MAMA

MAMA
Bab 37


__ADS_3

Nova menutup pintu kamar dan menghampiri Sezha yang berbaring di ranjang.


"Zha ngobrol yuk, aku belum ngantuk ni."


"Mau ngobrol apaan lagi, mau bilang kalo aneh lagi." Sezha masih menatap layar ponselnya.


"Ish gak lho, tadi aku udah tanya kok sama kak Hanifah jadi gak akan nanya lagi ke kamu."


"Emang kamu tanya apa sama kak Hanifah ?"


"Aku cuma nanya ni tempat kok keliatan sepi gitu."


"Terus kak Hanifah nya jawab apa ?"


"Dia bilang kalo jam segini itu emang sepi, orang-orang yang nginap suka pada betah dikamarnya."


"Owh berarti sama donk kayak kita, kita juga dikamarkan jam segini."


"Iya dah iya." Nova manyun.


"Tapi aku sebenarnya ada yang mau aku tanyai sih sama kak Hanifah cuma gak jadi."


"Mau tanya apaan kamu Zha ?"

__ADS_1


"Ini lho semalam itukan yang angkat telpon dari aku itu namanya Desi nah dia kata dia itu operator sekaligus resepsionis disini nah pas kita udah sampai sini kenapa jadi kak Hanifah resepsionisnya ya ? hm apa disini punya 2 orang resepsionis satu kak Hanifah dan satunya lagi Desi." Sezha nampak berfikir.


"Mungkin aja sih, bisa jadi bagian yang terima telpon itu si Desi sedangkan bagian yang ngelayani tamu secara langsung itu kak Hanifah, bisa aja kan?" Nova menduga.


"Iya juga sih masuk akal, cuman yang namanya Desi kok gak keliatan ya ?"


"Yaelah Zha, kita juga baru sampe kan, terus kalo kamu tanya sama aku lah aku tanya sama siapa hem. Tadi ada kak Hanifah gak mau tanya tiba kak Hanifah udah pergi malah sibuk mau nanya."


"Ck namanya juga lupa manusiawi kali Nov. Oh ya Nov btw kamu gak laper ni? aku laper ni, keluar ya cari makanan." Ajak Sezha.


"Boleh deh yuk, aku juga pengen jalan-jalan mayan udara pendesaan." Nova bersedia.


"Cuss lah kalo gitu." Sezha beranjak dari ranjang.


"Udah sewa kamar aku yang bayarin, kamu bayar ongkos taksinya aja 250ribu."


"Beneran ni Zha?" Nova masih belum percaya.


"Ish bener lho Nov Nov, emang aku keliatan boong, gak kan."


"Yaudah deh makasih, nih uang ongkos taksi tadi." Nova menyerahkan 5 lembar uang pecahan 50ribu.


"Ok, kuy lah kita cari makanan." Sezha bersemangat.

__ADS_1


"Let's go." Sahut Nova.


Mereka berdua keluar dari kamar dan tak lupa mereka juga mengunci pintu kamar.


Mereka berjalan kearah depan, suasana masih sama, sepi belum ada terlihat tamu lain kecuali mereka berdua.


Saat mereka sudah sampai di depan, mereka berdua ingin bertanya kepada Hanifah tentang kantin yang ada disini tapi Hanifah tidak berada di mejanya. Meja resepsionis kosong tidak ada seorang pun di ruangan depan ini.


"Zha, dimana kantinnya coba? mau tanya kak Hanifah juga gak ada."


"Iya ya, yaudah deh mending kita jalan-jalan keluar aja mungkin kantinnya gak jauh dari sini. Daripada kita harus cari kak Hanifah ya kan, yang ada makin demo ni cacing diperutku."


"Hilih kamu gak bisa nahan bentar aja kayak gak makan seharian deh."


"Ck mau gimana lagi, namanya juga orang laper masa iya suruh tahan yang ada keburu pingsan aku karena kelaparan."


"Ish iya dah ya, aku tuh liat kamu udah kayak kakak aku yang lagi hamil tau gak, bawaannya tuh mau makan mulu terus sifatnya berubah-ubah, bikin pusing."


"Dih tuh kakak kamu masa disamain, beda donk." Sezha merasa tersindir.


"Kan aku bilang tadi kalian hampir sama bukan berarti sama tuh kan kamu ambekkan."


"Yeay mana ada, jadi kita mau ngobrol terus disini atau mau cari makanan ini."

__ADS_1


"Yaudah hayuk kalo gitu."


__ADS_2