
Sezha yang sedang santai di kamarnya dikejutkan dengan kemunculan suara Ratu Ajeng, tapi sosok Ratu Ajeng tidak hadir.
"Jauhin temanmu yang bernama Nova itu, dia dapat membahayakan dirimu." Ratu Ajeng memperingatkan.
"Ratu ? kenapa dengan Nova ? Nova adalah teman baik saya. Jadi dia tidak akan mungkin membahayakan saya. Saya kenal betul siapa Nova." Sezha menyangkal.
Terdengar suara erangan.
"Ergghhh...aku yang lebih mengetahui siapa Nova itu. Asal kau tau, dia yang menceritakanmu pada seorang ustadz. Mereka berencana mengacaukan hidupmu. Agar kau tidak lagi mendapatkan apapun yang kau mau. Apakah itu yang kau sebut teman ? aku hanya sekedar memperingatkanmu, berhati-hatilah dengan temanmu itu." Ratu Ajeng mengadu domba antara Sezha dan Nova kemudian suara Ratu menghilang tak terdengar lagi.
Sezha tersenyum miring ketika Ratu memberitau jika orang yang dimaksud adalah Nova.
"Nova ? jadi Nova yang mau datang kesini terus mau bawa ustadz, gak nyangka aku Nov, ternyata kamu diam-diam merhatiin aku cukup dalam huh. Nasib beruntung memihakku, Ratu Ajeng lebih awal memberitahuku tentangmu Nova. Terimakasih banyak Ratu telah mengingatkan saya. Saya akan lebih waspada."
Disela Sezha mengatakan itu, Ega masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dahulu.
"Kak.."
__ADS_1
Sezha mendengus kesal.
"Sangat sulitkah mengetuk pintu sebelum masuk." Protes Sezha pada Ega.
"Hehehe maaf kak, reflek." Ega cengengesan.
"Dimaafin, lain kali gak ada maaf." Ucap Sezha ketus.
"Yaelah kak, jutek amat. Lagian Ega kesini, karena suruh ibu panggil kakak."
"Ada apa ?"
Sezha keluar dari kamar, dan menuju dapur. Dilihatnya ibu sedang duduk seorang diri di meja makan.
"Ibu panggil Sezha ?"
"Iya, duduk sini. Ibu mau bicara sama kamu." Wajah ibu berubah serius.
__ADS_1
Sezha merasa heran dengan ibunya yang tiba-tiba seperti ingin membicarakan hal serius.
"Mau bicara apa Bu ? kedengerannya penting."
"Iya, ini tentang ayah dari anak kamu. Kapan dia akan menikahi kamu ? anak kamu semakin hari akan semakin tumbuh besar. Dia membutuhkan surat keterangan kelahiran, Sezha."
"Sezha tau kok Bu, tapi mau gimana lagi. Mas Deon selain sibuk dengan kerjaan, dia juga sibuk ngurusin..~." Ucapan Sezha tidak dilanjuti, karena tidak mungkin ia katakan kalo Deon telah memiliki istri bisa kaget lagi ibu.
"Ngurusin apa Zha ? kok gak diterusi ngomongnya."
"E itu lho Bu, apa sih. Pokoknya ngurusin kerjaan lah Bu. Tapi ibu tenang aja pokoknya kalo mas Deon udah kelar semua, bakalan lamar Sezha kok." Sezha mengalihkan pembicaraan.
"Ya, mau sampai kapan, anak kamu gimana? kasian lho, dia lahir sampai hari ini belum sekalipun ketemu sama ayahnya." Ibunya benar-benar telah melupakan saat bertemu pertama kali dengan Deon.
"Ibu tenang aja ok. Biar ini Sezha yang urus. Udah ya Bu, Sezha mau balik ke kamar dulu, sepertinya adek udah bangun tuh." Sezha beranjak begitu saja.
Ibu Sezha menghela nafas, ia mencemaskan masa depan cucunya jika hingga besar belum mempunyai akta kelahiran.
__ADS_1
Saat di kamar, Sezha kembali mengupat kesal karena Deon sibuk dengan mengurusi istrinya yang g*la dibikin oleh Tukijan karena keinginannya Sezha.
"Mas Deon, masih aja mau ngurusin istrinya yang udah g*la. Mana ibu selalu tanyai kapan nikah, kapan nikah mulu, aishhh stres aku lama-lama. Apa sebaiknya istri mas Deon, aku buat ma*i aja ya, biar mas Deon bebas tanpa beban." Sezha semakin menjadi-jadi, tidak puas telah menjadikan istri Deon g*la, sekarang ia berencana ingin melenyapkan istri Deon.