MAMA

MAMA
Bab 87


__ADS_3

Hendak membuka pintu ingin masuk dari arah jalan terdengar suara Arin memanggil Nova.


"Nova !"


Nova menoleh kebelakang, dilihatnya Arin membelokkan motornya ke perkarangan rumah Nova.


Arin mematikan mesin motor kemudian turun dan langsung menghampiri Nova.


"Nov, kapan sampe baru keliatan ?"


"Baru aja kok, emang ada apa Rin?"


"Gak, aku cuma say hello aja, liat kamu udah pulang kerumah dengan selamat tanpa kekurangan satu pun alias masih lengkap."


"Ohh alhamdulillah aku baik-baik aja kok dan masih lengkap." Timpal Nova.


"Sezha mana? kok gak keliatan cuma kamu doank."


"Elah Rin, emang aku sama Sezha serumah. Gak kan jadi ya dia pulang donk kerumahnya."


"Ya kirain gitu transit disini. Eh btw ketemu bulek aku gak disana?"


"Iya ketemu malahan kami tinggal dirumah bulek untuk beberapa hari. Btw makasih banyak ya Rin, kamu bersedia bantui aku sama Sezha. Kalo kamu gak bantui, gak tau deh masih bisa pulang atau gak."


"Iya sama-sama, kan kebetulan bulek aku tinggal di dekat yang kalian datangi. Aku teringat dengan tempat itu makanya aku buru-buru telpon bulek."

__ADS_1


"Oh ya sampe lupa, ada bingkisan dari bulek untuk kamu." Nova memberikan bungkusan plastik kepada Arin.


"Bingkisan ?" Arin bingung sembari menerima bingkisan.


"Ya, yaudah buka biar tau apa isinya soalnya aku juga belum liat."


"Aku penasaran, apa ya yang dibawain bulek."


Raut wajah Arin penasaran sambil membuka bungkusan plastik.


Begitu dibuka wajah Arin yang tadinya bingung dan penasaran mendadak berubah kaget.


Nova bertanya pada Arin, ia ingin tau apa isi dari bungkusan plastik itu.


"Apa isinya ?"


"Kenapa gak penting ? emang apaan itu ?" Tany Nova ikut penasaran.


"Dih kepo, bukan apa-apa. Udah ah aku mau pulang. Makasih ya Nov udah jauh-jauh bawain bingkisan ini eh salah bungkusan, padahal kalo kamu buang juga gak apa-apa." Arin pamit pulang tanpa mau memberitahu isi dari bungkusan.


"Lah, nanya isinya apa malah pulang. Tunggu dulu, aku masih kepo ini. Isinya apaa sih, coba liat." Nova merebut begitu saja bungkusan itu dari genggaman Arin.


Arin sontak panik karena Nova berhasil merebut bungkusan dari genggaman tangannya.


"Ehhh sini Nov, isinya bukan apa-apa." Arin mencoba merebut kembali bungkusan dari tangan Nova.

__ADS_1


"Aihh bentar mau liat doank juga, pelit amat sih." Nova membelakangi Arin dan membuka bungkusan plastik.


Begitu melihat isi dari bungkusan plastik, Nova menahan tawa.


Melihat ekspresi Nova yang seperti ingin tertawa, Arin secepat kilat mengambil bungkusan itu.


"Udah puas kan, ck." Arin berdecak kesal.


"Iya maaf deh, abis aku kepo."


"Au ah, aku mau pulang." Arin makin cemberut.


Arin menghidupkan mesin motornya dengan masih wajah kesal.


Nova melambaikan tangannya sambil masih menahan rass ingin tertawa.


"Dah Rin, hati-hati di jalan ya."


Arin melengos, melihat Nova malas.


Setelah Arin pergi barulah Nova tertawa lepas.


"Pfftttt bwaHahahaaa....astaga ngakak aku, bulek ada-ada aja kirain pakaian luar yaelah rupanya pakaian dalam, udah gitu warna pelangi lagi. Bulek ma ponakan sama-sama kocak wkwkkkkkk." Nova tak hentinya tertawa terbahak mengingat isi bungkusan tadi.


Dirasa sudah cukup puas tertawa, Nova pun masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Aku ketawa diluar sendirian, udah ah masuk sebelum dikira orgil aku, ntar lanjut lagi ketawanya di kamar. Masih pengen ngakak aku." Nova masuk kerumah dengan wajah masih tersenyum-tersenyum sendiri.


__ADS_2