MAMA

MAMA
Bab 157


__ADS_3

Arin terbangun dari tidur siangnya, dilihatnya jam dinding telah menunjukkan pukul 16:30 wib.


"Waduh udah jam setengah lima aja. Astaga kalo udah tidur suka gak sadar jam padahal aku mau kerumah Nova. Harus buruan mandi ni." Sontak Arin beranjak dari ranjangnya dan segera menuju kamar mandi.


Selesai mandi dan juga berpakain tak lupa Arin mengerjakan sholat ashar terlebih dahulu. Setelah sholat, ia bergegas keluar kamar kemudian ia keluar rumah guna mencari keberadaan ibunya sebab ia ingin meminta izin.


"Ibu mana sih ? heran beneran, ghibah sampe sore gini belum kelar juga et dah ibu, ibu." Arin mencari ibu tapi belum ketemu.


Pandangan Arin tertuju kerumah tetangganya yang ada sedikit jauh dari rumah, dilihatnya disitu ada beberapa ibu-ibu sedang duduk.


"Coba kesana aja deh, tuh banyak ibu-ibu lagi duduk. Pasti ibu ada disana. Ehmm ngerumpi niat banget, harus sampe jauh sono dari rumah." Arin memutar malas kedua bola matanya sembari berjalan.


Benar dugaan Arin kalo ibunya memang ada disini bareng dengan ibu-ibu tetangga berjumlah 4 orang.


"Bu.." Panggil Arin.


"Eh kamu, ada apa ?" Ibu Arin menoleh kearah Arin sembari bertanya santainya.


"Arin mau pergi kerumah temen."

__ADS_1


"Oh yaudah pergi, mana kunci rumahnya ?"


"Ini Bu." Arin menyerahkan kunci rumah.


"Jangan malam-malam pulangnya." Pesan ibu.


"Gak kok Bu, yaudah ya Arin mau berangkat dulu. Assalamualaikum." Arin mencium punggung tangan ibunya.


"Waalaikum salam."


Usai berpamitan Arin pun berjalan ketepi jalan untuk menunggu angkutan umum. Arin malas kalo harus menaiki motor, karena motor itu bukan miliknya pribadi, tapi milik orang tuanya. Ia tidak mau lagi asyik ngobrol dengan temannya, tiba-tiba ibunya menelpon disuruh pulang cepat.


Didalam angkutan ada 3 orang penumpang ibu-ibu. Ia duduk bersebelahan dengan salah seorang ibu-ibu dan mengajaknya berbicara.


"Mau kemana dek ?" Tanyanya dengan logat terdengar ketus.


"Mau kerumah temen Bu." Jawab Arin kikuk.


"Oh..masih sekolah ?" Tanya nya lagi masih dengan nada yang sama.

__ADS_1


"Iya masih Bu."


"Ku lihat dari muka mu, pasti kau ini anak SMEA ya ?" Tanyanya menebak kepo.


"Iya Bu." Arin tersenyum kaku kemudian memalingkan wajahnya.


Ni ibu-ibu sok kenal banget, mana logatnya kasar gitu.


"Ibu juga punya anak, ya seumuran sama kau lah masih SMEA. Tapi beuh bandal kali, kerjanya mer*kok, pergi kalo gak pulang malam gak senang dia tuh, perempuan tapi kelakuan dah kayak laki-laki. Kadang capek aku jadi mamaknya, kalo adalah laki-laki yang mau sama dia, udah ku nikahkan aja dia biar gak pening kepalaku merepet aja aku dibuatnya. Ck nah sekarang ibu mau tanya sama kau, memangnya anak zaman sekarang ini harus kayak gitu ? ku rasa aku dulu sekolah gak kayak gitu bandalnya, ampun aku." Ibu berlogat kota m ini penuh semangat menceritakan kenakalan anak perempuannya kepada Arin.


Arin yang tidak terlalu mendengarkan perkataan ibu ini, pandangannya lurus kedepan. Si ibu karena tidak ditanggapi Arin, menepuk pundak Arin.


"Dek ! ibu lagi ngomong sama kau, kau nya malah diem aja, ach kayak mananya kau."


"Eh maaf Bu, saya takut kelewatan dengan rumah temen saya. Bisa diulang Bu, ibu tadi bicara apa, soalnya tadi saya tidak terlalu mendengarkan ?" Arin tersentak kaget kemudian meminta si ibu mengulang pembicaraannya tadi.


"Yaudahlah udah capek aku ngomong. Lagian udah sampe aku. Aku turun. Pinggir pir !" Si ibu tidak mengulang ceritanya, karena ia telah sampai di tujuan, lalu ia pun turun dari angkutan.


Si ibu sudah turun Arin menghela nafas, ia tak habis pikir dengan sikap si ibu yang tiba-tiba sok dekat dengan dirinya padahal baru pertama kali bertemu. Bahkan si ibu merasa kesal dengan Arin karena tidak ia tanggapin.

__ADS_1


"Aishhh, ada-ada aja."Gumam Arin menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas.


__ADS_2