MAMA

MAMA
Bab 4


__ADS_3

Hari ini aku dan suami berencana mengecek kandungan ke Rumah Sakit Ibu dan Anak, ini adalah bulan kedua di masa kehamilanku, masih begitu ringkih dan tak bertenaga, hanya semangat dan kekuatan darinya yang membuatku terlihat baik-baik saja.


Sepanjang perjalanan aku mengalihkan pandanganku ke arah samping kaca mobil, menikmati perjalanan di tempat kota kelahirannya. Tentu saja masih asing bagiku, pernikahan yang baru berjalan 5 bulan ini masih belum cukup untukku menghafal jalan dan berbagai tempat di kota ini.


Alunan musik klasik di stel untuk menemani perjalanan kami, tangannya menggenggamku hangat, tetapi pandangannya fokus ke arah depan. Sesekali rasa mual menguar, ia memijit tengkukku, ku buka kaca mobil perlahan, membiarkan semilir angin menerpa wajahku, ku tahan perut yang mulai terguncang, wajahnya panik mencemaskanku, ia memarkirkan mobil ke tepian jalan, lalu keluar mobil dan membukakan pintu ke arahku, menuntunku keluar.


"Bunda baik-baik kah? ", ujarnya.


Aku menggeleng pelan, memegang perut dan memuntahkan seluruh isinya.


Ia memberikanku minyak angin, menggosok-gosokkan tangannya ke telapak tanganku yang menggigil.


Perutku kini benar-benar kosong, perih sekali rasanya.


Ia memberikanku susu yang dia ambil dari dalam tasnya, ku teguk perlahan, tapi lagi-lagi rasa mual tak bisa ku elak..


'Uuuuuuuuuueeeeek' cairan putih keluar dari mulutku, rasa masam memenuhi rongga tenggorokan hingga ujung lidah. Buliran bening merembes di celah pipi, ada rasa tak kuat dari dalam diri ini, lemah sekali rasanya menahan mual yang tak ada redanya..

__ADS_1


Suamiku membantuku berdiri, tapi tiba-tiba diri ini tak bertenaga, mataku berkunang-kunang, gelap pekat, berat sekali beban di kepala, seperti ada bongkahan batu besar menimpuk tengkukku, sampai akhirnya aku tak merasakan apa-apa lagi.


....


Aku membuka mata perlahan, ruangan serba putih mendominasi seluruh bagaiannya, ada rasa ngilu d punggung tangan kiriku, ku lirik sebentar, Ya Tuhan, selang infus telah terpasang rapi di sini.


Ku sapu seluruh ruangan, tak ada siapa-siapa batinku.


Ku coba untuk duduk menyandarkan tubuh lebih tinggi, tapi kepala ini masih terasa nyeri untuk di gerakkan.


Pintu terbuka, ku lihat suamiku datang membawa dua kantong putih entah apa aku tak tahu isi di dalamnya, terlihat raut cemas disana.


Dia buru-buru menujuku.


"Bunda sudah bangun sayang?, sekarang apa yang bunda rasain? ", ia mengusap wajahku lembut.


"Kepala bunda pusing banget yah. Badan rasanya ga bertenaga", aku memegang kepala yang terasa berdenyut.

__ADS_1


"Iya bundaa... Bunda harus banyak-banyak istirahat, ga boleh capek ya.", ia mencoba berbicara perlahan.


" Tadi dokternya bilang, kalau bunda anemia, terus asam lambung bunda naik karna dari kemarin-kemarin bunda mual dan muntah terus, jadi makanan susah masuk sayang. Bunda juga ga boleh banyak pikiran ya. Tapi selebihnya bayi kita alhamdulillah kondisinya baik-baik saja. Cepet sehat dan semangat sayang ya", ujarnya sambil mengecup keningku.


Aku mengangguk mentapnya. Ada semangat menguar ketika ia mengatakan 'Bayi kita', ya Tuhan bahkan aku masih tak percaya sebentar lagi kami akan menjadi orang tua.


Ku tatap manik matanya dalam, terasa ada getaran cinta yang besar di dalamnya.


Hingga kami tak sadar ada ketukan pintu membuyarkan tatapan kami.


Dokter beserta perawat masuk ke ruangan, mengecek kondisiku yang belum begitu pulih. Ia berbincang-bincang dengan suamiku sambil sesekali menoleh ke arahku, aku tak begitu mendengarkan percakapan mereka, hanya yang ku tahu aku belum di izinkan untuk pulang hari ini.


Setelah mengganti botol infus dan menulis beberapa catatan, Dokter dan Perawat permisi kepada kami, mereka tersenyum ramah menyemangatiku. Kami mengangguk dan mempersilahkan mereka keluar ruangan untuk menuju ruangan lain.


Suamiku telah menghubungi orang tuanya bahwa aku belum bisa pulang hari ini. Tapi aku melarangnya mengabari orang tuaku di seberang pulau sana. Aku hanya tak ingin mama mengkhawatirkan kondisiku saat ini.


....

__ADS_1


__ADS_2