
Setibanya dirumah Sezha langsung masuk ke kamarnya, untuk menyimpan darah yang sudah ia beli tadi. Karena ia tidak mau jika sampai ibunya tau kemudian bertanya prihal untuk apa darah itu.
Perkiraan Sezha meleset, ibunya mengetahui jikalau Sezha telah sampai dirumah, ibunya menghampiri Sezha yang berada didalam kamarnya.
"Zha, kamu udah pulang ?"
"Eh ibu, iya Bu. Sezha udah pulang." Sezha kikuk.
Waduh ibu sadar aku pulang ternyata. Kira-kira ibu tau gak ya, kalo ibu tau pasti ditanya-tanya.
"Zha, kok bengong. Kamu darimana ? masuk diam-diam biasanya kalo pulang langsung temui ibu sama adek."
"Hm iya Bu, Sezha kebelet pipis makanya langsung masuk kamar gitu. Kenapa Bu, si adek nangis ya ?" Sezha mengalihkan.
"Gak, si adek mah anteng. Ibu mau nanya sama kamu ?"
"Mau tanya apa Bu ?" Tanya Sezha salah tingkah.
__ADS_1
"Ini tadi Ega bilang sama ibu, katanya kamu pergi buat beli darah sama yang mau jual darahnya, bener itu apa yang dikatakan Ega ?"
"Lho Ega kok tau, perasaan Sezha gak ada cerita sama Ega." Sezha kaget.
"Iya kebetulan semalam sewaktu kamu lagi telponan, gak sengaja Ega denger. Jawab aja, emang bener yang dikatakan Ega ?"
"Bener Bu, Sezha abis beli darah sama pendonor."
"Untuk apa darah itu Zha ? ibu lihat kamu baik-baik aja." Ibunya heran.
"Bukan untuk Sezha kok Bu, tapi untuk temen Sezha. Dia butuh transfusi darah, nah di rumah sakit golongan darah yang dibutuhkan temen Sezha lagi kosong makanya Sezha bantu cari, dan kebetulan juga golongan darahnya sama dengan temen Sezha, gitu lho Bu." Sezha berbohong.
"Itu Bu, apa namanya, eh itu..(Sezha gagap, ia bingung mencari alasan yang tepat ) rumah sakitnya gak boleh terlalu banyak orang jenguk Bu, biasalah Bu peraturan rumah sakitnya ketat banget. Sezha aja dibatasi waktu jenguknya, cuma boleh 15 menit doank, gak boleh lebih." Sezha terus berbohong.
"Oh gitu, ya sudahlah. Titip salam ibu ya, sama temen kamu. Cepet sembuh."
"Iya Bu nanti Sezha sampein."
__ADS_1
"Ibu mau lanjut beresi rumah, kamu udah gak pergi lagi kan ?"
"Gak kok Bu, sini si adek. Ibu lanjut beberes aja."
"Sama mama kamu ya, nenek mau tugas."
Ibunya keluar dari kamar Sezha, tak lupa ibunya menutup pintunya.
Memastikan ibunya telah menutup pintunya, Sezha memeriksa darahnya yang ia simpan dalam lemari pakaian.
"Gak mungkin simpen di sini, bisa bau donk kalo sampe malam. Simpan di kulkas aja kali ya, biar dingin. Iya deh simpan kulkas aja, tapi nanti pasti ibu tanya lagi, kenapa gak buruan dikasih darahnya ? ck pusing aku, ibu banyak nanya. Ck ni gegara Ega pake acara nguping segala, kebiasaan emang tuh anak. Awas aja nanti kalo pulang sekolah aku tegur, biar gak kebiasaan nguping."
Sezha kembali bingung, dimana dia harus menyimpan darah ini karena tidak mungkin ia simpan di lemari pakaian, pasti sampe malam hari akan berbau amis. Ia ragu untuk menyimpan di kulkas tapi ia harus menyimpannya segera di lemari pendingin/kulkas jika tidak darah akan berbau jika lama-lama terkontaminasi udara luar.
"Udah ach simpen kulkas aja, daripada bau, udah beli mahal-mahal. Dibungkus plastik hitam aja terus letak paling bawah pasti gak akan ketauan."
Sezha menyimpan darah ini di dalam kulkas, ia meletakkan di laci paling bawah dengan dibungkus dengan plastik kantongan berwarna hitam agar tidak ketahuan.
__ADS_1
"Ok, aman. Waktunya istirahat deh."