
"Ara, apa kabarmu nak?? "..... Pria jangkung itu membelai rambutku, mengembangkan senyum terindah saat ku tatap wajahnya, wajah yang amat kurindukan.
Kami berbaur dalam diam, menikmati masa yang telah lama terlewat.
Sekali lagi ku tatap manik hitamnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah kenyataan yang lama pias.
'Apa aku bermimpi?? '
Ingin ku tampar pipi merah jambuku, agar aku tersadar dari peristiwa langka ini. Buliran bening menetes pelan, ada banyak pertanyaan di kepala yang ingin ku tumpahkan pada papa, aku marah... Tapi rasa rindu ini mengalahkan rasa kesalku padanya.
Belum sempat ku katakan sepatah katapun, ia membalikkan badan ke arah depanku.
"Maaf ara, papa cuma bisa sebentar menemuimu saat ini, jangan nangis, anak papa lebih kuat dari apapun. Papa sedang berusaha di luar sana untuk mencoba membahagiakan ara dan mama"
Ia menepuk bahuku, lalu berjalan cepat meninggalkanku.
"Papaaaaaaaa....... Jangan pergi........ Ara mohon.... " Ku coba berlari lebih kencang dari langkah kakinya, tapi bayangan itu semakin menjauh, memudar.... Dan hilang.
"Tidaaaaaaaaak"...
Bahuku terguncang, tampak sepasang tangan berusaha membangunkanku. Peluh telah membanjiri diri ini. Nafasku tersengal. Kegetiran melengkapai rasa sakitku. Dan kenyataannya bahwa sekarang itu hanyalah mimpi.
Aku memeluk wanita di sampingku, melepaskan luka dan lara yang begitu menyayat hati. Menumpahkan segala rindu yang menusuk relung di dada. Aku menangis sejadi-jadinya. Lagi-lagi mimpi itu begitu menakutkan, takut jika suatu hari papa tak akan pernah kembali lagi.
Mama mendekapku dalam, aku tau dia terluka, tapi air mata tak lagi mau singgah di pelupuk matanya. Ia begitu batu saat ini, tak akan peka lagi tentang ingatannya pada papa, ia hanya berusaha membuat semua baik-baik saja dalam ketegaran, agar aku juga bisa lebih kuat menghadapi kenyataan tanpa lelaki tersayangku - Papa.
__ADS_1
.....
Mataku menerawang jauh mengingat kejadian demi kejadian masa lalu.
Hari-hari yang terlewati dengan mama. Wanita rumahan berubah menjadi wanita berhati baja. Kini ia yang menggantikan peran papa mencari nafkah, keadaan yang memaksa, saat itu usiaku menginjak 9 tahun.
Aku ingat saat dimana semua kerabat bahkan tak ada yang peduli, aku memandang anak-anak paman yang sedang menikmati roti keju berbalur es krim. Aku menelan ludah seakan diri ini adalah pengemis jalanan. Namun mama tak pernah mengajariku untuk meminta-minta.
Ku seret langkah menuju arah perumahan. Ku kembangkan senyum saat Rio memanggil namaku dari kejauhan. Ia menenteng kantong hitam di tangan kanannya, lalu dia menghampiriku.
"Ara.... semalam mamaku mengajak aku ke pasar malam, asyiiik banget, terus aku ikut permainan dan.... Taraaaa.... Liat apa yang aku dapatkan, aku menang dan aku dapat boneka.." Ia bercerita sangat antusias dan akupun turut jingkrak kegirangan mendengar penuturannya.
"Berhubung aku anak laki-laki, aku ga suka boneka, jadi ini buat kamu aja deh. Aku sudah izin ke mama dan mama menyetujuinya".
" Ka.. kamu yakin Rio ini buat aku gratis, soalnya kalau di suruh ganti dengan uang, aku kan ga punya.." Aku meremas ujung bajuku yg lusuh. Rio tertawa, "Enggak ra, ini buat kamu gratis... " sekali lagi Rio menyodorkan kantong itu ke arahku, tanganku ragu-ragu untuk mengambilnya.
"Makasih ya Rio, a... aku gatau gimana cara bales kebaikanmu.. ", Mataku memburam menatapnya, ia tersenyum lalu menyentuh pundakku.
" Halah.... kita kan temen, dan temen harus saling bantu, gitu kata mama papaku".
Aku terhenyak, betapa bahagianya Rio mempunyai orang tua yang begitu mencintainya..
"Yaudah, aku pergi dulu ya ra, tadi mama nitip suruh beliin minyak goreng ke toko di depan, bye bye ara... "
Rio bersiul-sium sambil berlari santai meninggalkanku, aku tersentak baru menyadari kalau aku belum mengucapkan terima kasih padanya.
__ADS_1
"Riooooo..... Makasih ya bonekanya", setengah berteriak aku memanggilnya, ia hanya balas anggukan dan lambaian dari kejauhan.
Aku bersenandung merdu sambil menenteng boneka baruku, ku langkahkan kaki menuju rumah, sebelum masuk gang aku melihat mama berjalan membawa beberapa kantong plastik isi sayuran, ia sedikit tercengang melihatku membawa boneka yang asing di matanya.
"Sudah mama bilang berkali-kali kamu nggak boleh mencuri barang milik orang lain! " Suara keras mama tiba-tiba mengagetkan kesadaranku. Tangan kecilku di seret ke deretan arah perumahan.
"Ayo kembalikan boneka itu milik siapa? " Suara bariton Mama kembali menggelegar, aku hanya menggelengkan kepala pelan sambil berurai air mata. Mama mengangkat tangannya ke udara, bersiap untuk menampar pipi merah jambu ku.
"Ampun Ma, ampun, Ara nggak mencuri", aku tertunduk lemah tak berdaya, " anak pak satpam yang di depan gerbang yang memberi ara boneka ini ma", isakku serak. Mama sedikit menurunkan nada emosinya, mencoba mengatur nafas pelan-pelan, aku takut jika emosi mama meledak, bukan hanya umpatan dari bibirnya yang keluar, terkadang sedikit cubitan akan aku dapatkan jika kelakuanku di luar batas jangkauan mama
....
Waktu berjalan semakin sulit, membuat mama harus mengambil keputusan besar, aku di titipkan pada oma sedang mama sendiri akan mencari pekerjaan agar aku tetap bisa bersekolah yang layak. Mama menjadi pramu saji di sebuah tempat makan ternama di kota tetangga. Tentu saja menjadi hal yang berat untukku, bukan hanya kehilangan papa, kini aku juga harus jauh dari jangkauan mama.
Dan benar saja, mimpi buruk itu kini benar-benar terjadi, perkataan papa yang ingin membahagiakan kami hanyalah bualan semata, ia berbohong pada mama dan aku, terlebih janjinya pada Tuhan.
Bertahun ku jalani hidup tanpa kasih dan sayang lengkap dari orang tua, kini perasaan peka telah lenyap dari diriku.
Menginjak usia sekolah menengah pertama, aku mulai terbiasa bekerja setelah pulang sekolah, aku sudah bisa mandiri, karna usia oma yang cukup renta tak memungkinkannya untuk mengurusku sepenuh waktu.
Wanita hangat ini yang selalu menenangkan dan menguatkanku, tak ada sedikitpun amarah muncul dari suara seraknya. Kejutan masakan penggugah selera tiap hari terhidang di meja makan, meski itu hanya ikan asin berbalur daun talas... aaaah makanan sederhana ini begitu membahagiakan.
Mama tak punya cukup waktu untuk menemaniku, libur hanya sebulan sekali membuatku tak ingin berharap lebih atas kepeduliannya. Biar saja, buktinya sejauh ini aku bisa mandiri tanpa mama, asal ada oma yang menemaniku.
Bersambung~
__ADS_1