
Sesampainya Sezha di alamat yang di beri, suasananya terlihat sepi. Jarak rumah penduduk juga jarang.
"Aku udah sampe di jalan ini, hm nomor rumahnya yang mana ? disini hanya ada beberapa rumah, paling mentok nomor rumahnya 100 sementara nomor rumah si Leha itu 123. Apa aku telpon aja ya kalo aku udah sampe sini ?" Sezha bingung mencari nomor rumah Leha.
Sezha mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Leha, tapi saat akan menghubungi jejaring/signal tidak tersedia tertera hanya panggilan darurat.
"Lah, ni kampung apa masa signal sama sekali gak ada. Perasaan gak jauh banget dari jalan besar. Bang ojol tadi juga dapet alamatnya via aplikasi, kenapa sekarang gak ada dikitpun signal. Gimana aku mau nelpon ? Yaudah deh tanya penduduk sini aja kali ya, tapi ampun sepi kayak gak ada kehidupan. Jangan-jangan tuh Leha bohong lagi, kalo bohong woah awas aja."
Sezha berjalan menuju ke suatu rumah yang nomor rumahnya 100. Pintu rumah keadaan tertutup, Sezha mengetuk pintu.
Tok..tokk...Permisi ! apa ada orang ?!"
Handle pintu ada yang membuka, keluarlah seorang bapak-bapak paruh baya.
"Ada apa ?" Tanya si bapak.
"Maaf pak ganggu, saya mau tanya nomor rumah 123 atas nama Leha dimana ya pak rumahnya ? soalnya saya udah janji."
"Rumahnya ada diujung jalan ini." Si bapak menunjuk kearah ujung jalan.
"Kedalem lagi pak, ujung sana ? waduh jauh juga ya."
"Iya jauh."
"Yaudah deh pak, terimakasih. Saya mau kesana dulu. Permisi."
Si bapak hanya tersenyum kemudian langsung menutup pintu.
Sepanjang ia menuju ke ujung jalan tidak ia dapati rumah yang terbuka pintunya, semuanya tertutup rapat.
__ADS_1
"Nih beneran kayak kampung vampir, udah pagi gini masih tutup pintu semua, mana gak ada orang, kebangetan emang. Keliatannya pada males ni penduduk disini. Hadeh mana rumahnya diujung lagi. Tau gitu tadi minta anterin bang ojol sampe sini."
Saat akan mau sampai, ia dikejutkan dengan seorang ibu-ibu yang tiba-tiba muncul.
"Astaga, duh kaget aku." Gumamnya.
Si ibu menyapa.
"Pagi."
"Pagi Bu, ya ampun ibu ngagetin saya lho Bu. Untung aja jantung saya masih sehat kalo gak bisa kolaps saya."
"Adek mau kemana ?"
"Saya mau kerumah Leha, Bu. Saya tanya bapak yang rumah di depan katanya diujung jalan ini. Kayaknya sih itu rumahnya, bener ya Bu ? soalnya abis tuh diujung cuma satu rumah itu doank."
"Iya, itu rumah Leha. Kalo begitu ibu pamit dulu, mari."
Kampung aneh, orangnya aneh, duh begitu dapet tuh darah, bayar langsung pulang aku. Males banget lama-lama disini. Kayak tinggal dikampung pra sejarah.
Sezha melanjutkan langkahnya dan benar begitu sudah sampai ujung terlihat rumah kecil sepetak dengan samping rumahnya ditumbuhi ilalang cukup tinggi.
"Ya ampun ni rumah penuh semak, ach bodoh ach. Panggil aja."
"Mbak Leha ! permisi !" Seru Sezha.
Pintu terbuka dan keluarlah seorang perempuan kurus seperti tidak terawat dengan baju lusuh berwarna cokelat.
Sezha memperhatikan dari atas hingga ke bawah.
__ADS_1
Apa ini orangnya kok rada... ach biarin, intinya aku dapet darahnya.
"Mbak Leha ya ?" Tanya Sezha.
"Iya saya Leha, pasti mbak Sezha kan ? ini darahnya mbak." Leha memberikan darah yang dibungkus dengan plastik putih ukuran 1/2kg.
"Oh ok mbak, tapi ini beneran darah mbak kan ?" Sezha meragukan.
"Bener mbak itu darah saya sendiri, ini buktinya." Leha menunjukkan hasil urat nadinya yang ia lukai.
"Saya percaya mbak, harganya 650ribu kan mbak ?"
"Iya mbak."
"Ini mbak uangnya, kalo gitu saya permisi pulang. Sekali lagi terimakasih banyak mbak." Sezha ingin cepat-cepat pulang.
"Sama-sama mbak, hati-hati dijalan."
Sezha hanya membalas senyuman terpaksa lalu bergegas pergi meninggalkan rumah Leha ini.
Sezha mempercepat langkahnya agar cepat sampai ditepi jalan yang ramai.
Begitu sampai ditepi jalan Sezha lagi-lagi dibuat heran.
"Kalo dipikir-pikir, si Leha itu bisa telponan, tapi anehnya tiba sampe tuh jalan sama sekali gak ada signal. Udah gitu si Leha itu kayak zombie gitu, ih manusia bukan tuh, tapi darahnya merah kok. Kalo zombie pasti merah campur kebiruan gitu darahnya kayak yang di film-film. Au ah bodo', yang penting dapet. Tinggal persembahkan ke Ratu Ajeng aja deh."
Sezha mengeluarkan ponselnya untuk memesan driver ojol.
"Disini baru ada signal, untung aja. Yaudah ach pesen ojol."
__ADS_1
Tak lama driver ojol tiba, Sezha naik motor dan langsung menuju pulang kerumahnya.