MAMA

MAMA
Bab 194


__ADS_3

Nina terus saja tertawa dan seketika menjadi sedih.


Nenek sampai bingung dengan kondisi Nina padahal tadi baik-baik saja.


Nenek teringat Deon, nenek ingin menghubungi Deon untuk memberitahu kondisi Nina, namun nenek ragu sebab mereka baru saja bertengkar hebat.


Ditengah kebimbangan ponsel Nina berdering dan nenek melihat nama Deon tertera di layar.


Nenek tanpa berpikir langsung menekan tanda hijau.


Deon : " Hallo ma." Sapa Deon lebih dulu.


Nenek : " Ini ibu, Deon."


Deon: " Nina nya mana Bu ?"


Nenek : " Ibu gak bisa jelasin di telpon, kamu cepat kesini ya."


Deon : " Emang Nina kenapa Bu ?" Tanya Deon penasaran.


Nenek : " Sudahlah cepat kamu ke sini, ibu tunggu. Wassalamu'alaikum."


Deon : " Iya Bu, Deon berangkat kesana sekarang."

__ADS_1


Setelah sambungan telepon di matikan, Deon bergegas pergi menuju kerumah mertuanya.


Ia melajukan mesin mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Tak butuh waktu lama, Deon sudah tiba di kediaman orang tua Nina.


Deon menerobos masuk begitu saja dan berlari menuju kamar Nina sewaktu belum menikah.


Sontak Deon terkejut saat melihat dengan mata kepalanya sendiri jika istrinya seperti orang depresi.


"Mama.." Deon berlari menghampiri Nina.


"Ibu gak tau kenapa Nina menjadi seperti ini, bapak lagi pergi mencari dokter yang bersedia datang kesini."


"Maafin papa, ma. Ini semua gara-gara papa." Deon menyesal.


"Sudahlah, hm ibu tidak bisa berpihak ke salah satu dari kalian. Saran ibu cobalah kamu perbaiki hubungan kalian berdua. Tinggalkanlah perempuan yang telah merusak rumah tangga kalian, ibu yakin pasti Nina akan mau memaafkan kamu, nak." Ibu Nina menasehati.


Sebelum Deon menjawab, Nina menangis sedih saat menyadari kehadiran Deon.


"Huhuhuhu...pergi kamu, pergi ! kamu suami yang jahat, jahat ! aku gak mau deket sama kamu, pergi kamu, pergi...!" Nina mengusir Deon.


"Ma, ini papa. Sadar ma, sadar. Maafin kesalahan papa, papa tau papa salah." Hati Deon tersayat menyaksikan istrinya begini.


"Gak, pergi kamu, Bu huhuhuhu suruh dia pergi Bu. Dia, dia itu suami yang jahat, dia udah nyakitin aku, Bu." Nina tetap menyuruh Deon untuk pergi.

__ADS_1


Ibu Nina berusaha menenangkan Nina yang menangis sedih.


"Ya sudah, ibu keluar dulu ya, ibu mau nyusruh Deon untuk pergi. Kamu tunggu disini ya."


"Ibu sini aja, ibu jangan deket-deket sama dia. Dia jahat ibu, jahat. Nanti kalo ibu di sakiti kayak Nina gimana, jangan Bu." Nina melarang ibunya.


"Tenang aja, ibu baik-baik aja kok. Kamu disini dulu ya, ibu gak lama kok."


Nina mengangguk sambil menggigiti kuku jarinya.


Ibu mengajak Deon untuk bicara diluar kamar Nina.


Ibu menutup pintu kamar Nina dan mereka duduk di sofa yang ada di depan kamar Nina.


"Katakan pada ibu, apakah benar yang dikatakan oleh Nina kalo kamu telah memiliki anak dari perempuan lain ?" Ibu Nina to the point.


"Iya Bu." Deon mengangguk.


"Hmmm, pantas saja Nina menjadi depresi begitu. Ibu tidak tau harus berbicara apa. Kamu telah mengkhianati cinta tulusnya, kamu telah membohonginya. Ibu tidak tau sampe kapan Nina akan bersikap seperti itu. Jujur ibu dan bapak sangat marah, ketika mendengar kamu menjalin hubungan dengan perempuan lain, tapi mungkin ini jalan dari Allah. Allah menunjukkan siapa kamu yang sebenarnya."


"Saya tau saya salah Bu, saya akan berusaha memperbaikinya." Deon duduk bersimpuh di hadapan ibu mertuanya.


"Apalagi yang mau diperbaiki, mungkin kalo kamu belum memiliki anak dari perempuan itu tidak akan seperti ini jadinya. Tapi sudahlah semua sudah terjadi, ibu tidak tau harus berbuat apa agar Nina bisa sembuh seperti sedia kala." Tergambar jelas raut wajah ibu mertuanya begitu sedih dan berusaha berbesar hati menghadapi permasalahan ini.

__ADS_1


__ADS_2