
Keesokan paginya di sekolah Arin menceritakan yang ia alami di hari Minggu itu kepada Lala.
"La, aku mau cerita ni."
"Cerita apa ? pasti tentang Sezha lagi kan." Tebak Lala.
"Ish bukan, ini beda."
"Beda ? yaudah gih buruan cerita keburu bel terus pak Abram masuk, yang ada kelamaan ceritanya."
"Ni ya semalem tuh aku ditelpon pake private number, gak tertera namanya dilayar ataupun nomor ponselnya."
"Terus apa yang wow dari private number ?" Tanggapan Lala wajah datar.
"Nah jadi itu kan aku jawab donk tuh telpon gaje ( gak jelas), tau gak apa yang aku denger sewaktu aku jawab telponnya ?" Arin malah bertanya balik ke Lala.
"Yaelah Rin, mana lah aku tau. Kan kamu yang jawab tuh telpon bukan aku hadeh kamu kira aku anak Indihome bisa nebak." Lala memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Jadi tu waktu aku jawab, terdengar suara gini to~long, nah terus aku nge-reff donk langsung aku matiin sambungan teleponnya, pake acara drama segala."
Lala yang tadinya nampak acuh mulai bergidik merinding ketika Arin memeragakan suara yang Arin dengar.
"Beneran Rin ? serius kamu gak ngada-ngada kan ?" Lala memastikan.
"Ya seriuslah masa iya aku bohong. Emang kenapa sih kok kamu berubah takut gitu ? lebay kamu La, aku kan cuma cerita."
"Ya ampun Arin, otak kamu itu bisa berfikir gak sih, heran aku, kamu punya otak tapi gak punya pikiran."
"Maksudnya ? suek kamu La, bawa-bawa otak segala."
"Kamu tuh yang gak punya otak, lagian sejak kapan hantu punya ponsel terus pulsa buat nelpon. Emang disana ada jual pulsa, ngaco kamu."
"Ya terserah kalo gak percaya, hati-hati Rin."
"Ck cerita sama kamu bikin tambah kesel bukannya kasih solusi malah bikin emosi."
__ADS_1
"Yee, lagian bener tau. Coba cek nomor pribadi yang telpon kamu, aku mau lihat masih ada gak nomor pribadi itu. Aku yakin pasti udah ilang tanpa kamu hapus."
"Ok aku cek ya, kalo masih ada gimana. Kamu traktir aku wafer naba*i cokelat satu ya."
"Dih gak janji, udah buruan cek."
Arin membuka kunci layar ponselnya kemudian ia beralih ke menu panggilan telpon yang tak terjawab dan bener kata Lala, nomor pribadi yang menelpon Arin sudah tidak ada di ponsel Arin padahal Arin sama sekali belum menghapus history panggilan.
"Hilang La." Arin tercengang.
"Tuh kan bener aku bilang Rin."
"Terus kalo beneran yang kamu bilang, aku gimana donk. Sumpah aku jadi merinding ni."
"Duh jangan tanya aku deh Rin, aku jetlag kalo bahas yang beginian. Nah mending kamu tanya Nova, kali aja Nova bisa bantu. Lagian kamu ngapain takut coba, almarhumah bulek kamu aja bisa liat makhluk halus, masa punya ponakan takut."
"Bedalah, udah ah ntar kalo nomor pribadi itu telpon lagi gak usah aku jawab. Bila perlu aku matiin aja telpon aku, daripada terjadi hal-hal yang gak aku inginkan, mending cari selamat "
__ADS_1
Ditengah obrolan mereka, bel masuk berbunyi. Pak Abram memasuki kelas. Arin dan Lala berhenti mengobrol.