
Begitu didalam mobil, Deon baru bisa membalas pesan singkat dari Sezha karena tidak mungkin ia membalas sewaktu masih dirumah sebab ada sang istri.
Deon membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Sezha pagi ini.
\=Iya sayang, nanti siang ya, mas mau kerja dulu. Love you\=
Usai mengirim balasan ke nomor ponsel Sezha, barulah Deon melajukan mobilnya.
Setiba di perusahaan tepatnya sampai keruangan kerja pribadinya, ia merasa jikalau ruangannya terasa tidak nyaman, tercium aroma bunga kantil menyeruak memenuhi ruangan.
"Kenapa seperti wangi bunga orang yang meninggal ?" Tanyanya lirih sambil menutup hidung.
Deon keluar dari ruangan dan segera memanggil office boy untuk mengganti parfum ruangannya.
"Tono ! sini sebentar !" Panggilnya pada Tono si office boy yang sedang menyapu lantai.
"Iya pak !" Sahut Tono.
__ADS_1
Tono bergegas menghampiri Deon tentunya dengan sudah membawa peralatan kebersihan.
"Ada apa pak ?" Tanya Tono singkat.
"Tolong kamu bersihkan ruangan saya, bau ruangan saya sangat tidak enak. Bila perlu sekalian kamu ganti parfum ruangan saya." Perintah Deon.
"Tapi maaf pak, ruangan bapak sudah saya bersihkan sebelum bapak sampai." Jelas Tono.
"Kalo kamu memang sudah membereskan ruangan saya masa kamu tidak merasa kalo wangi ruangan saya itu berubah. Udah deh gini aja coba kamu masuk lagi lalu kamu cek aroma apa yang kecium. Gak masuk akal bisa-bisanya ni ya ruangan saya wangi bunga orang meninggal." Sanggah Deon.
"Baik pak, saya akan mengecek parfum ruangan bapak. Permisi pak." Ucap Tono tidak mau berdebat lagi, sembari memasuki ruangan Deon.
Di dalam ruangan, Tono sama sekali tidak mencium aroma bunga orang meninggal seperti yang dikatakan oleh Deon tadi.
"Wanginya biasa aja, kenapa pak Deon bilang wangi bunga orang meninggal ? hm aneh pak Deon. Lagian parfum ruangannya baru kemarin aku ganti perasaan." Gumamnya bingung sambil mengendus aroma bunga tapi tidak sedikitpun tercium oleh indera penciuman Tono.
Tono berjalan keluar ruangan dan mengatakan pada Deon.
__ADS_1
"Maaf pak, saya tidak mencium aroma bunga sedikit pun."
"Kamu yakin, kamu sudah cek parfum ruangan saya ?" Tanya Deon ngotot.
"Sudah pak, parfum ruangan bapak masih banyak soalnya baru kemarin saya menggantinya." Jawab Tono.
"Ada yang tidak benar ini, aneh menurut saya (ucap Deon sambil memegangi dagu). Jelas-jelas begitu saya masuk, aroma bunganya wangi banget tapi setelah kamu masuk aromanya langsung hilang." Deon heran bercampur gelisah.
"Mungkin saja sewaktu bapak masuk keruangan tadi tidak sengaja ada makhluk halus juga ikut masuk, pak. Itu kata emak saya sih pak." Duga Tono.
"Jangan ngaco kamu, mana ada zaman sekarang makhluk halus. Apalagi pagi-pagi gini. Ya sudah sana kamu lanjut bersih-bersih lagi." Deon menyangkal perkataan Tono lalu menyuruh Tono melanjutkan pekerjaannya.
"Iya pak, saya permisi." Pamit Tono.
Beberapa langkah Tono berjalan, ia menggerutu sedikit kesal pada Deon.
"Minta tolong tapi gak makasih, eh malah nyolot hadeh. Emang nasib OB mah gini, dibersihin salah, gak dibersihin lebih salah. Kapan aku bisa naik jabatan, ya minimal jadi bagian HRD dah. Hm cuma mimpi doank, nyatanya udah 2 tahun jadi OB mulu, nasib ..nasib .." Disamping menggerutu Tono juga berandai-andai.
__ADS_1
Setelah Tono pergi, Deon masih ragu untuk masuk keruangannya. Sepintas ia mulai memikirkan ucapan Tono tentang kehadiran makhluk halus.
"Apa bener yang dibilang Tono tadi ? ck masa iya. Ach palingan Tono ngada-ngada." Deon dengan cepat membuang dugaan kehadiran makhluk halus diruangannya.