
Disela perbincangan mereka berdua, bulek masuk dengan membawa gelas yang berisikan ramuan jamu kunyit.
"Kamu istirahat saja, jangan terlalu banyak bergerak atau darahnya akan sulit untuk berhenti." Bulek mengingatkan sambil duduk ditepi ranjang samping Sezha.
"Perut saya sakit Bu ssshhhh." Sezha masih meremas perutnya.
"Kamu minum ini, nanti perlahan sakit diperut kamu akan menghilang." Bulek Sukini memberikan ramuan jamu.
"Apa ini Bu?" Sezha sempat bertanya dalam kesakitan.
"Ini obat, kamu tenang saja saya tidak akan meracuni kamu."
Sezha menoleh kearah Nova, ya Nova tau jika Sezha sedang ingin meminta pendapat atau bisa dikatakan penjelasan.
"Itu obat Zha, gak apa-apa minum aja. Lagian bulek ini orang baik, bulek yang udah nolong kita dan memberikan tempat untuk kita tinggal." Nova menerangkan.
Sezha mengangguk percaya karena Nova sudah mengatakan seperti itu.
Sezha mencoba kembali untuk duduk, namun tetap sama ia masih merasakan sakit dibagian perut bawahnya.
Bulek meminta Nova membantu Sezha agar dapat meminum ramuan jamu ini.
"Kamu tahan tubuhnya, sepertinya dia belum kuat untuk duduk sendiri." Kata bulek kepada Nova.
"Baik bulek." Nova mengerti.
__ADS_1
Tangan kanan Nova menahan punggung Sezha, sedangkan tangan kiri Nova memegang gelas jamu.
"Ini minum Zha." Nova menyodorkan ke mulut Sezha.
Sezha meminum perlahan, usai meminun setengah Sezha sudah enggan untuk meminumnya lagi.
"Cukup Nov, nanti lagi aja." Ujar Sezha.
"Tapi Zha sedikit lagi ini, kamu minum sampai habis." Nova meminta Sezha untuk menghabiskan jamu.
"Gak Nov, letak aja nanti pasti aku minum lagi." Sezha menolak.
Bukannya Nova yang menjawab melainkan bulek Sukini.
"Jangan keras kepala sebaiknya segera kamu habiskan jamu itu. Habiskan selagi masih hangat."
Sezha mengangguk tanda ia mau meminum sampai habis.
Setelah Sezha meminum jamu sampai habis bulek pun beranjak keluar dari kamar ini.
"Baiklah kalo begitu, bulek mau istirahat juga. Kalian berdua tidurlah sebentar lagi hari akan segera pagi, tapi sebelumnya kamu berganti pakaian terlebih dahulu biar Nova yang membantu kamu." Suruh bulek sambil melangkah keluar dari kamar ini.
Saat bulek hendak melangkah, tiba-tiba Sezha meraih pergelangan tangan bulek Sukini.
Bulek Sukini menahan langkahnya, kemudian berpaling melihat kearah wajah Sezha.
__ADS_1
"Ada apa ?" Tanya bulek.
"Tidak apa-apa bu, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih."
"Sudah jangan merasa sungkan. Sudah kewajiban sesama manusia saling menolong. Yo wes yo, bulek mau ke kamar dulu. Beristirahat lah." Bulek tersenyum lembut menatap wajah Sezha.
Sezha merasa terenyuh dengan perlakuan lembut bulek Sukini kepadanya, sentuhan ini tidak ia dapatkan dari sang ibu. Sezha merasa tenang saat bulek menunjukkan senyum tulus.
Melihat Sezha termenung sambil memandang punggung bulek, Nova menyadarkan dengan bertanya.
"Zha, kenapa ?" Tanya Nova.
"Ibu itu baik Nov." Jawab Sezha.
"Jangan panggil ibu, panggil aja bulek. Kamu mau tau bulek ini siapa ?"
"Maksudnya?" Sezha mengerutkan dahinya.
"Iya, bulek ini adalah bulek dari Arin. Nah kemarin Arin sempat menghubungi bulek, dan memberitahu jika kita sedang ada di persinggahan pondok mak Iyem. Makanya bulek udah tau kita dari Arin."
"Ohhh hoammm..Nov, aku ngantuk ni." Sezha menguap.
"Tunggu dulu Zha, aku bersihin dulu ya. Kamu ganti pakaian dulu."
"Iya Nov."
__ADS_1
Nova dengan telaten membasuh tubuh Sezha dan usai dibasuh Nova memakaikan pakaian yang ia miliki karena barang bawaan Sezha masih tertinggal dirumah di persinggahan pondok mak Iyem.