MAMA

MAMA
Bab 113


__ADS_3

"Kenapa bapak gak bilang kalo efek sampingnya jadi begini ? ini masih sekali lho pak saya oles ni minyak, gimana kalo tiap hari bisa bonyot ni leher aku." Sezha nyolot.


"Minyak itu tidak akan bereaksi begitu kalo kamu tidak melanggar pantangannya." Tukijan ketus.


"Astaga yang bapak bilang sudah saya turuti, nah saya tidak melanggar pantangan." Tandas Sezha.


"Kalo kamu tidak melanggar pantangan tidak mungkin bisa menjadi seperti ini." Sambung Tukijan.


Sezha teringat kalo sewaktu dirumah Nova, ia terkena percikan air daun Bidara yang di percikan oleh ibu Nova kepada Lala.


"Apa karena air itu ya ssshhhh jadi gatal gini ?" Gumam Sezha sambil menggaruk lehernya.


Gumaman Sezha masih bisa didengar oleh Tukijan.


"Benar dugaan saya bukan ?" Celetuk Tukijan.

__ADS_1


"Eh bapak denger yang saya bilang barusan, perasaan saya pelan deh."


"Tidak usah dibahas. Ingat ucapan saya baik-baik. Selama kamu memakai jasa saya, jangan sekalipun melakukan ibadah dalam bentuk apapun itu termasuk mendekat kepada orang yang sedang melakukan ibadah kepada Tuhan, kamu secepatnya harus menjauh dari orang-orang seperti itu atau jika tidak maka efeknya akan jauh lebih daripada ini." Ultimatum Tukijan.


"Ok pak ok saya akan melakukan apa yang bapak katakan tapi gimana dengan leher saya pak ? tidak mungkin saya keluar seperti ini."


"Kamu tenang saja, selepas saya pergi dari kamar kamu maka secara cepat leher kamu akan kembali seperti semula tapi ingat jangan pernah kamu bertindak ceroboh lagi."


"Iya pak, saya akan lebih berhati-hati."


Benar saja tak lama Tukijan menghilang dari hadapannya seketika rasa gatal dan memerah yang ia rasakan di lehernya tadi seketika sudah tidak terasa lagi. Kondisi lehernya juga sudah kembali seperti sedia kala.


"Wiihh iya bener, dukun tuh pergi langsung hilang dah rasa gatal dileher aku. Untung aja bisa hilang kalo gak ,pasti malu banget aku, masa iya wajah cantik leher burik idih amit-amit." Sezha bercermin dan sumringah ketika melihat lehernya sudah sembuh.


Sezha sumringah juga dirasakan oleh Tukijan yang saat ini sudah ada dirumah. Ia juga senang karena mendapatkan orang yang bisa ia sesatkan dari agama sebab Sezha awalnya ragu kini benar-benar meyakini kalo Tukijan bisa membantu permasalahan yang Sezha alami.

__ADS_1


Karena Tukijan telah berhasil menyesatkan seorang manusia untuk lupa dengan agama, ia pun memberitahukan kepada Ratu Ajeng tentang keberhasilannya.


Tukijan tidak memanggil Ratu Ajeng, ia hanya sekedar membuka komunikasi dengan Ratu Ajeng.


Tukijan masuk ke kamar khusus, nuansa kamar ini keseluruhannya berwarna hitam karena Ratu Ajeng menyukai warna hitam.


Tukijan membakar dupa dan meletakkan bunga tujuh rupa untuk membuka komunikasi dengan Ratu Ajeng.


"Sembah abdiku Ratu Ajeng. Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu jikalau aku mendapatkan satu orang manusia untuk menjauh dari ajaran agama. Aku berharap kau senang dengan apa yang aku sampaikan. Pamitku Ratu Ajeng."


Usai menyampaikan itu kepada Ratu Ajeng, asap dupa yang ia bakar tadi ikut padam sebelum Tukijan membuka kedua matanya. Tak lama diatas meja pesugihannya muncul banyak selembaran uang 100ribu.


Tukijan membuka matanya, ia sangat senang karena Ratu Ajeng memberikannya uang sebagai imbalan dari keberhasilannya.


"Terimakasih Ratu Ajeng, terimakasih. Sembah abdiku selamanya padamu sampai akhir hayatku." Tukijan mengucapkan ikrar janji setia kepada Ratu Ajeng.

__ADS_1


__ADS_2