
Ega setelah diminumkan obat penenang, barulah Ega tenang, perlahan Ega mulai memejamkan mata tanda ia akan tertidur.
"Syukurlah Ega udah bisa tidur, sebaiknya mumpung Ega sudah tertidur kita bawa kerumah sakit. Sebelum Ega sadar." Kata ibu.
"Tapi Bu, ini sudah malam. Apa masih mau rumah sakit menerima pasien ?" Tanya ayah ragu.
"Pasti mau yah, yang penting kita bawa saja Ega kerumah sakit. Ibu gak tega liat kondisi Ega seperti ini." Desak ibu.
Ayah termenung, bukan karena waktu sudah malam melainkan ayahnya memikirkan biaya Ega selama melakukan perawatan dirumah sakit.
"Bu, kalo Ega dirawat bagaimana dengan biayanya ? ayah gak punya uang Bu."
"Ayah tenang aja, Ega kan udah kita urus BPJS kesehatan, pasti bisa dipakai. Udah ayah jangan terlalu memikirkan hal yang tidak ada, sekarang kesembuhan Ega yang utama."
"Ibu yakin bisa dengan hanya memakai kartu BPJS ?"
"Yakin yah, udah malam ini juga kita bawa Ega kerumah sakit."
Sezha berada disitu hanya bisa diam tanpa bisa berkata, karena memang karena dia, Ega seperti ini.
"Sezha, kamu pesen grab mobil. Ayah sama ibu mau antar Ega kerumah sakit. Kamu jaga rumah ya."
"Iya Bu."
"Tolong kamu siapkan pakaian ayah, ibu dan Ega sekalian. Masukkan kedalam tas yang besar itu."
"Iya Bu."
__ADS_1
Sebelum Sezha memesan grab car terlebih dahulu ia mempersiapkan keperluan yang akan dibawa oleh ibu, ayah dan Ega selama dirumah sakit.
"Semuanya udah Sezha masukin kedalam tas, Bu."
"Terimakasih, grab nya sudah kamu pesen ?"
"Sudah Bu, ini lagi Sezha pesen."
Selang 30 menit, grab car telah sampai. Ya walaupun jam sudah menunjukkan hampir pukul tengah malam tepat tapi grab car masih bisa terima orderan dijam segini.
Grab car membunyikan klakson mobil ketika telah sampai.
"Bu, itu grab nya udah sampe." Kata Sezha.
Ayah dan ibu bergotongan untuk mengangkat Ega dan membawanya masuk kedalam mobil.
Begitu ibu, ayah dan Ega memasuki mobil, Sezha memberikan tarif yang sesuai aplikasi.
"Iya mbak."
"Ayah sama ibu hati-hati, kalo udah sampe rumah sakit telpon Sezha ya Bu. Biar Sezha gak cemas. Besok pagi Sezha nyusul kesana sama adek."
"Iya, yaudah ya kami berangkat dulu."
"Iya Bu."
"Kita berangkat bang." Kata ibu kepada sopir grab.
__ADS_1
Sopir grab menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan perkarangan rumah Sezha.
Belum jauh mobil grab beranjak, salah satu tetangga keluar dan menghampiri Sezha.
"Zha, tunggu Zha !" Serunya.
Sezha menoleh dilihatnya tentangga yang berada di seberang jalan.
"Mau kepo pastinya." Gumam Sezha malas.
"Zha, ayah sama ibu kamu pergi kemana malam-malam gini ?" Tanyanya kepo.
"Jalan-jalan, bosen dirumah aja." Jawab Sezha ketus.
"Masa ? jalan-jalan kok tengah malem."
"Mau pagi, siang, sore, malam sampe tengah malem, apa urusannya. Suka-suka kami donk. Permisi saya mau masuk, mau tidur, ngantuk." Tidak ada ramahnya Sezha jika ditanya, selalu menjawab dengan nada tidak mengenakan.
"Dih kamu kok ketus banget, saya kan bertanya sama kamu. Kali aja kamu perlu bantu."
"Gak butuh bantuan, permisi." Sezha meninggalkan si tetangga begitu saja.
Si tetangga tak menyangka jika Sezha bersikap seperti itu.
"Ya Allah ditanya sama orang tua kok jawabnya angkuh bener. Lagian ditanya baik-baik. Hm tau gitu aku gak tanya tadi. Yaudah ach pulang mending tidur."
Sezha melangkah masuk kerumahnya, si tetangga pun juga kembali kerumahnya.
__ADS_1
Seperti biasa jika Sezha ditanya pasti setelah itu menggerutu kesal sendiri.
"Ribet amat tinggal di kampung pra sejarah, orang-orangnya pada sibuk ngurusin urusan orang. Kalo aku banyak uang udah beli rumah baru aku di perumahan elit, males banget tinggal disini, gak asik."