
Sosok berjubah itu tak lain adalah Desi, ia masuk kedalam kekamarnya dan membuka jubahnya.
Desi mengganti pakaian yang sama seperti Hanifah kenakan, ya pakaian resepsionis.
Usai berganti pakaian, Desi pun keluar dan secepatnya mencari Sezha dan Nova.
Tak butuh waktu lama, Desi sudah menemukan keberadaan mereka berdua karena memang belum terlalu jauh.
Desi menghampiri mereka berdua dengan cara menghadang mereka dari arah depan. Desi dapat melesat berpindah ke satu tempat dengan cepat.
Sontak Sezha dan Nova terkejut, melihat seorang wanita tiba-tiba ada dihadapan mereka.
"Astaga, hu semangat semangat." Celetuk Nova kaget.
"Maafkan saya sudah mengagetkan mbak-mbak berdua ini." Ucap Desi santun.
"Ya ampun kak, untung aja jantung kita tu nempel di dalem lah kalo diluar udah kabur kali kak ni jantung." Nova mengelus dadanya.
"Iya nih, kakak ngagetin aja. Hm tapi kalo diliat pakaian kakak sama lho sama kak Hanifah, ngomong-ngomong kakak ni ?" Sezha berfikir sembari menerka.
"Perkenalkan saya Desi, saya juga resepsionis sekaligus operator di persinggahan pondok Mak Iyem' (Desi memperkenalkan diri). Pasti mbak ni, mbak Sezha kan ?" Tanya Desi menunjuk kearah Sezha.
__ADS_1
"Ohhh kak Desi yang pertama kali aku telpon itu kan?"
"Iya mbak." Timpal Desi.
"Woah ternyata kak Desi cantik ya hehehe wajah orang Jawa asli, tapi emang sih dari pemilik, resepsionis terus buk kantin itu wajahnya pada cantik-cantik awet muda gitu kalo bahasa Inggris nya glowing." Puji Sezha.
"Terima kasih, saya jadi malu." Desi tersipu.
"Emang iya kok kak, kalo saya boleh tau apa rahasianya kak ? kali aja saya coba ntar bisa cantik juga kayak kakak."
"Tidak ada rahasia apa-apa toh mbak, intinya bahagia dan selalu tersenyum setiap keadaan." Ungkan Desi.
"Ish gak mungkin, pasti ada rahasianya kan ?" Desak Sezha ingin tau.
"Idih sensi, namanya juga kepo." Sezha sedikit nyolot.
"Udah ah skip, debat sama kamu bisa 1 jam kemudian baru kelar." Tandas Nova.
"Hilih bilang aja kalah." Sezha melengos.
"Terserah, egp 'emang gue pikirin'." Balas Nova cuek.
__ADS_1
"Sudah, sudah mbak." Lerai Desi.
"Hehehe sampe lupa kalo disini itu ada kak Desi." Sezha salah tingkah.
Nova memutar bola matanya malas.
"Oh ya kalo boleh saya tau, mbak berdua ini akan pergi kemana ?" Desi mulai menanyakan.
"Biasa kak, kita berdua pengen jalan-jalan aja. Sekalian liat pemandangan desa." Ucap Sezha.
"Bukan saya melarang mbak berdua untuk berjalan-jalan tapi karena mbak berdua ini masih menjadi tamu di persinggahan pondok Mak Iyem' maka mbak berdua tidak diizinkan untuk keluar dari area tempat ini sebelum masa inap berakhir." Desi menjelaskan.
"Perasaan kalo nginap dimana-mana itu tidak ada larangan mau kemana tamu pergi kenapa disini di larang ?" Nova merasa aneh dan curiga.
"Maaf mbak, ini sudah kebijakan dari tempat kami. Karena selama menginap disini maka setiap tamu adalah tanggung jawab kami maka dari itu kami harus memastikan tamu dalam keadaan baik-baik saja."
"Emang kita mau kemana, kita cuma pengen keliling doank masa gak boleh sih." Nova keberatan.
"Begini mbak, kalo mbak berdua berada jauh dari tempat kami maka kami tidak dapat memantau keselamatan mbak-mbak itu sebabnya peraturan ini kami terapkan pada setiap tamu yang menginap disini."
"Yah batal deh, yaudah kalo gitu Nov kita balik aja yuk daripada kenapa-kenapa lagian kita gak tau juga kan orang-orang disini itu gimana." Sezha mempercayai ucapan Desi.
__ADS_1
"Dih, gak asyik baru juga mau keliling udah dilarang aja." Nova kesal.
Desi tersenyum ramah.