
Sezha dan Deon telah selesai makan siang. Mereka berdua pun berjalan dimana mobil Deon terpakir.
Saat akan menaiki mobil, dari arah sebrang jalan ada yang memanggil Sezha.
"Sezha !"
Walaupun dari jauh, Sezha mengetahui kalo yang memanggil dirinya tak lain adalah Arin.
Sezha sama sekali tidak ingin menoleh ke belakang, ia pura-pura tidak mendengarnya.
"Mas, buruan donk aku ngantuk banget ni."
"Tapi kayaknya itu temen kamu deh. Mas denger kalo dia panggil kamu tadi."
"Biarin aja mas, males aku. Yuk buruan pulang." Desak Sezha.
"Yaudah deh kalo itu mau kamu." Deon segera menyalakan mesin mobilnya dan langsung meninggalkan area rumah makan ini.
Ketika Arin hendak menghampiri Sezha tidak jadi sebab Sezha sudah pergi.
"Yaelah sombong amat Sezha, dipanggil juga pura-pura gak denger. Mentang-mentang punya cowok om-om dah sombong." Arin mendengus kesal.
__ADS_1
Arin melanjutkan perjalanan pulangnya. Sesampainya dirumah Arin menelpon Nova.
Sampai 3 kali Arin menghubungi Nova tapi tidak dijawab oleh Nova.
"Astaghfirullah ni orang kemana sih, nomor ponselnya aktif tapi gak diangkat-angkat."
Arin kembali berdecak kesal, karena sambungan teleponnya tidak diangkat oleh Nova.
"Mending tidur siang aja, palingan nanti juga Nova liat panggilan tidak terjawab, hoammmm."
Belum lama Arin memejamkan mata, ponsel Arin berdering cukup keras.
Arin dengan mata setengah terbuka meraih ponsel yang ia letak tepat dibawah bantal.
Arin : "Ya, hallo ini siapa ?" Tanya Arin dengan suara parau ciri khas orang yang belum sepenuhnya sadar.
Nova : "Ni aku Nova, ada apa tadi kamu nelpon aku ?"
Arin : "Oh kamu Nov, ntar aja deh, aku ngantuk banget ni."
Nova : "Lah, yaudah deh lanjut tidur sono. Wassalamu'alaikum.
__ADS_1
Arin : " Waalaikum salam, bye Nov. Hoammmm."
Panggilan telpon terputus.
Arin segera tergugah dari rasa kantuknya, sebab ia baru sadar kalo tadi itu Nova.
"Astga.. ya Allah, be*o amat aku dah. Kan tadi aku mau ngomong sama Nova. Ck telpon lagi deh coba, moga aja Nova masih bisa di telpon balik." Arin menepuk jidatnya karena baru sadar.
Arin mencoba hubungi kembali nomor ponsel Nova, tapi sayang tidak dijawab oleh Nova.
"Tuh kan, hadeh. Yaudah deh, ntar sore kerumahnya lagian gosip di ponsel kurang asyik. Kalo live kan seru."
Disela Arin sibuk dengan ponselnya, terdengar dari luar rumahnya suara bayi menangis.
"Oekkk...oekkk...oekkk..."
Arin merasa jika di dekat rumahnya tidak ada yang memiliki seorang bayi, ia merasa heran dengan adanya suara tangisan bayi.
"Suara bayi ? siapa yang baru melahirkan ya ? hm perasaan gak ada deh sekitar rumahku yang punya anak bayi ( Arin mempertanyakan asal suara tangisan bayi yang barusan ia dengar). Ach paling tamu tetangga kali berkunjung terus bawa bayi." Arin mengacuhkan, ia membuang rasa penasarannya.
Arin memutuskan untuk melanjutkan tidur siangnya yang sempat tertunda.
__ADS_1
"Lanjut tidur ahhhh..., mumpung ibu gak ada dirumah jadi bebas, moga aja ibu ngerumpinya sampe sore bila perlu sampe malam sekalian pfftttt, dasar emak-emak zaman sekarang kalo ngegibah pasti lupa waktu ( Arin merasa lucu ketika membayangkan ibunya sedang ngerumpi dengan ibu-ibu di dekat rumahnya ). Eh tapi nanti sore kan aku mau pergi kerumah Nova, kalo gak izin sama ibu nanti ibu kehilangan anak gadisnya yang paling cakep serumah ini." Arin berbicara sendiri dikamar sembari memuji diri sendiri.