
Arin membopong ibunya yang masih belum sadarkan diri masuk kedalam kamar.
"Bu, bangun Bu, duh gimana ni." Arin dalam kecemasan.
Dalam rasa cemas bercampur bingung, Arin bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengan ibunya.
"Hm sebenarnya ibu kenapa sih ? apa tadi ibu kesurupan ya, soalnya ibu aneh, udah gitu sewaktu mau pingsan, suara ibu aneh atau hantu anak dari Mak Iyem' , dia merasa aku mengusiknya makanya dia datang mengancamku perantara ibu. Iya pasti itu dia, aku harus gimana ni disatu sisi aku harus menolong Sezha dan Nova tapi lain sisi aku diancam, ck aku pusing. Ya Allah aku harus memilih yang mana, menolong temen atau tidak." Arin dirundung rasa gundah serta kebingungan.
Ditengah rasa kebingungan, terlintas di pikiran Arin untuk menelpon buleknya.
"Ya, aku tau harus menghubungi siapa, bulek aku harus telpon bulek, karena cuma bulek yang mengetahui banyak tentang Mak Iyem'."
Arin mengambil ponsel dari dalam saku celananya, kemudian mencari nama bulek.
Percakapan Arin dan bulek.
Tut...Tut...
"Duh, bulek angkat donk." Sambungan telpon Arin belum dijawab.
Setelah itu tak lama terdengar suara bulek diujung telepon
Bulek : " Ya Hallo Arin.
Arin : " Bulek, tolong Arin bulek."
Bulek : " Tolong opo toh?"
__ADS_1
Arin : " Ini lho bulek, ibu tadi kerasukan abis tu pingsan terus belum sadar juga, Arin takut kalo ibu kenapa-kenapa bulek."
Bulek : " Kerasukan bagaimana maksud kamu, Arin?"
Arin : " Awalnya tadi Arin kerumah temen lalu, kita cerita tentang Persinggahan pondok Mak Iyem', nah lepas itu Arin pulang, begitu Arin sampai dirumah ibu pegang pisau ada darahnya. Sambil ibu pegang pisau deketin Arin terus suara ibu berubah jadi suara anak perempuan bulek, ngancem gini 'jangan mengusikku atau aku akan mencelakai ibu kakak'."
Bulek : " Jadi untuk apa kamu harus ceritakan kepada teman kamu, Arin?"
Arin : " Masalahnya bulek, temen Arin ada yang pergi menginap di sana. Jadi Arin berencana untuk menjemput mereka, Arin tidak mau jika sampai terjadi apa-apa dengan teman Arin.
Bulek : " Astaga, udah kamu tenang yo. Ibu kamu tidak apa-apa bulek kamu pasti akan segera siuman. Mengenai teman kamu, ada berapa orang yang pergi ke persinggahan itu ?"
Arin : " 2 orang bulek."
Bulek : " Yo wes, bulek akan coba bantu temen kamu sebisa bulek. Siapa saja nama temen-temen kamu."
Bulek : "Baiklah, yo wes yo bulek ra bantui paklek dulu. Nanti bulek telpon lagi yo."
Arin : " Iya bulek, makasih ya bulek."
Bulek : "Iyo, wassalamu'alaikum."
Arin : " Waalaikum salam."
Sambungan telpon terputus.
Selang tak beberapa lama, ibu Arin pun tersadar.
__ADS_1
Sambil memegangi kepala, ibu Arin duduk.
"Rin." Ibu menatap nanar.
"Bu !" Sontak Arin.
Arin menahan pundak ibunya.
"Alhamdulillah ibu udah sadar."
"Emang ibu kenapa, Rin ?" Tanya ibu bingung.
"Ibu tadi pingsan di dapur, terus Arin bawa ibu kesini."
"Pingsan ? perasaan ibu tadi abis dibelakang udah gitu ibu gak ingat lagi." Ibu berusaha mengingat.
"Iya Bu, yaudah gak usah dibahas yang penting ibu udah sadar."
"Eh tapi tadi ibu suruh beli sayuran mana udah kamu beli?" Spontan teringat.
"Elah Bu, baru juga sadar dan udah inget sayur aja, noh udah Arin beli."
"Ya iya lah, kamu tuh ya di suruh beli sayur malah kelayapan entah kemana, gak tau ibu mau masak." Ibu mulai nyerocos.
"Hadeh, udah ah Arin ngantuk. Dah Bu." Arin menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Tu kan kebiasaan kamu ya, kalo dibilangin bukannya di denger malah kabur."
__ADS_1
"Hoammmmm, dah Bu. Nanti aja lanjutnya sekarang Arin mau tidur." Arin beranjak dari kamar ibunya meninggalkan begitu saja ibunya yang masih ngomel.