MAMA

MAMA
Bab 62


__ADS_3

Hanifah membaca mantra.


"Musna banter kaya angin (menghilang secepat angin)." Hanifah membacanya cukup satu kali.


Benar saja dengan sekejap Hanifah sudah berada di belakang Nova.


Hanifah menarik rambut belakang Nova.


"Mau lari kemana, mbak?" Tanya Hanifah sinis.


"Awww..lepasinn !" Sentak Nova.


"Kenapa harus terburu-buru mbak ? waktu menginap mbak masih ada beberapa hari disini, tidak mau sampai selesai, sayang lho mbak sisa harinya karena tidak dapat digantikan oleh orang lain maupun diuangkan." Tutur Hanifah sambil menarik kuat rambut Nova.


"Aku gak peduli..aku gak sudi harus menginap di tempat setan !!" Upat Nova.


"Jangan terlalu kasar mbak, sebaiknya kita kembali. Mbak harus melihat pertunjukan di sana."


Tutur kata Hanifah terdengar halus tapi syarat makna menusuk dan mengintimidasi lawan bicaranya.


"Pfuiihhhh..lepasin !!" Nova meradang.

__ADS_1


Nova berusaha melepaskan cengkraman tangan Hanifah dari rambutnya.


"Percuma mbak, jangan melawan tidak baik untuk kesehatan jantung mbak." Hanifah terus saja menarik rambut Nova.


"Aku bilang gak !!" Nova berbalik dan menerjang bagian perut Hanifah dengan kaki kanannya.


Akibat tendangan kaki Nova yang cukup keras, Hanifah tersungkur ke tanah dan Nova bisa terlepas dari Hanifah yang mencengkram rambutnya.


"Syukur huh, bye." Ucap Nova mengejek.


Nova meninggalkan Hanifah yang masih tersungkur, ia terus berlari guna mencari bantuan kepada warga kampung yang tinggal tak jauh dari persinggahan pondok Mak Iyem' ini.


"Ahhh..ssss perutku (Hanifah meringis kesakitan). Tenaganya lumayan juga, ck awas kau." Hanifah mengepal tangannya.


Hanifah kembali membaca mantra itu lagi didalam hati, tapi ia gagal melakukannya.


"Kenapa aku tidak dapat berpindah ?" Hanifah bingung.


Hanifah memandang Nova yang sudah berhasil melewati batas kuasa atau teritorial Mak Iyem'.


"Pantas saja, aku tidak dapat berpindah ternyata dia berhasil keluar dari area ini. Aku harus secepatnya memberi tahu kepada Mak."

__ADS_1


Hanifah memutuskan untuk kembali ke persinggahan karena ia tidak mungkin mengejar Nova yang sudah berada diluar area ini.


Jika Hanifah terus mengejar Nova sampai diluar area Persinggahan ini maka pasti akan ada warga yang melihatnya maka dari itu Hanifah memutuskan untuk balik.


Nova menoleh kebelakang dilihatnya Hanifah berbalik dan tidak mengejarnya lagi. Nafas Nova ngos-ngosan, ia berhenti sejenak guna mengatur nafasnya.


"Huuu, akhirnya aku bisa keluar juga dari tempat itu (Nova bernafas lega). Sekarang aku tinggal minta bantuan warga kampung. Tapi dimana ya? hm rumah disini masih jarang-jarang ditambah suasananya sepi. Mana lagi aku gak ada yang kenal." Nova bingung sambil memperhatikan beberapa rumah penduduk.


Nova masih lelah, ia melihat ada sebuah pohon besar di dekat persawahan.


"Aku istirahat disana aja deh, lumayan buat ngisi tenaga."


Nova berjalan mendekati pohon besar itu. Pohon ini sangat rindang, Nova ingin beristirahat dibawah pohon itu.


"Aku duduk disini dulu, moga aja ada salah seorang warga lewat. Aku mau ngetuk salah satu rumah, iya kalo mereka percaya dengan apa yang aku alami di persinggahan itu. Hm tapi kalo aku disini aja, gimana Sezha ?" Nova dilanda bimbang.


Ditengah rasa bimbangngnya, ia melihat ada 2 orang bapak-bapak berjalan dengan membawa cangkul dan juga arit.


"Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang lewat. Sebaiknya aku hampiri, moga aja bapak-bapak itu bisa bantu."


Nova bergegas.

__ADS_1


__ADS_2