
Usai membuang Sezha ke semak-semak, Ratu Ajeng menyuruh Mak Iyem' untuk para antek-anteknya agar meninggalkan dirinya dan Mak Iyem saja.
"Iyem, suruh mereka meninggalkan tempat ini. Aku akan menyerahkan sesuatu yang sangat paling kau inginkan."
"Baik Ratu."
Mak Iyem mundur masih dengan posisi bersimpuh, ia mengambil posisi hampir dekat dengan Hanifah dan Desi.
"Kalian pergi masuklah, perintahkan mereka juga untuk ikut masuk, aku masih belum selesai dengan Ratu
"Njih Mak."
Desi dan Hanifah pun beranjak masuk kedalam persinggahan. Begitu mendekati pintu masuk, Desi menepuk tangannya sebanyak 2kali, ini bahasa isyarat bagi para mayat hidup.
Mendengar tepukan tangan dari Desi benar saja secara serempak para mayat hidup ini seperti di giring untuk masuk tanpa harus memakai bahasa lisan.
Sekarang hanya tinggal Ratu Ajeng dan Mak Iyem' saja.
"Iyem mendekatlah padaku."
__ADS_1
Mak Iyem berjalan jongkok mendekat kearah Ratu Ajeng.
Saat ini jarak Ratu Ajeng dan Mak Iyem' sudah dekat hanya berjarak kira-kira 2 langkah saja.
"Karena kau melakukan semua yang sudah aku perintahkan, maka malam ini aku akan menyerahkan satu permata hitam miliku kepadamu."
Mendengar ucapan Ratu Ajeng bahwa ia akan diberikan sebuah permata yang memang sejak lama di inginkan oleh Mak Iyem', ekspresi wajah Mak Iyem begitu sumringah.
"Nyembah Ratu Ajeng." Mak Iyem bersujud di hadapan Ratu Ajeng saking senangnya.
"Tapi ingat, selama kau memakai permataku ini kau harus melakukan dua syarat yang dapat menjaga kesaktian dari permata hitamku ini, karena jika tidak kau lakukan maka seketika itu juga permataku akan menghilang dari tubuhmu dan tak lama seluruh kulit tubuhmu akan dengan cepat berubah menjadi keriput." Peringatan dari Ratu Ajeng.
"Pertama, jangan pernah sekalipun kau lupa jika sudah masuk tepat tengah malam untuk membasuh wajahmu dengan air yang sudah di campur dengan darahmu sendiri, beri air itu 4 tetesan dari darah kemudian secepatnya kau basuh wajahmu.
Kedua, 4 bulan dari kau menerima permata hitamku ini, maka di bulan keempat tepat tanggal genap di awal bulan, kau harus kembali memakan janin yang belum terbentuk sempurna, dan kau harus menelan tanpa mengunyah sama seperti yang kau lakukan tadi. Apa sudah kau mengerti ?" Ratu selesai menjelaskan.
"Nyembah Ratu Ajeng, hamba sudah sangat mengerti kedua syarat itu."
"Bersiaplah, angkat wajahmu dan tatap wajahku tapi pejamkan kedua matamu." Titah Ratu Ajeng.
__ADS_1
Mak Iyem mendongakkan kepalanya menghadap Ratu Ajeng dengan mata tertutup.
Ratu Ajeng mengambil satu permata hitam dari mahkota miliknya. Mahkota Ratu Ajeng memiliki 4 buah batu permata hitam. Ratu Ajeng memberikan kepada Mak Iyem karena Mak Iyem dinilainya sudah menjadi pengikut setianya sejak lama, Mak Iyem' rela mengorbankan suami dan kedua anaknya untuk ritual persembahan kemudian Mak Iyem' juga bersedia menelan janin mentah-mentah.
Batu permata hitam itu sudah ada ditelapak tangan Ratu Ajeng.
Ratu Ajeng meniupkan batu permata hitam itu tepat menuju ke dahi Mak Iyem'.
"Buka matamu, batu permata hitam miliku sudah aku tanam ke dalam dahimu."
Mak Iyem membuka kedua matanya perlahan.
"Nyembah Ratu Ajeng, terimakasih atas pemberian yang sangat berharga ini. Hamba akan menjaga permata ini dengan segenap jiwa dan raga hamba."
"Hmmm. Kalo begitu aku harus pergi. Lakukan kedua syarat yang ku sebutkan tadi, ingat jangan sampai kau lupa." Ratu Ajeng kembali memperingatkan.
"Baik Ratu, akan hamba ingat di dalam kepala hamba."
"Bagus."
__ADS_1
Ratu Ajeng pun menghilang dari hadapan Mak Iyem'.