MAMA

MAMA
Bab 1


__ADS_3

Pagi ini hujan masih enggan untuk pulang, rinainya gemerisik di antara pucuk-pucuk dedaunan, jendela kamarku berembun buram menghantarkan hawa dingin menelusuk hingga ke tulang rusuk.


Gigil, aku menekuk lutut menerawang keluar jendela, ada rasa sakit yang teredam, kekecewaan yang panjang setelah kabar-kabar hilir mudik menyapa gendang telinga.


"Aaarrrghhh", aku meremas rambutku kasar, ku singkirkan selimut dan sprei bergambar bintang-bintang.


Buliran bening terus berjatuhan di pelupuk mata, begitu sesak.


Sekali lagi ku dekap bingkai foto berlatar hitam putih dengan senyum kehangatan di dalamnya. Ada wanita paruh baya menggendong bayi dalam dekapan serta pria jangkung di sampingnya.


Hujan menjadi suara lantang saat bibirku meracau kesakitan, ada pilu yang mencekat tenggorokanku, dan aku tak ingin siapapun dengar tentang lara yang ku rasa.


Tiba-tiba ketukan pintu membuyarkan lamunanku, buru-buru ku usap air mata yang masih tersisa. Ku palingkan wajah dari pria yang kini telah bertahun-tahun mendekap hatiku, ia menggeser tubuhnya ke sebelahku.


"Bundaa...", dia berucap lirih sambil menyentuh bahuku, memelukku penuh kehangatan. Nafasnya terdengar begitu nyaman, tak ada suara di antara kami, hanya belaian lembut tangannya mengusap rambutku perlahan.


Aku diam tak bergeming, masih berusaha mencerna kejadian demi kejadian yang terus menikamku 15 tahun terakhir ini.

__ADS_1


Aku tahu tak baik menyimpan dendam, tapi semakin ku coba melepaskan masa laluku, semakin rasa trauma membebani isi kepala.


Ku atur nafasku perlahan dengan deru jantung yang makin lama makin beraturan, ku balas dekapan hangatnya, ia tersenyum.


"Maaf yaaah..." aku membuka suara dengan sedikit serak.


Ia hanya balas anggukan dengan sebungkus senyum manisnya. Pelukan kami makin erat, ia mencium keningku, nyaman...


sekali lagi aku beruntung jika sepotong hatiku yang remuk telah terisi penuh oleh ketulusan hatinya.


Malam ini seperti biasa semangkuk bakso menjadi makanan paling menggiurkan setelah berhari-hari tak ada makanan yang bisa ku makan. Selalu keluar tak tersisa hingga menyisakan suara lambung tanpa diikuti rasa lapar.


Aku memainkan sendok dan garpu di mangkukku, lagi-lagi lelakiku menghampiri di sebelahku, mengambil alih sendok yang sedari tadi ku pegang. ia tersenyum memandangku penuh kehangatan.


"Kalau perut bunda ga diisi nanti sakit lo. Bunda ga boleh egois sayang, ada nyawa di dalam sini yang ga bisa makan sendiri, harus pake perantara bunda", ujarnya penuh kelembutan dengan mengusap perutku yg masih rata.


"Kalau bunda ga tahan ga papa muntahin aja, tapi kita coba lagi ya beberapa suapan sampai benar-benar bisa ke makan dan masuk perut"

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. Ia menyuapkan perlahan-perlahan sambil sesekali memijat tengkukku. Rasa mual yang terus menguar membuatku benar-benar kesulitan mencerna setiap makanan yang masuk ke lambungku.


Aku berlari ke kamar mandi, lagi-lagi tak ada makanan yang tersisa, setelah berulang kali isi perutku keluar. Aku terduduk sambil sedikit terisak. Ia mendekat dan memberiku minyak angin di tengkukku, ia menggendongku membawaku ke kamar, aku tak bertenaga untuk menolak ajakannya.


"Nanti ayah buatin susu sama roti bakar ya bun, biar perut bunda ada isinya"


Aku menggeleng pelan, benar-benar tak berselera untuk menelan makanan apapun saat ini.


Ia menggenggam tanganku, mencoba menguatkanku dengan tatapannya.


"Nggak papa kalau di muntahin lagi nanti, tapi apa salahnya bunda coba makan lagi ya, atau bunda pingin apa nanti ayah buatin atau ayah cari di luar", ia masih bersemangat menawarkan beberapa makanan yang mungkin aku berminat untuk menyantapnya.


" Nggak usah yah, bunda benar-benar ga ada selera buat makan, tapi.... mungkin susu aja yah gapapa". Ia tersenyum mengiyakan.


"Tunggu sebentar ya bun, ayah buatin dulu". Mataku mengekor sampai ke arah pintu kamar, biasanya saat ia membuat kreasi apapun di dapur, aku selalu mengikutinya atau bahkan mengganggunya memeluknya dari belakang.


Aku tersenyum dengan kekonyolan kami. Ku usap perutku perlahan, ada kekuatan menjalar dari diri ini, sepertinya aku telah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama setiap harinya..

__ADS_1


__ADS_2