MAMA

MAMA
Bab 280


__ADS_3

Nova yang daritadi memiliki firasat yang tidak enak, ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi kerumah ustadz Dedek.


"Bu, Nova izin mau kerumah pak ustadz ya ?"


"Malam begini ? emangnya tidak bisa besok saja hem."


"Perasaan Nova gak enak Bu, gak tau daritadi Nova kepikiran Sezha terus. Nova takut terjadi apa-apa pada Sezha."


"Kamu cemas dengan Sezha tapi malah kerumah pak ustadz ? seharusnya kamu kerumah Sezha bukan kerumah pak ustadz, ya kan ?"


"Tapi Bu, Sezha pergi tadi nah dari situ Nova jadi gak enak memikirkan Sezha terus. Boleh ya Bu, Nova kerumah pak ustadz ?"


"Ini sudah malam Nova, tidak baik anak perempuan keluar seorang diri." Ibunya enggan memberi izin.


"Bu, kerumah pak ustadz doank kok. Janji gak kemana-mana deh Bu." Nova terus membujuk Ibunya agar memberi izin.


"Nova, jangan mendesak ibu. Tadi ibu bilang apa, tidak bolehkan. Sudah, sekarang kamu masuk kekamar aja deh."


"Ck Bu, please Bu. Boleh ya, gak lama kok cuma bentarrrr aja."


"Tidak, udah ya ibu mau nonton ni. Sinetron kesukaan ibu akan segera tayang."


"Ish ibu sih, ck yaudah deh masuk kamar aja."


Nova masuk ke kamar dan ibunya menonton tv.


Di dalam kamar Nova memikirkan cara agar ia bisa pergi dan keluar rumah tanpa diketahui oleh ibunya.


"Aku harus kerumah ustadz Dedek sekarang, ya Allah bantulah hamba. Hamba yakin kalo Sezha sedang dalam bahaya."


Nova mengintip dengan membuka pintu sedikit, ia memastikan ibunya serius menonton tv.

__ADS_1


"Ibu udah serius belum ya nontonnya ? kalo ibu udah serius aku bisa keluar dengan aman." Nova berniat pergi diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya.


Fokus ibunya tertuju pada layar kaca tv. Nova perlahan membuka pintu hampir tidak terdengar suara.


Nova mengendap-endap, jalan merangkak agar ibunya tidak melihatnya.


Nova berhasil lolos dari pandangan ibunya, ia sampai juga di pintu depan.


"Yess terimakasih ya Allah, ibu gak tau. Sekarang buka pintu perlahan lalu aku bisa pergi kerumah ustadz Dedek." Nova kegirangan.


Nova memutar handle pintu perlahan setelah terbuka Nova masih berjalan merangkak, usai berhasil keluar Nova menutup kembali pintunya.


"Alhamdulillah, sekarang otw kerumah pak ustadz."


Nova menuju kerumah ustadz Dedek, sesampainya disana terlihat ustadz Dedek dan istrinya sedang berdiri di teras rumah.


"Itu pak ustadz sama Bu ustadz, kebetulan lagi diluar." Nova bergegas.


"Assalamualaikum." Ucap salam Nova.


"Nova ? ada perlu apa kamu malam begini kerumah saya ?" Tanya ustadz heran dengan kedatangan Nova yang tiba-tiba dan di jam malam.


"Saya ingin berbicara pada pak ustadz, penting pak. Apakah pak ustadz ada waktu ?"


"Kelihatannya penting, sini duduk. Masa tamu berdiri di depan." Istri ustadz Dedek mempersilahkan.


"Terimakasih Bu."


"Sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan ? soalnya saya harus pergi." Tanya ustadz Dedek.


"Begini pak ustadz, saya merasakan firasat buruk tentang teman saya, Sezha. Entah kenapa saya merasa jika Sezha dalam bahaya."

__ADS_1


"Hm kamu khawatir dengan teman kamu tapi kenapa kamu malah kerumah saya ?" Ustadz Dedek balik bertanya.


"Langkah saya yang menyuruh saya untuk pergi kerumah pak ustadz."


"Oh ya, hm saya juga gak tau kemana perginya teman kamu. Soalnya saya dan teman kamu tidak tetanggaan, jadi bagaimana saya tai keadaan teman kamu ?"


"Saya percaya pasti pak ustadz tau."


"Tidak, saya tidak tau. Sudah ya, saya mau pergi, kamu dirumah dengan umi disini."


"Saya boleh ikut pak ustadz, tidak ?" Celetuk Nova.


"Ikut ? tidak boleh, ini sudah malam." Ustadz Dedek tidak mengizinkan.


"Pak ustadz boleh ya, saya janji gak akan buat pak ustadz malu mengajak saya."


Istri ustadz Dedek menengahi.


"Kamu ingin sekali ikut dengan ustadz ?"


"Iya Bu."


"Memangnya kamu tau, akan pergi kemana ustadz?"


"Saya tidak tau, hanya saja hati saya mengatakan untuk kesini dan ikut dengan pak ustadz."


"Berarti naluri kamu yang berbicara."


"Sepertinya begitu, Bu."


Istri ustadz Dedek mencoba berbicara pada ustadz Dedek.

__ADS_1


"Nova ingin ikut tuh Bi ? sebaiknya Abi mengizinkan."


"Tapi mi hm." Ustadz Dedek menghela nafas berat sembari melihat kearah Nova.


__ADS_2