
Ibu Nova berjalan lebih dahulu lalu Nova dan Arin mengikuti dari belakang. Mereka berdua bicara berbisik.
"Nov, ada apaan sih ?" Tanya Arin.
"Aku gak tau, ada apa. Aku juga bingung." Jawab Nova sembari mengangkat kedua bahunya.
Setiba di teras, ibu menyuruh kami untuk duduk berhadapan dengan pak ustadz Dedek.
"Kalian duduk, pak ustadz ingin bertanya sedikit."
Nova dan Arin duduk dengan perasaan tanda tanya.
"Silahkan pak ustadz, tanyakan pada anak saya dan juga temannya. Saya tinggal sebentar kedalam."
"Baik ibu, terimakasih."
Ibu Nova meninggalkan Nova dan Arin bersama dengan pak ustadz, sebab masih ada pekerjaan rumah yang belum ia selesaikan.
"Hm, pak ustadz mau tanya apa ke kita berdua ?" Tanya Nova lebih dulu.
"Sebelumnya saya meminta maaf jika saya ikut campur diantara pertemanan kalian."
__ADS_1
"Ikut campur ? maksudnya ?" Nova belum paham.
"Begini, apakah yang keluar tadi adalah teman kalian ?" Pak ustadz balik bertanya.
"Iya pak, itu Sezha temen kita. Emangnya kenapa ya pak ?" Nova menatap Arin karena semakin bingung.
"Santai saja, saya perhatikan wajah kalian terlalu tegang. Saya bukan pak polisi yang lagi mau interogasi kalian, saya ini cuman ustadz." Pak ustadz Dedek merasa lucu dengan mimik wajah Nova dan Arin yang sejak awal seperti kebingungan.
"Gak kok pak ustadz, kita mah santai. Ya kan Rin." Nova tertawa dipaksakan sambil menyolek lengan Arin.
"Eh iya pak ustadz, kita santai kok. Lanjut aja mau tanya tadi soal temen kita." Celetuk Arin.
"Baiklah, daripada panjang lebar. Langsung saja saya bertanya. Apakah kalian tidak merasakan suatu kejanggalan terhadap teman kalian yang tadi ?"
"Ish pak ustadz, jangan main tebak-tebakan lagi. Katanya tadi langsung aja, eh malah pertanyaan lagi. Perasaan daritadi tanya menanya aja deh. Ntar Nova nanya, eh pak ustadz gak jawab malah balik nanya dengan pertanyaan. Kapan selesai pertanyaannya kalo gitu, abisnya gak ketemu pertanyaan sama si jawaban, seperti ada jurang pemisah diantara keduanya, hm.." Arin ngedumel sembari menghela nafas.
"Hilih, bahasa kamu Rin, Rin. Sejak kapan pertanyaan sama jawaban jadi pasangan kekasih ? kasihan amat tuh ada jurang pemisahnya segala." Sindir Nova.
"Sejak detik ini Nov, masa gak paham."
Pak ustadz merasa lucu melihat sikap Nova dan Arin.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Saya akan temukan si pertanyaan dengan si jawaban, tapi sebelumnya mereka harus saya nikahkan dulu biar tidak ada lagi jurang pemisah diantara mereka." Ucap pak ustadz Dedek dengan candaan juga.
"Pfftttt, wkwkwk pak ustadz bisa ngelawak juga. Gimana ijab qobul nya coba ? wkwkwk." Arin terkekeh.
"Ck ni anak." Nova berdecak kesal melihat Arin yang tidak ada seriusnya.
"Lucu lho Nova, wkwkwk. Aku aja lagi ngebayangin ini abis ijab qobul, terus resepsi nah abis tuh pasti malam pengantin kan wkwkwk." Arin masih saja membahas kocak tentang pertanyaan dan jawaban.
Nova memutar bola matanya malas, Nova tidak habis pikir dengan sikap humor Arin yang receh, mudah tertawa ngakak padahal menurut Nova candaannya biasa aja gak yang lucu banget.
Sementara pak ustadz juga ikut tersenyum melihat Nova dan Arin yang bersebrangan sikap, tiba-tiba ponsel pak ustadz Dedek bergetar tanda pesan singkat masuk.
Pak ustadz mengambil ponsel disaku kemejanya.
Usai membaca isi pesan singkat, pak ustadz memutuskan untuk pamit kembali ke mesjid.
"Maaf ceritanya lain waktu saya lanjutkan lagi, saya harus kembali ke mesjid saat ini juga. Kalo begitu bapak permisi dulu, wassalamu'alaikum."
Sontak Arin terhenti tertawa ketika pak ustadz pamit dan bertanya dengan nada kecewa.
"Waalaikum salam. Lah, pak ustadz belum jelasin, ada apa dengan teman kita ?"
__ADS_1
"Insya Allah lain hari akan saya ceritakan, bapak pamit."
"Waalaikum salam pak ustadz." Sambung Nova tanpa bertanya lagi.