MAMA

MAMA
Bab 203


__ADS_3

Sesampainya di sekolah temen-temen sekelasnya sama seperti sikap para ibu-ibu tetangga dirumahnya, mendadak mereka semua berubah perhatian pada Sezha.


Arin dan Lala yang paling menonjol. Mereka berdua langsung mendekati Sezha


"Pagi Sezha..woah hari ini kamu cantik banget sih." Sapa Arin caper.


"Dih baru tau ya kalo aku cantik."


"Ya Zha, kamu cuantik banget." Timpal Lala.


"Jelas donk, Sezha..kalo gak cantik bukan Sezha namanya." Sezha menyombongkan diri.


Dari sekelas temannya hanya Nova yang masih bersikap wajar dan waras.


Melihat sikap Arin, Lala dan temen yang lain, membuat Nova dibikin bingung dengan perubahan sikap mereka yang tiba-tiba aja jadi muji Sezha berlebihan.


"Aneh, ada apa sama mereka ? perasaan semalam gak seperti ini sikap mereka ke Sezha. Salah makan obat apa gimana ya ni pada rada aneh sumpah." Nova menggaruk kepalanya pusing.


Sezha nampak bangga dengan yang ia rasakan pagi ini, Sezha mengangkat dagunya angkuh.


Ratu Ajeng memang hebat, bisa bikin aku di puji banyak orang. Abdiku hanya untukmu wahai Ratu.


Nova memperhatikan gelagat Sezha yang terkesan angkuh.


"Aku yakin pasti Sezha ada apa-apanya, sebaiknya aku tanyakan pada ustadz Dedek saja nanti." Gumam Nova.

__ADS_1


Bel berbunyi tanda bel masuk, pak Abram pun masuk. Begitu masuk pandangan mata pak Abram langsung tertuju kepada Sezha kemudian Sezha dipanggil.


"Sezha, kamu sini."


"Saya pak ?" tanya Sezha bingung.


"Iya kamu."


Sezha maju kedepan, lalu pak Abram mengumumkan yang membuat Sezha kegirangan.


"Baiklah, mulai hari ini Sezha resmi saya angkat sebagai bendahara di kelas ini, menggantikan Kia."


Kia menjabat bendahara dikelas ini.


Disambut sorak sorai dari para murid yang ada dikelas.


"Gak masuk akal ini, hm Kia kan gak salah apa-apa kenapa digantikan dengan Sezha ? sebenarnya orang-orang dikelas ini pada kenapa sih ? pada lebay banget sama Sezha, astaghfirullah. Kayaknya aku masuk di hari yang salah mending tadi aku izin gak masuk, daripada liat ginian." Nova memasang wajah keterkejutan.


Sezha sedikitpun tidak ada melihat kearah Nova, ia sibuk dengan kesenangan yang begitu memuncak.


Sezha tak hentinya menebar senyum kepuasan.


Pak Abram kembali mengatakan.


"Kia, serahkan pembukuan dan uang kas yang ada pada kamu kepada Sezha ya, karena mulai hari ini dan seterusnya Sezha akan menjadi bendahara di kelas ini."

__ADS_1


"Baik pak." Kia maju kedepan dengan membawa sebuah buku dan dompet berukuran panjang.


Kia meletakkan buku dan dompet diatas meja pak Abram.


"Terimakasih Kia, kamu boleh duduk."


"Iya pak, selamat ya Sezha. Semoga kamu bisa menjadi bendahara yang ok dikelas kita." Tak lupa Kia memberi selamat pada Sezha, tidak raut kecewa tergambar diwajah Kia.


"Pasti donk, tenang aja. Aku pasti jadi bendahara yang diidolakan."


Usai memberi ucapan selamat, Kia kembali ke mejanya.


Pak Abram menyerahkan buku dan dompet yang berisikan uang kas kepada Sezha.


"Mulai hari ini, ini saya percayakan pada kamu. Saya harap kamu bisa mengemban jabatan sebagai bendahara dikelas ini."


"Baik pak, bapak tidak usah khawatir. Serahkan pada saya."


"Bagus, saya suka rasa percaya diri kamu. Kamu boleh duduk."


"Terimakasih pak."


Setelah menerima buku dan dompet berisikan uang kas, Sezha pun berjalan ke arah mejanya.


Saat akan duduk, Sezha mengangkat kedua alisnya kearah Nova.

__ADS_1


Nova membalas senyuman tipis.


__ADS_2