
Mendengar obrolan ustadz Dedek bersama Nova, Ratu Ajeng mulai bosan.
"Hentikan omongan tak berguna kalian, aku muak mendengarnya. Langsung keintinya saja, aku mau kita bernegosiasi demi kenyamanan diantara kita." Ratu Ajeng menyela pembicaraan.
"Negoisasi apa yang kau maksud ?" Tanya ustadz Dedek.
Ratu Ajeng melirik kearah Tukijan, isyarat Ratu Ajeng menyuruh Tukijan yang menyampaikan.
Tukijan paham arti Ratu Ajeng melihat kearahnya.
"Aku yang akan memberitahu kalian, apa yang Ratu inginkan. Dengarkan baik-baik. Pertama, mulai detik ini kalian harus berhenti mengusik Ratu apapun yang Ratu lakukan, kedua jangan coba-coba menyadarkan manusia yang telah mengucapkan ikrar setia pada Ratu. Ku rasa hanya kedua itu yang sangat Ratu inginkan, intinya Ratu tidak mau diganggu, Ratu menginginkan ketenangan." Tukijan menyebutkan kedua syarat yang di inginkan Ratu.
"Ya, hanya itu saja yang aku inginkan. Bagaimana apakah kalian menyetujuinya ?" Timpal Ratu Ajeng.
__ADS_1
Ustadz Dedek tidak akan menyetujui kedua keinginan dari Ratu Ajeng, menurutnya Ratu Ajeng harus berhenti menyesatkan manusia.
"Aku tidak bisa menyetujui kedua hal itu, kecuali kau benar-benar pergi dan tidak akan pernah datang lagi ke dunia manusia. Apakah kau juga bersedia menyetujuinya ?" Ustadz Dedek membalikkan negoisasi ke Ratu Ajeng.
Ratu Ajeng nampak tidak senang, ia seperti dipermainkan dengan pertanyaan ustadz Dedek.
"Erghhhh....aku sudah berbaik hati padamu tapi sepertinya kau tidak menginginkanku untuk bersikap ramah pada kalian. Baik kalo gitu, negoisasi kita batal. Kau ingin melihat aku brutal rupanya, lihatlah apa yang bisa ku lakukan didepan kau dan bocah ingusanmu itu." Ratu Ajeng mengancam.
Ratu Ajeng secara tiba-tiba mengebaskan ekornya kearah Sezha yang terduduk dikursi dengan posisi terikat.
"Astaga Ratuuuu ! turunkan saya ! saya takut ketinggian, Ratu !" Sezha meminta agar ia diturunkan.
Bukannya menurunkan, Ratu Ajeng malah tertawa puas melihat ekspresi wajah Sezha yang ketakutan.
__ADS_1
"Hahahaha....kenapa kau takut ? bukankah kau pemuja setiaku hahahaha..sekarang buktikan dengan tindakan nyata kalo kau setia padaku, Sezha hahahaaa." Ratu mengayunkan Sezha, Sezha terombang-ambing di udara.
"Hiks Ratu ? tolong turunkan saya. Kenapa harus dengan cara seperti ini ? bukannya Ratu hanya menjadikan saya umpan saja demi bisa membuat ustadz itu datang kesini." Sezha mulai menangis sembari memohon, dan juga menanyakan tujuan awal ia dibawa kesini.
"Hahahaha naif sekali pemikiranmu kepadaku, jika kau memang benar-benar pemuja setiaku, kau tidak akan takut m*ti ditanganku b*doh ! hahahaha."
Sezha bagai mati kutu, ia sama sekali tidak berfikir akan berbalik seperti ini. Wajahnya hanya bisa sedih bercampur tegang, takut dan pastinya terkejut.
"Ja~di, mak~sud Ratu, saya harus bersedia mempertaruhkan nyawa saya demi Ratu, begitu ?" Tanya Sezha terbata sambil menekan salivanya.
"Pintar sekali hahahaaa..." Jawab Ratu Ajeng masih terus tertawa puas.
"Jadi selama ini apa yang saya lakukan untuk Ratu belum atau tidak artinya sama sekali dimata Ratu ?" Sezha kecewa tak menyangka.
__ADS_1
"Sudah diam ! hentikan pertanyaan konyol mu. Aku ingin melihat kesetiaanmu untukku, bukan sekedar ucapan lisan semata tapi yang aku inginkan adalah tindakan yang nyata, apa kau mengerti ? jadi berhentilah merengek didepanku dengan wajah memelas mu itu, karena aku tidak akan tersentuh hahaha..."