillah Suci... hiks...” Arsya yang begitu lega kini memeluk Suci dengan sangat erat, seakan-akan ia enggan untuk melepaskan Suci kembali bahkan tak mau lagi kejadian ini terulang untuk kesekian kalinya.
“Hiks... aku sudah lelah Mas lelah hiks...” ucap Suci di dalam pelukan Arsya dengan air mata yang mengucur deras.
“Stop berbicara seperti itu karena kamu kuat Suci, kamu kuat!! Kamu tidak boleh menyerah seperti ini, aku tahu kamu bisa menghadapi semua ini dan aku percaya itu aku sangat-sangat percaya” ucap Arsya sambil melepaskan pelukannya dan meraup wajah Suci penuh keyakinan yang begitu besar.
Mata mereka saling menatap satu sama lain, dengan tatapan yang berbeda. Suci menatap Arsya penuh kehancuran, dan Arsya yang menatap Suci dengan penuh keyakinan dan harapan.
“Duniaku sudah hancur Mas, sudah hancurrrr... hiks... a-aku tidak bisa, aku capekkkkkk... aku lelahhh... aku ingin pulangg hiks... aku sudah tidak kuat lagi di sini, Mas hiks..."
“Selama ini aku bertahan hanya demi pria yang cuma bisa menyakitiku hiks... tapi sekarang tidak lagi, aku sudah tidak bisa bertahan aku sudah capek hiks... aku ingin menyusul kedua orang tuaku di sana saja Mas hiks...”
“Sakit hati ini Mas, sakitttt... hiks... hancur Mas, hancurrr... kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi diriku yang hidup sebatang kara di dunia ini tanpa siapa pun dan aku hanya punya suamiku, tapi dia? hiks..."
"Dia malah mengkhianatiku dan memperlakukanku bagaikan seorang SAMPAH! Aku tidak terima semua ini Mas, aku sakitttt... aku mau mereka semua merasakan apa yang aku rasakan hiks..."
"Bahkan aku mau mereka jauh lebih sakit dari apa yang aku alami saat ini!! Aku benciii mereka, aku benciiiiiiii... hiks... Aku ingin mereka menerima semua apa yang sudah mereka lakukan padaku, aku mau mereka hancur sehancur hancurnya melebihi aku hiks..."
"Terutama DIMAS dan juga ELSA!! Aku mau mereka merasakannya, aku akan membuat kebahagiaan yang mereka impikan saat ini berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa hiks... sampai mereka tahu bagaimana caranya hidup dengan semua penyesalan!”
Suci menangis dengan tatapan penuh kebencian, bahkan terdapat dendam yang sangat dalam menyelimuti hatinya. Entah kenapa Arsya yang melihat itu benar-benar sangat sakit.
Kali ini Arsya melihat Suci bukanlah seorang Suci yang polos dan juga baik hati, ia seperti melihat sosok Suci yang baru akibat rasa sakit hatinya yang kini telah berubah menjadi dendam.
“Oke... Setelah selesai persidangan, aku akan langsung menikahimu untuk membalaskan dendamu kepada Dimas! Aku akan buat dia menyesal seumur hidup karena telah menyia-nyiakanmu, satu persatu dari mereka akan merasakan apa yang kamu rasakan"
"Bahkan rasa sakit yang akan jauh dari pada yang kamu rasakan ini. Mereka semua harus membayar semua rasa sakit yang telah mereka berikan padamu ini, Suci!” ucap spontan Arsya yang membuat Suci menangis kembali.
__ADS_1
“Hiks... ma-makasih Mas ma-makasih karena Mas sudah mau membantuku hiks... ma-maaf karena aku, Mas jadi rela menikahiku hanya demi membuatku bisa membalaskan dendamku pada mereka semua hiks...”
“Tapi aku janji, aku tidak akan pernah melarang Mas untuk berhubungan dengan wanita mana pun hiks... dan saat misi ini telah selesai, aku akan pergi dengan hati yang bahagia. Aku akan memulai hidupku yang baru serta melupakan masa lalu yang begitu pahit ini hiks...”
Suci berbicara seakan-akan Arsya menikahi dirinya hanya demi untuk membantunya membalaskan semua dendamnya itu kepada Dimas dan juga Elsa. Tapi yang sebenarnya, Arsya menikahi Suci karena ia memang sudah menyadari jika dirinya telah jatuh hati pada gadis yang saat ini begitu rapuh di hadapannya.
“Andai saja kamu tahu Suci jika aku melakukan ini bukan semata-mata hanya demi membantumu untuk membalaskan dendammu itu pada mereka Suci. Tapi aku lakukan ini karena aku merasa jika cinta itu telah tumbuh kembali di dalam diriku ini...”
“Namun jika memang sudah takdirku seperti ini, maka aku akan mencoba untuk mengesampingkan perasaan ini dan tetap fokus pada misi balas dendammu. Jadi kalau suatu saat nanti waktunya telah tiba, aku tidak akan merasakan sakit untuk yang kedua kalinya kan...”
Arsya berbicara di dalam hatinya sambil tetap menatap manik mata Suci yang terus meneteskan air mata. Kemudian Arsya menghapus air mata Suci itu secara perlahan menggunakan ibu jari tangannya dengan sangat lembut.
“Jangan biarkan berlian ini jatuh kembali hanya demi mengingatnya, lupakan dia dan bangkitlah bersamaku. Aku akan membawamu untuk merasakan apa itu yang namanya kebahagiaan, sampai kamu pun akan lupa jika kamu pernah ada di titik serendah ini” ucap Arsya yang hanya membuat Suci terdiam.
Saatnya Arsya membawa Suci untuk kembali ke Apartemen agar segera berganti pakaian yang saat ini sudah mulai mengering. Bahkan tubuh Suci pun sudah mulai mengigil, mau tidak mau Arsya harus terus merangkul pinggang Suci agar sedikit memberikan rasa hangat padanya.
Cuma yang anehnya, Suci tidak sedikit pun menolak atau membantah apa yang Arsya lakukan. Suci malah terlihat lebih pendiam dan tidak banyak berkata-kata lagi. Entahlah apa lagi yang sedang Suci pikirkan, seolah-olah Suci terus larut di dalam masa lalunya. Padahal beberapa menit yang lalu Suci terlihat biasa saja, tetapi saat ini ia kembali jauh lebih pendiam.
Saat sudah sampai di Apartemen, Arsya segera membawa Suci ke kamarnya dan menyuruh Suci untuk berganti pakaian sedangkan dia menunggu tepat di depan pintu kamar Suci. Setelah selesai berganti pakaian, Suci kembali membuka pintunya dan membiarkan Arsya masuk ke dalam kamarnya.
Lalu Suci merebahkan tubuhnya secara perlahan dan membuat Arsya refleks untuk menyelimuti tubuhnya. Kini posisi Suci tertidur dengan membelakangi Arsya.
“Ada apa ini Suci? Kenapa sekarang kamu jadi lebih memilih diam, setelah aku mengatakan jika aku akan menikahimu. Apa kamu tidak suka jika aku akan menjadi suamimu?”
“Jika benar, maka baiklah. Mungkin kamu hanya menganggap aku sebagai alat balas dendamu padanya, tapi tidak apa-apa. Aku rela Suci, asalkan aku bisa kembali melihatmu tersenyum penuh keceriaan seperti dulu"
“Entah mengapa aku sangat rindu di saat kamu selalu tertawa riang hingga bercanda-canda yang terkesan begitu menggemaskan. Tidak seperti sekarang ini, di mana aku hanya bisa melihat air mata yang terus berjatuhan”
“Huhhh... sabar Arsya, sabar... mungkin Suci membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memahamimu. Tapi jikalau pun Suci tidak bisa merasakan perasaan yang sama, maka aku tidak boleh memaksakannya untuk terus bersamaku"
Arsya bergumam di dalam hatinya dengan perasaan yang bercampur aduk, ia tidak tahu kenapa dirinya bisa segila ini untuk membantu Suci membalaskan dendam dan menikahinya. Padahal Arsya tahu, jika pernikahan bukanlah ajang sebuah permainan atau pun tempat untuk membalaskan dendam.
Cuma mau bagaimana lagi, Arsya tidak tahu harus dengan cara apa lagi untuk membalaskan dendamnya pada Dimas. Mungkin dengan Arsya menikahi Suci dan memperlihatkan betapa beruntungnya ia memiliki Suci, maka di situlah Dimas akan merasakan betapa menyesalnya dia setelah melepaskan Suci hanya demi memilih wanita bermuka dua.
__ADS_1
Saat Arsya sudah memastikan Suci benar-benar tertidur sangat pulas, kini saatnya ia mengganti pakaian di kamarnya sendiri. Lalu kemudian Arsya kembali ke kamar Suci untuk berjaga-jaga karena ia tidak mau lagi kecolongan untuk ke sekian kalinya.
...*...
...*...
Hari demi hari Arsya lewatkan untuk mengurus Suci yang sepertinya telah mengalami depresi berat setelah kepulangannya dari liburan. Bahkan Bunda Reni dan juga Ayah Al yang mendengar cerita itu dari Arsya membuat mereka selalu waspada untuk memperketat penjagaan.
Saat ini semua orang sedang duduk santai di ruangan keluarga, serta sesekali Bunda mengajak Suci untuk berkomunikasi namun hasilnya tetap sama. Suci hanya sekedar menjawab pertanyaan mereka dengan begitu singkat tanpa ekspresi sedikit pun, malah suci lebih banyak diam dari pada berbicara.
Sampai seketika Arsya menatap kedua orang tuanya dengan sangat serius. Bunda Reni dan Ayah Al yang melihat Arsya menatap mereka begitu serius membuat mereka langsung tutup poin.
“Ada apa? Katakan! ” ucap Ayah Al yang sangat tahu jika Arsya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ia sangat bingung serta takut jika sampai mereka marah dan tidak setuju.
“Katakan Arsya, jangan bikin Bunda sama Ayah penasaran deh... Bunda tahu pasti ada yang mau kamu sampaikan pada kita, jadi cepatlah jangan buat kami merasa tidak tenang seperti ini” sahut Bunda Reni.
“Sebelumnya Arsya mau minta maaf sama Ayah dan Bunda... Arsya cuma mau bilang saat semua urusan perceraian Suci selesai, maka Arsya akan segera menikahi Suci. Bahkan meskipun dalam keadaan Suci yang masih seperti ini” ucap Arsya yang membuat kedua orang tuanya refleks saling menatap satu sama lain dengan tatapan terkejut dan juga bahagia.
“Be-benarkah ini Arsya? Ka-kamu tidak bohong kan?” ucap Bunda Reni dengan wajah bahagianya, bahkan terlihat jelas jika matanya kini telah bersinar.
Arsya yang melihat kedua orang tuanya begitu bahagia, malah ia merasa sangat bersalah dan juga sedikit membuat wajahnya murung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊
Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺
Sayang kalian banyak banyak para pembaca setiaku ❤️❤️❤️
__ADS_1
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻