
Mak Iyem dan para pengikutnya sedang dalam keadaan bahagia sementara Sezha, Nova dan bulek Sukini masih tergeletak di semak-semak ini.
Mereka bertiga belum juga sadarkan diri, padahal sudah cukup lama mereka pingsan.
Namun ditengah mereka terdengar suara samar-samar tangisan seorang bayi.
Sezha mendengar suara tangisan itu, perlahan Sezha membuka matanya. Kelopak matanya terasa sangat berat saat ia ingin membukanya, sekujur tubuhnya juga terasa sakit, lemah, dan yang begitu sangat nyeri adalah bagian perut Sezha.
"Mataku berat sekali, dan tubuhku lemah." Sezha dengan suara parau.
"Aku seperti mendengar suara tangisan bayi,
hadeh perutku kenapa sakit begini ? nyeri banget." Sezha bergerak sedikit ingin bangkit tapi ia meringis karena tubuhnya begitu lemah.
Sezha mengucek kedua matanya, agar ia dapat membuka mata yang serasa menempel.
Kedua mata Sezha sudah terbuka lebar, hanya saja pandangannya masih buram.
"Gelap, aku dimana ?" Sezha bingung sembari menahan sakit.
Sezha yang masih lemah, tak lama Nova pun ikut juga mulai sadarkan diri.
"Aduuhh ternyata sakit juga hempasan ekor tuh siluman jadi-jadian." Nova bangkit sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Sezha mendengar suara Nova.
"Nova, itu kamu ?"
__ADS_1
"Iya, ni aku." Nova tau jika itu adalah Sezha.
"Nov, aku disini Nov, bantu aku." Pinta Sezha masih meringis menahan sakit.
"Tunggu Zha disini gelap sekali, aku akan menghidupkan senter terlebih dahulu." Timpal Nova.
Nova merogoh saku celananya, karena memang dia memasukkan ponselnya di dalam saku celana.
Setelah ia mengambil ponsel, ia menghidupkan layar ponsel kemudian menghidupkan fitur senter.
Senter dinyalakan barulah ia dapat melihat Sezha yang berada tak jauh darinya.
"Zha." Panggil Nova.
"Iya Nov, aku disini. Tolong aku Nov, tubuhku lemas sekali."
"Tahah Zha, aku mau cari bulek Sukini. Aku tadi pergi kesini barena sama bulek.''
"Bulek, bangun bulek." Nova menggoyang pundak bulek.
Tak lama bulek Sukini tersadar.
"Yo, bulek wes sadar iki." Bulek suara parau.
Bulek kesulitan untuk mendudukkan tubuhnya.
"Sini saya bantu." Nova membantu mendudukan bulek.
__ADS_1
"Suwon (bulek mengucapkan terima kasih) dadi koncomu piye toh. Bulek minta maaf yo, bulek ndak iso bantu kamu, malah kita kepental koyo ngene." Bulek merasa tak enak hati karena ia gagal menolong Nova.
"Hm bulek, jangan pake bahasa gitu soalnya saya tidak mengerti banyak tentang bahasa Jawa."
"Ck oawalah bulek sampe lali lho yo, kuwe kan ora iso ngomong jowo."
"Iya bulek." Nova nyengir kikuk.
"Bulek nanya, gimana sama temen kamu itu ? bulek jadi gak enak sama kamu, bulek udah janji mau nolong malah kayak gini."
"Owh bulek tenang aja, temen saya ada kok disini."
"Oh ya, jadi temen kamu udah bebas. Alhamdulillah terima kasih Gusti." Bulek mengelus dadanya lega.
"Iya bulek, Alhamdulillah."
"Sekarang dimana temen kamu itu ? yok bawa kerumah bulek."
"Tu bulek." Nova mengarahkan cahaya senter kearah Sezha duduk tadi.
"Mana bulek gak liat ?" Bulek heran.
"Lho tadi ada kok bulek, beneran saya gak bohong. Astaga tuh anak kemana lagi."
Nova membiaskan cahaya senter disekitar mereka namun Sezha belum terlihat.
Bulek seperti melihat ada yang terbaring.
__ADS_1
"Itu temen kamu, dia terbaring. Coba kamu terangi."
"Astaghfirullah Sezha, aku pikir kamu ilang lagi gak taunya masih di situ. Malah tiduran lagi, udah tau disini semak-semak bukan ranjang." Nova menggelengkan kepalanya.