
Ustadz Dedek saat akan mau berjalan pulang, ia di panggil oleh salah satu tetangga yang berdekatan dengan rumah Sezha.
"Pak ustadz, tunggu !" Serunya.
Pak ustadz menoleh, dilihatnya seorang ibu-ibu berjalan kearahnya.
Si tetangga Sezha menghampiri ustadz Dedek.
"Assalamualaikum, pak ustadz." Sapanya dengan salam.
"Waalaikum salam, Bu. Ada apa ibu memanggil saya ?"
"Ini lho pak ustadz, saya cuma pengen tau tadi itu pak ustadz lagi bicarakan apa dengan Sezha ? saya lihat serius sekali, dan saya perhatikan raut wajah Sezha kayak kesel gitu. Maaf nih sebelumnya ya pak ustadz, kalo saya ingin tau. Maklum lah pak, kalo penasaran itu suka ngada-ngada terus jatuhnya malah fitnah, kan dosa ya pak ustadz ? makanya saya tanya ustadz langsung gitu." Si tetangga ingin tau pembicaraan antara Sezha dan ustadz Dedek.
"Oh yang tadi, saya hanya menyapa saja tidak lebih kok Bu." Ustadz Dedek tidak ingin memberi tau.
__ADS_1
"Masa sih pak ustadz cuma sapa doank, masa wajah Sezha keliatan kesel gitu sama pak ustadz." Selidik si tetangga makin kepo.
"Benar ibu, tidak ada pembicaraan yang gimana gitu antara saya dan gadis tadi. Kebetulan tadi saya lewat lalu gadis itu ada didepan rumahnya, apa salahnya saya sapa." Ucap ustadz Dedek tersenyum.
"Ih pak ustadz, dia jangan dibilang gadis deh. Soalnya dia itu udah punya anak cuma suaminya belum ada." Si tetangga malah gosip.
"Astaghfirullah ibu, tidak baik menceritakan orang yang seperti itu. Maaf Bu, saya harus segera pulang. Mari Bu, wassalamu'alaikum." Ustadz Dedek pamit pulang.
"Eh iya pak ustadz, waalaikum salam. Hati-hati dijalan ya pak ustadz." Si tetangga kikuk karena ditegur ustadz Dedek.
"Pak ustadz !" Panggil si ibu warung.
Pak ustadz menghentikan langkahnya.
Si ibu warung menghampiri.
__ADS_1
"Pak ustadz darimana ?" Tanya si ibu warung.
"Biasa Bu, olahraga pagi."
"Oh olahraga pagi toh, saya perhatikan pak ustadz akhir-akhir ini sering lewat sini ya pak ? padahal jauh lho dari rumah bapak, emang gak capek ya pak ustadz, jalan jauh ?"
"Tidak Bu, namanya juga olahraga."
"Iya juga ya pak ustadz. Oh ya pak ustadz, saya mau bilang ke pak ustadz. Saya diberitahu sama kerabat saya, tentang rumah itu lho pak ustadz (menunjuk kerumah Sezha ) nah kata dia rumah itu ada aura hitamnya gitu, tapi saya gak liat tuh, rumahnya biasa aja. Saya gak percaya apa yang dikatakan sama kerabat saya, makanya saya mau pastiin ke pak ustadz, kali aja pak ustadz bisa liat yang sama dengan kerabat saya itu."
"Bu, saya tidak tau. Sebaiknya jangan mengatakan hal yang tidak ada buktinya, apalagi yang hal-hal begini, takutnya jadi fitnah Bu. Alangkah baiknya berbaik sangka terhadap tetangga kita. Maaf Bu, saya permisi pulang biasalah belum sarapan ini. Mari Bu, wassalamu'alaikum."
"Iya pak ustadz, waalaikum salam."
Ustadz Dedek pulang, dua tetangga Sezha ingin mencari tau tapi ustadz Dedek memilih untuk mengatakan apapun, sebab ia belum mengetahui sebenarnya. Hanya kepada Nova, Arin, Lala dan juga ibu Nova, ustadz Dedek menyampaikan kejanggalan yang ia rasakan kepada Sezha.
__ADS_1