MAMA

MAMA
Bab 88


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Sezha masuk begitu saja dan tanpa mengucap salam. Ia langsung menuju ke kamarnya lalu mengunci pintu kamar.


Ia memperhatikan setiap sudut kamarnya yang sama sekali tidak berubah mulai dari ia pergi ke persinggahan itu.


"Sepertinya ibu masih membenciku, menginjak kamarku aja ibu tidak sudi. Apa ibu lupa kalo dia memiliki satu orang anak perempuan, kalo boleh memilih sebaiknya aku tidak usah dilahirkan. Aku ingin sekali mengakhiri hidup tapi aku gak mau makin buat ayah sedih dengan kehilangan aku." Sezha berbaring di ranjang sembari menatap langit-langit atap kamarnya.


Sezha termenung membayangkan hidupnya yang menyedihkan begini, tanpa ia sadari bulir air mata menetes di pelupuk mata.


Sezha ingin memilih jikalau saja ia tidak berhubungan dengan Deon yang sudah berkeluarga pasti ia tidak akan di benci oleh ibunya.


"Hidupku menjadi seperti ini dikarenakan laki-laki baji*gan itu. Aku harus membalasnya, aku tidak akan membiarkan hidupnya tenang. Anak ini harus memiliki seorang ayah. Deon, aku bersumpah akan membuatmu menderita dan ku pastikan kau mempertanggung jawabkan perbuatan kotormu, ya aku harus menemukan laki-laki breng*k itu." Sezha yang tadinya sendu mendadak berubah meluapkan kebencian terhadap Deon.


Sezha menyeka air matanya, sorot matanya dipenuhi rasa ingin membalas. Sezha belum menyadari jika janin yang ada di rahimnya telah tiada. Ia mengira jikalau janinnya masih berada di dalam rahimnya.


Sebab bulek dan Nova belum memberitahunya.


Ditengah rasa amarahnya kepada Deon, Sezha kembali mendengar suara tangisan bayi. Suara tangisan menggema diseisi kamar Sezha.

__ADS_1


"Oekkk....oekk...oekkk"


Wajah Sezha seketika berubah paranoid, deru nafas Sezha tak beraturan.


"Suara bayi itu, kenapa ada dikamarku ?" Keringat dingin bercucuran membasahi wajah Sezha.


Perasaan Sezha sangat was-was sambil menyapu tiap sudut di kamarnya.


"Pergi kau bayi setan ! aku tidak ada hubungan apapun denganmu. Pergi ! jangan ganggu hidupku lagi." Sezha bersembunyi dibalik selimut dan menutup telinganya dengan bantal.


"Oekkkk....oekkk....oekkkkkkk." Suara tangisa bayi melengking.


Mendengar suara bayi semakin dekat, ia semakin histeris bercampur syok.


"Pergiiii !! aku bilang pergi !!" Sezha teriak histeris sambil melempar bantal ke sembarang tempat.


Suara tangisan bayi pun menghilang sudah tidak terdengar lagi berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Karena sudah tidak terdengar lagi, Sezha mengintip dari celah selimut yang menutup wajahnya.


Sezha ingin memastikan jika suara tangisan bayi itu benar-benar tidak ada lagi.


Namun ia salah, memang suara tangisan bayi itu menghilang tapi ia melihat sesosok bayi yang masih berlumuran darah dengan tali pusar terburai sedang terbaring diatas ranjangnya.


Perawakan sosok bayi ini begitu sangat kecil kira-kira sebesar botol minuman air mineral.


Melihat jelas sosok bayi ini yang entah muncul dari mana membuat tubuh Sezha membeku tidak dapat bergerak, irama jantungnya berdetak tak keruan, ia kesulitan untuk bernafas, suaranya juga terasa tercekat ditenggorokkannya. Sezha membelalakan kedua bola matanya penuh. Ia tidak mempercayai jika ia melihat sosok bayi yang beberapa hari ini selalu menghantuinya.


Sosok bayi mengarahkan wajahnya ke arah Sezha yang seakan sosok bayi mengetahui jika ibunya sedang mengintip dari celah selimut.


Sosok bayi menyeramkan ini menoleh kearah Sezha sambil menagis sekuatnya.


"Oekkkkkk......oekkkkkk...!!"


Suara tangisannya begitu bertambah sangat melengking dari yang tadi.

__ADS_1


__ADS_2