MAMA

MAMA
Bab 281


__ADS_3

Setelah berfikir ustadz Dedek mengizinkan Nova untuk ikut bersamanya.


"Baiklah kamu boleh ikut."


"Alhamdulillah terimakasih pak ustadz."


"Abi dan Nova hati-hati dijalan, semoga Allah selalu melindungi." Doa istri ustadz mengiringi.


"Amiin. Abi pergi dulu, wassalamu'alaikum."


"Waalaikum salam."


Ustadz Dedek dan Nova pergi ke tempat yang sudah dikatakan oleh Tukijan tadi. Mereka menaiki motor ustadz Dedek karena jaraknya memang lumayan jauh.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka tiba di jalan X, suasananya gelap.


"Kita sudah sampai, turunlah." Ucap ustadz Dedek.


"Kesini pak ustadz ? tapi disini gelap banget lho pak ustadz ? mau ngapain kita kesini pak ?" Tanya Nova sembari turun dari motor.


"Iya saya ada urusan yang harus diselesaikan malam ini juga."


"Oh, terus kita kemana ni pak ustadz ?"


"Tunggu saja, sebentar lagi akan ada yang menemui kita. Kita nunggu disini saja."


"Baik pak ustadz."


Dugaan pak ustadz Dedek benar, Tukijan muncul dalam kegelapan dengan membawa obor sebagai penerangan.


"Selamat datang, maaf jika aku lama menyambut kedatangan kalian. Tidak ku sangka kau datang dengan ditemani seseorang, aku kira kau akan datang seorang diri."


"Dia tidak ada hubungannya, katakan untuk apa kau menyuruh ke tempat ini ?" Tanya tegas ustadz Dedek.


"Jangan terburu-buru, bukan di sini jamuan yang sudah ku siapkan tapi ada tempat khusus untuk menyambut kedatangan tamu spesial. Mari ikut denganku." Tukijan berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


Nova berbisik pada ustadz Dedek.


"Bapak itu siapa, pak ustadz? temennya pak ustadz ya ?"


"Bukan, sudahlah nanti saja kita bicarakan sekarang intinya kamu fokus jangan sampai lengah ya, terus berdzikir kepada Allah memohon perlindungan."


"Ini sebenarnya ada apa sih pak ustadz, saya belum paham."


"Saya katakan berhenti berbicara, lebih baik diam dan lihat saja nanti. Berdzikir dalam hati jangan lupa."


"Maaf pak ustadz, saya akan diam."


Tukijan berhenti ditepi sungai, saat sampai kedua mata Nova terbelalak dengan apa yang ada di hadapannya.


"Sezha ?"


Sezha mendengar suara Nova.


"Kamu." Balas Sezha acuh dengan kehadiran Nova bersama ustadz.


"Akhirnya kau datang juga huh, ternyata kau seorang manusia pengecut dengan membawa teman kesini, seorang bocah ingusan."


Nova merasa tidak asing dengan sosok yang menyerupai ular.


"Astaghfirullah, bukannya ini adalah sosok yang disebut Ratu Ajeng sewaktu di pondok persinggahan Mak Iyem, Sezha tertangkap lagi olehnya ya Allah."


"Hahahaha kau masih mengenaliku rupanya, asal kau tau sekarang temanmu adalah pengikut setiaku."


"Lepaskan temanku sekarang, untuk apa kau mengikatnya seperti itu ?" Hardik Nova.


"Bukan urusanmu, jangan pernah berani memetintahku bocah." Aura Ratu Ajeng mulai tidak senang.


Ustadz Dedek menyuruh Nova untuk mundur.


"Sudah kukatakan buka untuk diam dan tidak bicara atau silahkan kamu kembali pulang."

__ADS_1


"Maaf pak, saya lepas kontrol begitu melihat sosok ini." Nova menunduk menyesal.


"Tidak apa-apa, kamu cukup diam saja."


"Baik pak ustadz."


"Hahahaha bawa bocah bocah ingusan hanya akan mempersulit dirimu manusia gobl*k hahaha." Ratu Ajeng tertawa mengejek.


"Benar Ratu, sungguh tidak sebanding dengan Ratu." Puji Tukijan kepada Ratu Ajeng.


Sezha hanya diam dan masih memasang wajah angkuhnya padahal ia tidak tau akan diapakan dia oleh Ratu Ajeng, ia terlalu percaya diri jika dia tidak akan disakiti oleh Ratu.


"Sudah Ratu bereskan saja mereka. Mereka hanya orang yang bisa mengurusi hidup orang lain saja."


Nova tak menyangka Sezha berkata seperti itu padahal dia sedang terikat bukannya meminta tolong malah menyuruh Ratu untuk memberi pelajaran pada Nova dan ustadz Dedek.


"Sezha, kamu ?"


"Huh ,udahlah Nov gak usah pura-pura care sama aku. Padahal kamu iri kan lihat aku senang makanya kamu berusaha untuk mengusik hidup aku, dengan meminta bantuan kepada ustadz gadungan ini."


"Astaghfirullah Zha, kamu kenapa berfikir seperti itu, aku sedikitpun gak ada pikiran seperti itu. Aku tulus baik sama kamu, karena kamu udah aku anggap teman baik aku ."


"Alesan, lagu lama." Cemooh Sezha tidak peduli.


"Jangan kamu dengar ucapan dari teman kamu, dia masih dikuasai aura jahat jadi dia berbicara tidak dengan sesuai hatinya." Ustadz Dedek menengahi agar Nov tidak terlalu meladeni ucapan Sezha.


"Iya pak ustadz, hanya saja saya kaget kenapa dia bisa berfikir buruk tentang saya. Padahal saya tidak ada niat buruk sedikitpun terhadap dia."


"Lupakan apa yang dia katakan, jangan terkecoh. Ingat kamu harus tetap fokus jangan lengah atau lemah, paham kan." Ustadz Dedek mengingatkan tujuan mereka kesini.


"Baik pak ustadz, sekali lagi saya minta maaf. Saya ikut hanya merepotkan pak ustadz saja." Wajah Nova murung.


"Sudahlah saya paham kenapa kamu begini." Ustadz Dedek memakluminya.


"Terimakasih pak ustadz." Timpal Nova lega.

__ADS_1


__ADS_2