
Arin dan Lala menghampiri Nova usai Sezha pergi bersama Deon.
"Nov..kenapa bengong ? ditinggal ya sama Sezha." Tanya Arin.
"Apaan sih, udah deh gak usah pada julid." Nova malas menanggapi.
"Siapa yang julid, aku kan cuma nanya. Ya kan La." Beralih ke Lala.
"Kayaknya aku pernah lihat mobil itu tapi dimana ya hm." Gumam Lala sembari berfikir tapi masih bisa didengar oleh Nova dan Arin.
Nova mendengar perkataan pelan Lala.
"Apa La ? tadi kamu barusan ngomong apa ?"
"Gak, aku kayak pernah tau mobil itu tapi aku lupa dimana." Tandas Lala.
"Yang punya mobil gitu banyak kali La, udah ah yuk pulang." Ajak Arin buru-buru.
"Iya juga sih, yaudah deh yuk pulang kebetulan aku juga laper ni." Timpal Lala.
"Bye Nov, kami duluan ya." Ucap Arin.
"Iya bye, aku juga mau pulang kok."
__ADS_1
Nova menunggu angkutan umum ditepi jalan sedangkan Arin dan Lala memilih menaiki becak motor.
Arin dan Lala hari ini berniat ingin mencari tau tentang hubungan makhluk halus yang merasuki Lala dengan Sezha sewaktu dirumah Nova.
"La, kamu singgah kerumah aku dulu ok nah kita nanti telpon bulek aku. Buat tanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pas Sezha dan Nova pergi kedesa deket rumah bulek aku."
"Ok, tapi nanti kamu hidangin makan siang ya soalnya aku laper."
"Gampang, ntar aku masakin mie instan buat kamu plus nasi satu mangkuk. Cukupkan buat lambung kamu."
"Cukup kok Rin, tenang aja."
Sekarang mereka sudah akan sampai ke rumah Arin. Mereka melewati perempatan jalan lalu mereka belok ke kiri. Begitu belok kiri, Lala melihat Sezha yang baru saja keluar dari sebuah minimarket dengan membawa bungkusan plastik cukup besar.
"Mana sih La." Pandangan Arin mengikuti arah yang ditunjuk oleh Lala.
"Ih itu lho Rin."
"Bang..bang stop dulu bang !" Lala menyuruh bang becak untuk segera menghentikan becaknya.
Setelah Abang becak menepikan becaknya ditepi jalan yang tak jauh dari Lala saat tidak sengaja melihat Sezha baru keluar dari sebuah minimarket. Kemudian Arin dan Lala bergegas turun.
"Tuh Sezha, coba kamu lihat." Tunjuk Lala sekali lagi.
__ADS_1
"Eh iya, itu kan Sezha. Kayaknya dia lagi beli sesuatu, hm pasti isinya jajan tuh."
"Sezha borong itu, aku yakin ni Sezha pasti ada hubungan asmara sama tuh cowok om-om. Gak salah lagi dugaan ku." Terka Lala.
"Gimana kalo kita ikutin kemana mereka pergi, mau gak ?" Muncul ide Arin untuk membuntuti Sezha.
"Naik becak maksudnya, yaelah Rin yang ada keburu ketauan plus ketinggalan kita. Kalo niat mau buntuti gitu, kita harus naik motor Arin." Lala tidak mau.
"Eh Sezha pergi noh, ngumpet-ngumpet ntar ketauan."
Lala melihat Sezha sudah masuk ke mobil dan mobilnya melintas didekat mereka sedang memperhatikan.
Lala dan Arin secepatnya berjongkok di sisi becak motor.
Dirasa kalo Sezha sudah menjauh, mereka pun bergegas naik ke becak motor lagi.
"Aku gak nyangka lho kalo Sezha demen sama om-om, emang sih ganteng tapi kan udah om-om dan aku yakin pasti tuh om-om udah punya istri sama anak deh." Celetuk Arin.
"Hm gak tau juga sih Rin, apa tuh cowok om-om udah punya istri atau belum. Tapi kalo dilihat-lihat dari cara berpakaian, fostur tubuh, terus sama fostur wajah, kayaknya iya sih. Apakah Sezha ini ach gak tau dah aku, ntar nebak-nebak jatuhnya fitness lagi. Mending kita nelpon bulek kamu aja deh Rin ketimbang bahas masalah hubungan asmara Sezha. Biarin aja ini jadi pribadi dia, gak mau ikut campur aku." Tutur Lala.
"Ck yaudah deh kalo gitu kita kerumah aku." Ucap Arin berdecak.
"Pak lanjut jalan pak." Arin meminta bang becak melanjutkan perjalanan.
__ADS_1